Aruna duduk di tepi tempat tidurnya. Sejak Calvin keluar dari ruangan itu, Aruna hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katanpun walaupun saat itu dihadapannya telah ada Keenan. Aruna melihat ke arah kalender yang ada di sampingnya. “Apakah besok aku boleh pulang, Keenan?” tanya Aruna saat Keenan sedang menemaninya makan siang. “Pulang? Kamu ingin bertemu dengan Calvin?” “Bukan, aku ingin pulang ke rumah orangtuaku. Lusa adalah peringatan hari kematian ayahku, rabu depan merupakan hari peringatan ibuku dan sabtu depan merupakan hari kematian ayah mertuaku. Aku ingin berziarah pada hari itu,” jelas Aruna. “Tentu saja boleh. Hari ini merupakan suntikan terakhirmu di siklus pertama kemoterapimu. Mulai besok kamu sudah memasuki masa istirahatmu sampai dua minggu ke depan.” “Syukurlah.”

