Sebuah perbedaan

1859 Kata
More and more day I do not know myself. I hate myself, sorry~Hidden Tertidur selama 15 menit, dering jam Beker membangunkan Cleyrin dari tidurnya. Seakan mengingatkan ada kegiatan yang harus segera Cleyrin lakukan,apa boleh buat Cleyrin langsung bangkit dengan menguap lebar. Cleyrin berjalan gontai membuka gagang pintu kamarnya menuju dapur sekedar mengisi tenggorokannya yang sudah sangat kering. Cleyrin langsung meneguk air putih segelas,menstabilkan detak nafasnya yang masih ngos-ngosan akibat dari menelusuri anak tangga dengan kecepatan seorang vampir. Beginilah kebiasaan buruk Cleyrin, orang-orang rumah juga cukup heran melihat Cleyrin, gadis itu mampu langsung bangkit dari tidurnya tanpa mengalami darah rendah dengan tindakan terburu-buru tersebut. Meregangkan otot-otot tubuhnya sebentar lalu kemudian membuka bola matanya secara perlahan, sedari gadis itu masih menyipit menstabilkan cahaya yang masuk ke retina matanya. "Where is the plastic bag?" Cleyrin berbicara dengan dirinya sendiri. Sangking jarang nya ke dapur selain untuk mengambil minuman dari kulkas, Cleyrin bahkan tidak tahu letak-letak barang disini. Walau seribu kali tata ruang di dapur diubah, mungkin gadis itu tidak akan sadar. Dapur rumah bukan jalan-jalan Cleyrin, kehidupan gadis itu adalah diluar ruangan. "Huh!" Kesalnya karena tak kunjung menemukan kantong plastik. s**u pisang dan keripik singkong yang ingin dia bawa ketempat kerja nanti sebagai cemilan kembali dia masukan ke dalam kulkas. "Dapur ini cukup meresahkan,apa salahnya menggantung kantong di luar ruangan,apa dia tau kalau Cleyrin ga punya paper bag?" Cleyrin mengumpat sambil berjalan menuju kamarnya. Tak lama gadis itu telah siap dengan celana jeans pendek dan Hoodie hijau kesukaannya. Seperti biasa,menulusuri anak tangga dengan langkah cepat, sampai dia tidak menyadari seorang gadis yang persis sama dengannya sedang menatap setiap gerak-gerik yang Cleyrin lakukan. "Mau kemana lagi Cleyrin?" Tanya Clayrin lemah. Suaranya berubah menjadi sangat serak padahal tadi pagi masih baik-baik saja menurut pandangan Cleyrin. Saudara kembarnya itu memang cukup lemah, Cleyrin jadi malu mengakuinya sebagai kembaran. Tidak bisakah dia meniru bagaimana kuatnya seorang Cleyrin? Dasar lemah. Cleyrin sibuk menguncir rambutnya dia bahkan tidak beralih pada gadis yang sedang mengintimidasinya walau sekilas. "Cleyrin,Lo pergi kerja lagi? Kan udah gue bilang, Mama sama Papa masih sanggup biayain semua kebutuhan kita. Lo ga per---" "Apa? Ga perlu kerja?" Potong Cleyrin sebelum Clayrin selesai berbicara. Cleyrin berbalik menatap Clayrin dengan tatapan datar, seperti biasanya. "Mama sama Papa cuman biayain semua kebutuhan Lo, bukan gue. Semua yang Lo inginkan,bukan gue. Mereka aja ga ngelarang gue kerja kan? Itu tandanya mereka ga peduli jadi siapa Lo ngatur gue? sedangkan orang yang harusnya ngatur-ngatur hidup gue aja ga peduli," Cleyrin tersenyum miris, bukan pada Clayrin tapi pada dirinya sendiri. "Bukan gitu Cleyrin. Mam---" "Udah-udah, apapun yang Lo bilang intinya gue ga peduli. Lo urus hidup Lo sendiri dan gue urus hidup gue sendiri. Gue ga suka diatur, apalagi sama Lo," Kembali Cleyrin memotong ucapan Clayrin. "Harusnya Lo sadar bukan malah ngelunjak," Desis Cleyrin. Cleyrin menghempas tangan Clayrin dari lengannya. Clayrin lagi-lagi menahannya untuk tidak pergi. Entah apa isi kepala kembarannya itu. Bukankah mereka saling membenci? Kenapa sikap Clayrin seakan tidak mau Cleyrin pergi. Padahal di rumah juga mereka enggan walau sekedar bertegur sapa saja, mereka sama-sama tidak sudi. Clayrin tersungkur kebelakang karena dorongan Cleyrin yang terbilang sangat kasar untuk tubuhnya yang sangat lemah. Clayrin mengadu kesakitan sehingga membuat langkah gadis yang ingin pergi itu mendadak berhenti. Memutar bola matanya malas "DASAR lemah," Kesal Cleyrin kembali memutar langkahnya mendekati Clayrin. "Mana yang sakit?" Tanya Cleyrin jutek. Clayrin dengan mata yang awalnya berair tersenyum kecil. "Gapapa kok,gue baik-baik saja." Jawab nya. "Yaudah gue pergi dul---" "Jangan pergi," Tahan Clayrin lagi. Matanya kembali memerah,wajahnya dibuat semenyedihkan mungkin berharap Cleyrin akan iba dan membatalkan niatnya untuk pergi padahal hal itu samasekali tidak berlaku untuk Cleyrin yang keras kepala. Cleyrin tak habis pikir dibuatnya. Sifat manusia di depannya ini tergolong 4D, sangat membingungkan untuk Cleyrin yang suka to the point. Pantas saja kedua orangtuanya sangat menyayanginya, mungkin ini adalah salah satu trik jitu yang dia kenakan. "Gue ga ngerti sama isi otak Lo, intinya gue ilfeel tau nggak!" Suara Cleyrin meninggi. "Lo tau sendiri kan kalau uang saku antara gue sama Lo itu beda, atau lebih tepatnya gue ga dapat uang saku lagi. Jadi kalau gue ga kerja,gue dapat duit dari mana,hah? Dari Lo? Sanggup Lo biayain kebutuhan gue yang tergolong diatas rata-rata setara dengan artis papan atas?" "Gue akan bilang sama Mama un--" "Ga perlu, Clayrin--- gue ga perlu," Jawab Cleyrin cepat seakan mengerti kelanjutan pembicaraan kembaran nya itu. "Gue ga butuh bantuan Lo, gue bukan cewek lemah yang dalam hal kecil aja butuh bantuan orang lain," Ucapnya. "Semua uang saku gue buat Lo, gue bisa minta lebih dari Papa nanti," Clayrin lagi-lagi tidak mau kalah. Senyuman sinis dari Cleyrin kembali muncul mendengar ucapan Clayrin barusan. "Enak ya jadi anak kesayangan," Cleyrin menekan kata-katanya. "Lo ga lupakan sama Album gue, Lightstick, PC,dan masih banyak lagi barang-barang gue yang dihancurin sama Papa? Mama sama Papa membuang semuanya seakan hal itu tidak berguna. Karena apa? Karena Lo Clayrin!! karena Lo yang tukang ngadu." Cleyrin mengungkit masa lalu. "Kebahagiaan diantara kita berdua itu beda. Emang Lo sanggup memenuhi segala kebutuhan gue? Gue orangnya boros,semua uang gue jatuhnya ke barang-barang kesayangan gue bahkan saat semuanya hancur lebur gue masih ngulang dan memulai dari awal. Begitulah gue diciptakan dan Lo ga akan mampu memenuhi ekspektasi tinggi gue," "Dengan Lo ngasih semua uang saku Lo sama gue terus Lo minta lebih sama Mama Papa,mereka ga akan curiga gitu? Walau Lo memang anak kesayangan mereka mereka pasti akan curiga. Setelah mereka tau segalanya lagi dan lagi mereka pasti akan menghancurkan kebahagiaan gue lagi takutnya itu karena Lo lagi, Clayrin. Lo itu sumber kehancuran gue Clay, Lo perlu camkan itu." "Jadi lebih baik Lo simpan uang Lo dan kembali seperti awal. Kita itu saling membenci satu sama lain dan itu lebih baik buat gue. Gue ilfeel kalau harus dekat lagi sama Lo. Okey, gue pergi dulu," Setelah mengucapkan curahan hatinya Cleyrin melangkahkan kakinya pergi. "Eh gue lupa!!" Cleyrin memukul kepalanya pelan. Clayrin yang sedari menunduk memberanikan diri menatap Cleyrin. "Ngapain Lo ke UKS tadi? Lo sakit lagi? Dasar lemah," Sindiran dengan terang-terangan dilakukan oleh Cleyrin. Kata-kata terakhir dari Cleyrin mungkin sangat menyakitkan tapi entah kenapa Clayrin sedikit senang. Itu tandanya Cleyrin masih peduli dengannya bukan? "Kepala gue sakit tapi gapapa kok," Jawab Clayrin seadanya. "Oh," Tidak seperti yang diharapkan. Cleyrin tidak benar-benar peduli dengannya hanya sekedar menanyakan apa Clayrin sudah baik-baik saja tidak Cleyrin lakukan. Hanya OH dan itu sangat menyedihkan untuk didengarkan. "Lo ga usah berpikir berlebihan tadi gue ga sengaja lihat lo,intinya gue juga ga peduli. Muka Lo pucat, minum obat sebelum Lo mati,gue ga punya sisa air mata hanya untuk menangisi mayat Lo nanti."Ucap Clayrin kemudian pergi, benar-benar pergi. Clayrin tersenyum kecil. Adik kecilnya tidak berubah sedikitpun. Mereka memang saling membenci sekarang tapi tidak dapat di pungkiri kalau mereka adalah dua saudara kandung yang memiliki ikatan. "sorry, I took everything from you, Cleyrin...." Ujar Clayrin dalam hati. "Maaf kalau gue adalah sumber masalah buat Lo, Cleyrin--- gue sayang sama Lo walau kadang gue juga benci sama Lo," ujarnya. ******* Clayrin merebahkan tubuhnya di sofa. Rumah berlantai tiga ini teramat sepi. Sang pemilik rumah seakan tidak betah berlama-lama disini sehingga hanya ada dirinya sendiri dan sepi. Pembantu rumah tangga,satpam, supir, tukang kebun,Clayrin hanya melihat mereka saja setiap hari. Bukan Clayrin tidak senang tapi Clayrin lebih ingin melihat mereka yang sangat dia sayangi seperti Mama, Papa dan kembaran nya Cleyrin. Terbiasa sendiri tidak membuat Clayrin berhenti untuk berharap berbeda dengan Cleyrin yang sejak awal sudah berhenti untuk itu, Cleyrin nyaman dengan dunianya sendiri. Bagi Cleyrin kehidupan sendiri jauh lebih baik daripada berharap akan hal-hal yang tidak pasti. Clayrin tersenyum manis menatap kearah ponsel nya. Mengetik disana, dia tak berhenti untuk tersenyum. Tak lama gadis itu beranjak dari tempatnya kemudian berlari keluar. Melupakan sakitnya barusan atau bahkan sakit itu tidak pernah ada. "When did it come? I really miss you..." Gadis itu bergelut manja dalam pelukan seorang cowok bertubuh tinggi setelah dia sampai di lantai bawah. Cowok itu hanya bisa membalas pelukannya seraya mengacak-acak rambut panjang gadisnya. Darel Geotama, cowok yang berstatus sebagai pacar dari Clayrin. Cowok bertubuh tinggi, putih dan tentunya dengan lesung Pipit di wajah tampannya. Seakan pertemuan di antara mereka adalah sebuah takdir, keduanya saling mencintai dengan komitmen yang mereka bangun. Cantik dan ganteng, berprestasi,dan lesung Pipit. Banyak kesamaan di antara keduanya, semesta pun pasti akan sangat setuju dengan hubungan ini. Hubungan yang sudah terjalin hampir dua tahun itu berjalan mulus. Clayrin yang kesepian mendapatkan segalanya dari sang kekasih,Darel. Tapi semenjak Darel mengikuti program pertukaran pelajar, keduanya menjalani LDR namun hal itu bukan penghalang untuk hubungan keduanya. "You miss me, hmm..? you are okay, right?" Clayrin yang tak kunjung melepaskan pelukannya membuat Darel semakin gemas di buatnya. Darel juga sangat merindukan gadis kesayangan nya itu, sangat senang akhirnya masa pertukaran pelajar sudah selesai. Sekarang tidak lagi ada jarak diantara keduanya bukan Tidak ada rindu untuk bertemu karena sekarang apapun bisa mereka lakukan. "You won't go again right? You will always be here for me?" Tanya Clayrin manja. "Sure, I won't go again. I will always be there for my beloved queen," Jawab Darel cepat. Setelah puas melepas rasa rindu di antara keduanya,Darel menyerahkan setangkai bunga Mawar yang tidak lupa dibeli sebelum menemui Clayrin. Clayrin dengan senang hati menerima nya. "Ga mau masuk dulu?" Darel mengeleng kepalanya "Aku pulang dulu ya, besok aku jemput kamu," Ucap nya manis. "Ga bisa mampir sayang, besok saja ya," Sambung nya. Clayrin mengangguk kecil,bibirnya dimanyun-manyunkan. "Yaudah,sampai jumpa besok, sayangku." "Jangan sedih gitu dong. Nanti cantiknya hilang Lho, Goda Darel. Kembali mengacak gemas rambut Clayrin. Clayrin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahaya jika Darel tahu sekarang wajahnya memerah menahan malu sekaligus bahagia. Sudah lama dia tidak mendapatkan perlakuan manis ini. "Yaudah pulang sana," Usir Clayrin kemudian berlari memasuki rumahnya. Darel tersenyum lebar, lesung Pipit nya semakin dalam melihat punggung gadis itu sudah menghilang, Darel menaiki motornya dan melaju pergi. "Aku mencintaimu, Clayrin." ******* Berbeda nasib dengan gadis yang satunya, Cleyrin. Keringat bercucuran di dahi nya, wajah putih berseri itu berubah menjadi sedikit kemerahan. Gadis dengan bahu kuat itu memang sangat berbeda. Memilih bekerja di sebuah toko buku pada siang hari dan saat malam tiba dia lanjutkan pada sebuah Cafe terkenal di kota ini. Tidak mengenal lelah, gadis itu sangat menyukai pekerjaan nya. Rumah bagai neraka untuk nya dan mencari kesibukan sendiri adalah ketenangan semata. Awalnya hanya coba-coba saja namun lama-kelamaan menjadi sebuah kebiasaan yang sangat dia gemari. Cleyrin mengeluarkan ponselnya. Senyum manis mengembangkan dari sudut bibirnya. Haechan update. "Bahagia nya, hahaha" Lirih Clayrin terang-terangan. Sederhananya kebahagiaan gadis itu cukup melihat bias-nya update. Setelah bergabung dengan fandom hijau itu,rasanya banyak yang berubah. Apalagi manusia yang dipanggil Haechan itu. Mood maker online yang selalu berhasil membuat Cleyrin tertawa. Senang rasanya hanya dengan melihat wajah itu saja dapat menghilangkan rasa sepi di hati Cleyrin. Terlebih lagi Cleyrin yang pernah ikut fansign online. Rasanya dunia baik-baik saja, walau kadang realita sering membangunkan nya dari hal yang terdengar fana untuk dijalani. Tapi untuk saat ini, mungkin ini adalah dunia untuk Cleyrin. Tidak ada salahnya mencintai sebuah ekspektasi karena realita sudah cukup menyedihkan untuk dijalani. "Haechan,asal Lo tau aja!! Karena Lo gue bisa gila dan semangat banget kayak gini," kata Cleyrin senyum-senyum sendiri lalu lanjut bekerja dengan sejuta gembira dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN