Sashi sudah menghabiskan setumpuk shrimp toast yang disajikan saus truffle atas rekomendasi Jamie. Kini perutnya sudah kenyang dan puas namunmereka masih betah duduk di sana. Sementara kafe memutar lagu Bon Jovi yang lawas, sehingga Franky tidak mau beranjak dari tempatnya dan meminta Jamie maupun Sashi untuk menemani dirinya.Karena minumannya sudah habis, Sashi lantas mendatangi waiters untuk memesan hazelnut latte dingin.
Di kafe itu tidak ada lagi orang selain chef yang masih bekerja di dapur dan beberapa waiters.
“Sash, pesenin bir dua botol dong,” kata Franky setengah berteriak. Sashi pun memesankannya ditambah choco lava untuk dirinya sendiri. Ia lalu kembali duduk dan saat itu pula Jeff datang dengan mengenakan kaus Tom & Jerry dan juga celana pendek.
“Ni dia si owner baru dataneg. Kemana aja lo udah gue chat dari tadi,” kata Franky.
“Nemenin babeh main catur. Bosen katanya online melulu,” jawab Jeff sambil melirik Sashi dan choco lava-nya. “Bukannya tadi bilang lagi diet, ga makan malem?”
Sashi tertawa. “Sorry, tadi ga enak aja kalo makan bareng kalian. Takut ganggu suasana kekeluargaan gitu,” jawab Sashi.
Jeff mengangguk. “It’s oke.”
“Kamu suka cokelat?” tanya Jamie melihat Sashi menikmati choco lavanya.
Sashi praktis menjawab. “Suka banget. Sehari wajib makan cokelat atau yang berbau-bau cokelat kayak brownies, cookies, etc. Jadi kalo lagi bete atau butuh inspirasi, paling enak potongin batang cokelat. Aku udah makan cokelat kayak kerupuk.”
“Noted,” kata Jamie sambil tersenyum seakan dia hendak membelikannya untuk Sashi.
Salah satu waiters sudah mengantarkan birnya. Jeff meminta dibawakan juga. “Mbak, Heinekken satu, ya. Bawa gelas juga diisiin es batu.”
“Baik, Pak. Saya proses dulu.”
Sepeninggal si pelayan, Jeff mendengarkan Franky yang sedang berbicara cepat. Temannya itu seakan tidak kehabisan energi. Selalu paling bersemangat mengenai hal apa pun.
“Jeff, coba jawab pertanyaan kita. Lo percaya sama kehidupan pernikahan atau ngga?” tanya Franky.
“Again?” tanya Jeff karena sudah beebrapa kali membahas tentang hal tersebut.
“Setidaknya kita bisa kasih petuah buat kedua anak-anak muda ini. Kalo tadi, gue bilang ga percaya, sementara lo kan udah punya niat mau nikah, jadi tolong deh berbagi, kasih tahu apa manfaat yang bisa diambil dari menikah.”
“There is a lot, selama kamu udah siapin fisik, mental dan finansial.Tapi kalo soal manfaat kalo ingin lebih tepat itu ya tanyain ke Soni karena dia yang udah berpengalaman. Dia nikah muda, punya anak juga. We can see that he is happy with that. Ada berantem kecil sih bukan masalah. Harus pinter-pinter bikin suasana kembali nyaman lagi.”
“Dia baru married berapa tahun sih? Tiga tahunan kalo ga salah kan ya? Kata orang, usia nikah di bawah lima tahun itu emang keliatan adem ayem. Nanti makin lama semakin keliatan sifat buruk pasangan, kebiasaan buruk dan ngelihatin keegoisan dirinya masing-masing. Hal yang susah buat mereka berpisah adalah anak. Mereka rela ngelanjutin hidup bersama demi anak-anak. Which is menurut gue itu aneh banget. Kok bisabisanya karena anak, mereka harus keliatan palsu.”
“Udah minum berapa botol dia?” tanya Jeff pada Jamie dan Sashi sambil menunjuk Franky yang tampak mabuk hingga membicarakan teoeri kemana-mana.”
“Baru botol kedua,” jawab Jamie.
Jeff pun mengerti. “Terus, Frank… lo sendiri gimana? Masih dengan pendirian lo? Ga mau nikah?”
Franky mengedikkan sebelah bahunya. “Maybe suatu hari nanti gue ketemu orang yang bisa ngubah pikiran gue, kayak apa yang Sashi bilang tadi. We don’t know.”
“Are you going married?” tanya Jamie pada Jeff.
“Blom pasti. Lagi menuju ke sana.”
“Gue kayaknya bakalan ngejalanin casual relationship aja. Jadi begitu gue ngerasa hubungan kita ga cocok, ya udah tinggal pergi. Ga banyak drama dan mesti tandatangan surat cerai atau ketemu para hakim. Dan lagi bisa mengurangi kejulidan para warga Indonesia. Biasanya kan gitu. Mreka banyak ikut campur sama rumah tangga orang, nyinyir segala macem, padhal rumah tangganya sendiri berantaakan.”
Jeff tertawa. “Ya pinter pinter lo-nya aja sih kalo itu. Lo gampang kebakar apa cuek aja sama orang-orang di sekeliling?”
Sashi terdiam. Ia juga ingin menikah muda. Ia dulu mempunyai harapan dan ia selalu membayangkan bahwa Jio lah yang akan menjadi pendampingnya kelak. Sashi tidak pernah membayangkan siapapun yang akan duduk di sebelahnya. Ia dulu sangat mempercayai Jio 100% dan hingga sekarang perasaan itu sudah hancur lebur. Sashi menguburnya dalam-dalam. Jika sudah menikah, mungkin saat ini dia sedang frustasi.
“Kamu Sashi, percaya kata ‘menikah’?” tanya Jeff tiba-tiba.
Sashi terhenyak. “O-ohh… yaa, ada beberapa pasangan yang memang berhasil menjalani kehdiupan pernikahan dengan baik. Tapi ada juga yang baru sebentar, udah kena mental. Gue sih lebih ke pembawaan masing-masing dan gimana cara mereka ngatasin masalahnya. Jadi sebelum nikah harus tahu dulu karakter pasangan, apakah saat ada masalah dia mampu memperbaikinya atau membiarkan hal tersebut semakin rusak.”
Franky menimpali, "Kalo misalkan sekarang si Jeff ngajakin lo maried. Mau ga?"
Jeff membersarkan matanya. "Apa sih lo? Ngaco."
"Bercanda. Maksudnya Menurut Sashi, kalo ngeliat Jeff yang sudah dewasa, mapan dan berhati bak malaikat ini cocok buat dijadiin suami ga?"
Sashi mengangguk tanpa ragu. "Sure, setidaknya Jeff udah memenuhi kualifikasi awal."
"Thank you," jawab Jeff. Sementara Franky tampak tertawa.
"Lo kalo jadi married sama si Alina, mau di sini atau Singapore?" tanya Franky.
"Di sini, maybe. Gue baru niat aja, bro. bahkan si Alina aja belom tahu gue mau ngajakin dia nikah. Kemaren kita juga ga sempet ngomongin soal itu. Yang pasti setelah acara ini selesai, bokap nyokap udah balik ke Australia, gue mau nyusul Alina di Singapore buat ngutarain tujuan gue."
"Mantaap..." Franky bertepuk tangan. "Gue sih yakin dia pasti bakalan nerima ga pake waktu banyak.Pokoknya nanti gue mau ngadain after partynya pernikahan Jeff dan Alina. Ya kan, Sash?"
Sashi mengangguk pura-pura bersemangat. "Yaps, of course."
Karena waktu sudah menunjukkan jam dua belas lewat sedikit, akhirnya Sashi pamit tidur terlebih dahulu. "Beso kita lanjut lagi dan ngebahas hal lain yang lebih seru. Hehee..."
"Oke Sash... have a sweet dream," kata Franky.
"Eh, kamu mau aku temenin ke ponsok?" tawar JAmie.