Noni butuh berbicara dengan Sashi untuk menumpahkan semua emosinya. Meski ia merasa bersalah karena temannya itu selalu dijadikannya tong sampah. Tapi Noni benar-benar butuh untuk mengeluh.Supaya semua racun di tubuhnya bisa keluar. Namun sedari tadi ponsel Sashi mati. Akhirnya Noni hanya bisa ngedumel sendiri. Bagaimana ia bisa ribut dengan Wiggy, padahal sehari sebelumnya ia sudah berjanji pada teman-teman kantornya untuk saling menjaga emosi dan menjauhi perang dingin demi House of Skills.
Noni jadi berpikir, apakah dirinya terlalu sensitive hingga apa pun bisa dijadikannya masalah. Ia memang tidak seperti Sashi yang bisa santai meskipun Sashi akan lebih waspada. Noni juga ingin seperti itu, namun sudah karakter dirinya yang harus mengeluarkan emosi pada saat itu juga. Ia sadar setiap orang pasti berbeda dan ia tidak mau memaksakan diri lagi untuk menjadi orang lain.
Ketika sedang cemberut, telepon berdering, ada panggilan dari Sashi.Noni langsung mengalihkannya ke mode video call.
“Haloo, Non. Ada apaan nih missed call sampe empat belas gini? Amana man aja kan di sana?” tanya Sashi
“Aman, kok. Gue aja yang ga aman,” jawab Noni
“Loh kenapa? Lo lagi PMS kali ya?”
“Kayaknya iya, salah satunya. Gue cuman mau nanya, menurut lo, gue annoying ga sih kalo udah protes tentang hal apa pun. Selalu interrupted, ngomel, atau nyablak gitu.”
Sasi tampak berpikir. “Hmmm… selama ini sih gue ga keganggu, karena lo temen gue dan gue udah kenal sama karakter lo. Tapi gatau ya kalo buat yang lain. Karena meskipun gue udah kenal karakter lo, dan tiba-tiba lo marah-marah di depan umum, gue juga suka malu sendiri.”
“Emang pernah y ague marah-marah depan umum?”
“Ga inget kalo lo pernah marahin kasir karena naruh barang yang harganya ga sesuai.”
“Aaaaah… iya iya, gue inget. Ya kan namanya juga gue borong cokelat banyak karena katanya lagi diskon. Eh ternyata yang diskon itu bukan cokelat kesukaan gue, melainkan produk lain. Si kasir atau siapapun itu salah naruh harga. Gimana gue ga kesel?”
Ya boleh aja sih kesel, tapi bisa tegur baik-baik. Tapi ya udah lah itu kan udah berlalu. Ke depannya sih kalo bisa lo control emosi lo.”
“I’ll try,” jawab Noni.
“Emang lagi ada masalah apa? Lo kali ini marahin siapa lagi?” tanya Sashi sambil meminum air putih yang ia ambil dari gallon.
“Sama si Wiggy. Padahal dia udah berbaik hati masangin wallpaper di kamar gue. FYI aja, Jio beli banyak banget wallpaper beda-beda buat di kamar masing-masing. Tujuannya supaya kita lebih semangat kerja. Jadi si Wiggy menawarkan diri masangin wallpaper punya gue.”
“Okay, end then?”
Noni pun menceritakan perihal Wiggy yang tidak memlih wallpaper dan hanya akan mengambil apa yang tersisa. “Entah dia itu terlalu baik atau ga punya kesukaan tersendiri, gue ga ngerti. Orangnya pun mangut-mangut aja. Kemaren si Dixie minta dibonceng ke Bandung, dia mau mau aja. Padahal gue yakin si Dixie cuman modus doang mesti buru-buru pulang akrena mau ketemuan sama temennya. Eh kebukti kan, ternyata dia ga ada ketemuan. Malah nongkrong lagi di sini.”
“Terus lo ngomongin itu sama WIggy?”
“Ya iya lah dan dia ga terima. Kita tadi adu mulut dan gue sekarang nyesel banget, Sash. Gue ga berhak kayak gitu sama dia, karena bukan siapa-siapanya. Gimana gu punya cita-cita buat jadi pacarnya Wiggy, kalo belum ada hubungan aja, gue udah sok ngatur dan protes.”
“It’soke, Non. Wiggy pasti ngerti kok. Kita kan bukannya temenan baru setahun dua tahun. Tapi mendingan lo minta maaf dulu deh sama dia.”
“Oke, nanti gue minta maaf. Dan kayaknya gue ke Bali jadwalnya dimajuin aja kali yaa… udah keburu stress gue di sini.”
“Bebas. Kasitahu aja kalo lo udah dapet jadwal. Gue langsung izin cuti lagi sama si Robert.”
“Gilaa… baek bener puny abos rajin ngaish cuti.”
“Heheheh previlege yang hanya gue punya.”
***
Ada yang membunyikan bel ketika Sashi sudah selesai ebrbicara dengan noni di telepon. Ternyata Wayan.
"Kak, ada tamu."
Sashi pun melihat ke samping, ternyata Robert ada di sana. "Ohhh elu. Ih gue sampe lupa kalo lu mau dateng hari ini. Gue kira bohongan."
"Aduh plis deh ah masa bohongan. Lo udah makan siang?"
"Belom, gue baru aja bangun, terus beres telponan sama temen di Bandung. Duduk dulu deh, gue mau mandi terus kita ke restoran ya. Lo harus cobain masakan-masakannya. Enak smeua!"
"Okii..."
Sashi membersihkan diri dengan cepat. ia bersemangat karena Noni akan datang. Sashi benar-benar rindu bisa bercengkrama dengan seorang sahabat. Mengobrol hingga tertawa klepas, membahas apa pun, skin care-an bareng, pajamas party, atau sekadar nonton Netflix. Setelah selesai mandi, ia langsung memilih pakaian longgar berupa kaus dan celana pendek yang nyaman.
"Yuk, Rob. Lo lagi laper banget ga?"
"Lumayan, gue tadi cuman sarapan kue soes doang sama susus segelas."
"Bagus. Masuk ke restoran ini emang lebih enak dalam keadaan perut kosong."
Keduanya pun berjalan perlahan, Robert banyak memuji pemandangan dan suhu udaranya yang bersih karena dikelilingi pepohonan. Ia memastikan, ini bukan kali terakhir dirinya menginjak Rosie & Riley's Cottage.
Sesampainya di sana, ternyata ada Jeff dan kedua orangtuanya. Sashi melambaikan tangan dengan antusias namun tanggapan Jeff sungguh aneh. Ia melihat Robert dengan tatapan kaku dan tidak mempedulikan Sashi lagi.
"Sash, kamu baru bangun?" tanya Ibunya Jeff.
"Iya, Tan. Semalem begadag di kafe."
"Sama siapa?"
"Sama Franky, jamie, ada Jeff juga," jawab Sashi sambil menunjuk Jeff.
"Oh ya? Waah anak muda emang banyak energi, ya."
"By the way, kenalin, ini temenku namany Robert."
RObert mengulurkan tangan sambil tersenyum yang langsung disambut oleh kedua orang tua Jeff. Ia juga menyalami Jeff. "Kok familiar, ya?" tanya Robert.
Jeff tersenyum datar. "Oya? Bali kan sempit kalo udah stay di sini, pasti mungkin kita udah pernah papasan."
"Iya juga, tapi nanti deh gue inget-inget dulu. Biasanya abis makan ingatan gue kuat lagi. Dssh, pesenin daging dong."
"Okay siap, lo mau pake nasi gorengnya atau pengen wagyu doang?"
"Pake nasi deh. Gue beneran laper banget, sama minumnya jus alpukat sama air mineral."
"Oke, Boss."