Familiar

1011 Kata
Robert memberi nilai cottage milik Jeff 9 dari 10. Apalagi ketika perutnya kenyang karena ia menambah daging wagyu sebanyak dua kali lipat. Ia berencana akan menghabiskan akhir pekan depan di cottage tersebut bersama teman-teman bulenya yang juga pelanggan klub. Menurut Robert pribadi, sebuah tempat akan mempunyai point banyak jika makanan yang disediakannya enak dengan harga wajar. Ia tidak peduli dengan harga semahal apa pun, asalkan bahan-bahan dan tingkat kesulitan masaknya memang make sense. Karena ada beberapa tempat yang mematok harga sangat mahal untuk mekanannya, padahal kualitasnya sangat buruk. "Gimana kabar klub? Pada kangen eclaire gue ga?" tanya Sashi sambil menyendokan eskrim ke dalam mulutnya. Robert mengangguk. "Banyak yang nanya 'where is the dessert box?' dan gue jawab aja kalo yang bikinnya lagi cuti sakit." "Hahaha sialan lo. Gue balik ke klub dua harian lagi, kok. Masih betah banget di sini. Kalo lu mau tau, di sini juga gue udah bikin eclaire dua hari berturut-turut atas permintaan orang. Gila ya, ga di mana-mana, even pas gue lagi niat staycation aja pada minta dibikinin eclaire. Tapi yaa.... ga bisa nolak juga." "Dibayar?" "Nggak." "Siapa emang yang minta lo bikinin eclaire." "Temennya Jeff sama nyokapnya Jeff," jawab Sashi yang membuat Robert memicingkan matanya. "Jeff si owner cottage ini?" "Yaps!" "Hmmm... pantesan... gue nyangka aja, lo ga bakalan mau staycation lo keganggu kecuali sama orang-orang penting. Are you guys having an affair? You and si Jeff, maksudnya." Sashi refleks tertawa. "Ya kagak lah! Gue ga enak aja, secara gue staycation di sini kan gratis. Masa temen sama nyokapnya dia minta dibikinin eclaire aja gue ga mau." Robert mengangguk sambil memajukan bibir bawahnya. “By the way, nanti gue liat pondok lo, ya. Sekalian mau difotoin biar bisa gue liatin ke temen-temen.” “Boleeh… mau sekarang aja tau mau nambah makan lagi?” “Bentar lagi, kalii… perut gue masih penuh.” Robert meraih ponsel ketika benda tersebut berdering. Selama beberapa saat, ia hanya sibuk membalas pesan dengan serius, sementara Sashi menikmati eskrim dan waffle-nya. Ketika Robert menaruh ponselnya kembali di atas meja dengan geram, Sashi pun bertanya, “Siapa yang ngechat?” “Biasa, si Bos Besar lagi dateng resenya.” "Dia masih ada di sini?" "Masih. Hampir tiap hari dateng ke klub bawa temen-temennya, mabok, minta banyak cewek, bahkan siang-siang pas mereka lagi di hotel masing-masing." "Terus lo turutin?" "Ya kagak lah najis! Gue bukan babu mereka. Dan itu udah gue sampein ke si Bos Besar. I'm done, pokoknya. Gue partner dia, bukan bawahan." "Bagus deh kalo lu berani ngelawan. Orang kayak gitu jangan diturutin, nanti malah makin ngelunjak. Terus, si Bella itu udah ketemu?" "Boro-boro. Gue udah capek, jadi gue mutusin buat berhenti nyari. Kalo si Bella emang mau ngabarin gue, pasti ada waktunya dia ngabarin. Kalo nggak, ya udah itu kan udah keputusan dia. Gue anggapnya, dia aman. Karena kalo dia lagi kesulitan, dia pasti akan telepon gue. Dia percaya banget sama gue, gue bener-bener anggap dia sebagai adek dan gue tulus. Kemaren gue khawatir karena ATM dia dibekuin sama si Bos, identitas dia juga masih di apartemennya. She's literally ga bawa apa-apa. Cuman bawa baju yang dipakenya doang." "Lo punya fotonya ga, sih? Siapa tahu gue ketemu dia ga sengaja." Robert kembali meraih ponsel dan menggulir galerinya. Setelah menemukan foto yang dicari, ia pun memperlihatkannya pada Sashi. Foto Bella dan Robert yang sedang berada di pantai. Mereka tertawa lebar sambil memegang segelas mojito. Namun semakin Sashi memperhatikan, semakin ia familiar dengan sosok wanita tersebut. "Kok kayaknya gue pernah ketemu ni cewek, ya." Sashi men-zoom foto tersebut, namun ia tidak ingat pernah melihatnya di mana. "Oya? Tempat kita kan masih satu lingkungan. Kali aja kalian emang pernah papasan." "Iya, kali. Tar deh gue inget-inget." Sashi meletakkan ponsel Robert di meja. Ia pun pamit ke toilet, padahal dirinya hendak ke kasir untuk membayar bill. Selama ini, Robert yang selalu mentraktir. Sekarang Sashi hanya ingin membalasnya, apalagi selama di sini, Sashi hampir tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Setiap habis makan dan hendak membayar, Soni atau Franky yang selalu membayarkan. Waktu sarapan saja, Jamie yang bersikukuh untuk membayar pesanan mereka berdua. "Rob, udah? Jadi mau liat pondok gue?" "Yuk! Panggilin waitersnya dong." "Udah gue bayar semua." "Lahh... huuuu dasar ni anak nyuri start aja. Makasih yaa." "Anytime." Keduanya keluar dari restoran menuju pondok yang ditempati oleh Sashi. Dari kejauhan, tampak Franky melambaikan tangan pada mereka berdua. "Woyyy, Mister Robert! Ngapain lo di sini?" "Loh kok ada ni makhluk di sini?" tanya Robert heran. Sashi menjawab. "Ya kan dia temen deketnya Jeff." Ketika mereka saling mendekat, Robert menepuk lengan Franky. "Lo ternyata masih di Bali? Gue kira udah balik ke Jakarta. Kenapa ga nongol lagi di klub?" "Ya gara-gara ini." Franky merentangkan kedua tangannya "Temen gue baru buka cottage ini, jadi dari kemaren gue boyong temen-temen gue ke sini. Nanti lah sebelum balik ke Jakarta, gue mampir lagi ke klub." "Nah tuh dia yang punya cottage-nya nongol." Sashi menunjuk Jeff yang sedang berjalan. "Oooh ini toh...kita udah beberapa kali ketemu, kan? Tiap gue ketemu si Franky, pasti ada dia." Jeff mengangguk. Wajahnya sangat datar, tidak menyangka Sashi akan membawa temannya itu ke cottage. "Ya udah, gue sama Robert mau ke pondok dulu, ya. Lo jangan lupa dateng lagi ke klub," ujar Robert pada Franky. "Siaaap... weekend ini, deh. Sashi juga ke sana kan?" Sashi mengangguk, sementara Robert menjawab. "Ya iya dooong... dia kan aset gue yang paling berharga dan udah ditanyain sama pelanggan-pelanggan gue. oke deh see ya!" Sashi bisa melihat wajah Jeff yang semakin tidak suka setelah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Robert. Kalimat itu memang ambigu. Pelanggan yang dimaksud Robert adalah mereka yang menunggu eclaire buatan Sashi. Namun Sashi tidak tersinggung dengan pemikiran Jeff, ia malah geli sendiri melihatnya. "Si Owner ganteng juga, ya," ujar Robert ketika mereka sudah cukup jauh dari Franky dan Jeff. "Ho-oh." "Lo ga ada kepincut dikit gitu sama dia? Secara dia baik sama lo." "Dia udah punya cewek dan mau married. Lagian umurnya jauh di atas gue." "Paling beda sepuluh tahun. Cukup lah segitu, temen gue malah banyak yang beda lima belas tahun sama suaminya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN