Semakin hari, Noni jadi semakin bersalah kepada Wiggy. Ia tidak punya hak sama sekali untuk menegurnya seperti itu. Noni juga sudah menceritakan semuanya kepada Emil ketika pria itu melanjutkan pemasangan wallpaper di kamar Noni. Menurut EMil, itu hanya menunjukkan bahwa Noni cemburu buta pada Dixie.
"Terus gue harus gimana?" tanya Noni lebih kepada diri sendiri.
"Ya minta maaf lah sama dia."
"Ck! Kenapa sih gue bego banget, selalu aja ga bisa kontrol emosi gue. Semoga dia ngerti deh kalo gue itu orangnya emang suka nyeplos. Gue lebih baik ngomong depan orangnya langsung daripada ngomongin di belakang."
"Lah ini kita lagi ngomongin dia di belakang."
"Ya maksudnya kan kita ga lagi ngejelekin dia. Ini lebih ke ngebahas kebegoan gue doang."
Emil tertawa. "Udah tenang aja, si Wiggy pasti ngerti kok. Kalian kan bukan kenal kemaren sore."
"Ya tapi gue maluuu..."
"Hhhh... baru aja kemaren si Jio ngajakin kita ke villa buat briefing supaya ga ada lagi berantem-berantem atau perang dingin. Eh baru pulang dari sana, lo udah ribut sama si Wiggy."
Noni memeluk bantalnya sambil duduk di atas bean bag. Ia bahkan tidak mau turun ke bawah untuk makan siang. Jadi tadi ia memesan GoFood dan meminta tolong Shaki untuk membawakannya ke kamar. Mungkin besok ia akan mencari cara untuk mencairkan suasana.
"Dah beres," ujar Emil setelah wallpapernya terpasang sempurna.
"Thank you." Noni menyukai kamarnya saat ini yang terlihat lebih cantik karena wallpaper itu. "Besok temenin gue hunting lampu-lampu yang aesthetic yuk."
"Boleh. Sorean paling, pagi sampe siang gue ada meeting sama orang yang mau dibikinin jingle, bareng si Revo juga."
"Oke. Thanks yaa udah mau pasangin."
"Sama-sama. Udah, tidur lo, jangan dipikirin soal tadi. Kalian kan bukan anak kecil lagi, nanti juga cepet baikan."
"Iyaa... gue cuman lagi butuh waktu sendiri dulu di sini. Males turun ke bawah. Kalo misalkan ada yang nanya, bilang aja gue lagi agak ga enak badan."
"Siap."
Emil pun turun ke bawah, sementara Noni membuka laptop untuk mencari jadwal penerbangan. Ia semakin yakin harus lekas pergi ke Bali bertemu Sashi. Ia butuh retreat di cottage yang terlihat nyaman itu. Ada rasa takut jika ia pergi agak lama, Wiggy dan Dixie malah semakin dekat dan lengket. Tapi Noni berusaha merelakan. Jika memang Wiggy menyukai Dixie, apa boleh buat. Siapa dirinya harus melarang. Malah Wiggy sepertinya akan menjadi ilfil jika Noni bersikap seperti itu.
Jadwal penerbangan sudah didapat. Noni sengaja tidak memberitahu Sashi supaya menjadi kejutan. Ia hanya butuh waktu minimal empat hari untuk memulihkan emosionalnya.
***
Setelah puas melihat-lihat isi pondok, view dari jendela kamar dan sempat berkeliling hingga ke kolam renang belakang, Robert pun memutuskan untuk pulang. Sashi mengantarnya sampai depan, di mana mobil Robert terparkir di bawah pohon yang masih disandari papan untuk menyambut kedatangan kedua orangtua Jeff tempo hari.
"Lo kalo masih butuh beberapa hari lagi di sini, bilang aja. Klub aman kok."
"Nggak lah, ga enak juga gue. Lagian gue udah janji sama si Jack mau belajar latte art lagi yang levelnya agak susah. Dan belajar jadi barista yang bisa bikin kopi enak."
"Oh iya, emang pada nanyain sih kemaren. Emang lo ga bilang sama mereka mau cuti?"
"Bilang sama Chef Made doang. Gue lupa kasih tahu Jack sama Mora."
Setelah hampir sampai di parkiran, mereka melihat Franky, Jeff dan ibunya sedang duduk dikursi santai. Rupanya ketiga orang itu sedang mengobrol seru.
"Eh, mau ke mana, Rob? Balik?" tanya Franky.
"Iya, keburu hujan. Pamit, yaa..." Robert menunduk kepada Jeff dan ibunya yang juga dibalas oleh mereka berdua.
"Hati-hati, Rob," kata Sashi.
Robert memasuki mobil, lalu melambaikan tangan kembali sampai mobilnya berbelok dan tak terlihat lagi. Sashi membalikan badan ke kerumunan Jeff lagi.
"Sini, Shas, duduk," ajak ibunya Jeff. "Mau cobain ini, ga?" ia menunjukkan semangkuk jambu air berwarna merah tua berukuran besar.
"Wah, ini yang dari pohon belakang kan, Tante?" tanya Sashi.
"Iya, tadi Franky yang naikke pohonnya buat ngambil. Enak, nih, manis banget. Coba deh."
Sashi mengambil satu dan membelahnya. Ia menikmati jambu itu sambil mengangguk, menandakan bahwa jambunya enak. "Coba ada bumbu rujaknya, tante."
Ibunya Jeff langsung menepuk pahanya sendiri. "Nah itu dia! Itu yang tante pikirin dari tadi. Kalo aja ada bumbu rujak kan enak banget ini."
"Mau bikin? Kemaren kayaknya Sashi ngeliat ada gula jawa di dapur. Tinggal tambahin asam jawa, cabe rawit juga."
"Ya udah ayok kita ke sana. Franky, kamu coba ambil lagi jambunya agak banyakan di belakang. Masih kuat ga?"
"Kuat dong, Ta. Kan tadi Franky nawarin mau ambilin banyak. Kata Tante segitu aja udah cukup."
"Ya kan ga tau kalo bakalan ada Sashi. Siapa tahu nanti Bu Putu datneg juga, Wayan, terus si Soni."
"Oke, nanti Franky anterin ke restoran."
Sashi membawa mangkuk berisi jambu air tadi, sementara ibunya Jeff menyelempangkan tas rumbainya. Sashi langsung mneyentuh rumbai tas tersebut sambil tersenyum gemas. "Lucu banget tasnya. Aku juga kemaren punya tas kayak gini, cuman sayangnya ada yang nyuri."
"Oya? Siapa yang nyuri?"
Mendengar pertanyaan itu, Sashi sontak mematung. Ia lalu melihat Jeff yang juga heran mengapa dirinya terlihat aneh.
"Sash, kenapa?" tanya ibunya Jeff.
"P-ponsel, aku tadi ga bawa ponsel, " kata Sashi sambil meraba-raba saku sweater dan celananya. Ia tergagap dan tampak linglung hingga orang di sekelilingnya pun kebingungan. Ia pun menaruh kembali mangkuk jambu itu di meja. "Tantee... sorry, a-aku harus hubungin temen dulu. Nanti aku balik lagi ke sini.
Sashi berlari ke pondoknya. Ia hanya berharap bahwa dugaannya salah. Sashi membuka kunci dengan terburu-buru, lalu menaiki tangga setengah berlari. Ia langsung mengambil ponselnya di atas nakas yang sedang dicharge. Tangannya gemetar mencari kontak Robert.
"Iya, kenapa, Sash? Barang gue ga ada yang ektinggalan, kan?" tanya Robert.
"Rob, sekarang gue inget kenapa foto Bella familiar banget di mata gue."
"Oya? Dia mirip seseorang atau kalian emang pernah ketemu?"
Sashi memijit pelipisnya. "Tapi, ini gue belum yakin seratus persen. Bella di foto itu, mirip banget sama cewek yang nyuri tas gue di restoran."
"Nyuri tas lo?"
"Iyaaa... cewek yang nyuri tas gue dan juga pake identitas gue buat pake pesawat. Pesawat yang kecelakaan itu, Rob."
Robert terdengar menarik napas dengan kuat. "Sash, lo yakin?"
"Gue udah bilang kalo gue ga yakin seratus persen. Tapi buat buktiin kalo dugaan gue bener atau salah, sebaiknya kita datengin restoran itu lagi dan lo liat sendiri video CCTV-nya."