Casual Relationship

1007 Kata
Untuk menghasilkan suasana baru dan mood para partnernya lebih bagus, Jio membeli banyak wallpaper untuk dipasang di ruang tengah dan semua kamar. Motif yang ia beli macam-macam, sehingga siapapun bebas memilih. Noni memilih motif kupu kupu berwarna ungu muda. “Siapa yang pasangin?” tanya Noni. “Bebas, siapa aja juga boleh,” jawab Jio. “Lo bisa sendiri ga?” “Mana bisa! Ini kan kerjaan cowok. Ntar deh minta tolong Emil.” Setelah berkata begitu, wallpaperyang Noni pegang diambil oleh Wiggy. “Sini biar gue aja yang pasang.” Noni ingin menolak, tapi Wiggy sudah keburu jalan ke tangga. Noni pun mau tidak mau mengikuti Wiggy. “Tapi kamar gue masih berantakan, Ji. Gue beresin dulu deh ya.” “Gue kan bukan petugas kebersihan yang mau nilai kebersihan lo. Nyantai aja, semua kamar di sini pasti berantakan juga. Nggak berantakan, berarti kita ga produktif.” Noni terpaksa tersenyum. Ia heran mengapa Wiggy akhir-akhir ini banyak berbicara. Padahal dulu setiap ada pertanyaan yang meluncur dari mulut siapapun, dia selalu menjawab singkat. Wiggy sangat pelit kata-kata. Itu sebabnya Noni dan Shasi dulu menyebut Wiggy sebagai si Raja Es kareana pembawaannya yang sedingin es. Setelah menaruh gulungan wallpaper, Wiggy kembali ke bawah untuk mengambil tangga. Sementara Noni menggeser semua furniture ke tengah. Setelah Wiggy mulai menempelkan wallpaper tersebut, Noni hanya memandanginya sambil duduk di atas tempat tidur. “Lo pernah pasang wallpaper sebelumnya?” tanya Noni. Wiggy menggeleng. “Baru pertama kali.” “Lo tadi pilih yang motif apa?” “Gue belum milih. Semuanya bagus. Biar yang lain dulu yang milih, gue bebas mau yang mana aja.” Noni menghela napas. “Lo kenapa sih jarang memutuskan apa yang lo mau? Nerima-nerima aja, atau ga bisa bilang ‘nggak’ ke semua orang. KaLomu juga kan berhak milih, lo berhak nolak. Mustahil lo ga ada keinginan sama sekali.” Wiggy memberhentikan tangan dari kegiatannya, lalu menoleh pada Noni. “Ini kita lagi ngomongin soal wallpaper atau sikap gue secara general?” “Sikap lo secara general lah. Gue kadang gemes, kayak misalkan ada orang minta endorse, terus dia nawar sadis dengan jual cerita-cerita menyedihkan untuk dikasihani, lantas lo nerima gitu aja. Atau waktu kita jalan dan harus pilih restoran buat pesen, lo ga pernah ngasih pendapat pengen makan di mana, alias ngikut aja sama orang-orang, ga peduli meskipun mereka pilih restoran yang menunya ga lo sukain. Atau yang paling baru. Waktu kemarin. Waktu Dixie minta anter sama lo, padahal lo paling ga nyaman boncengin orang apalagi jaak jauh. Tapi kenapa lo ga bisa nolak?” Wiggy menggigit bibirnya. “Ya karena gue nyaman aja kayak gitu. Yang terpenting kan gue nyaman dengan apa yang gue pilih. Nah apa yang gue lakuin, itu ya pilihan gue juga." Noni hanya bisa terdiam ketika Wiggy menjawab seperti itu. "Iya deh terserah lo aja," jawab Noni pada akhirnya dan memutuskan untuk tidak lagi mempertanyakan maalah tersebut ke depannya.." *** Sashi mengobrol dengan Robert di telepon ketika pria itu mengomentari story-nya di w******p yang memperlihatkan beberapa view di Rosie & Riley's Cottage. [Pantes lo ya betah banget sampe mau cuti lima hari.] [Hehee... sumpah di sini emang enak banget, Rob. Lo wajib staycation di sini. Makanannya enak, ada tempat spa pula. dan therapistnya ramah-ramah.] [Noted.] [Lo juga bisa rekomendasiin ke tamu-tamu lo yang lain. Link elu kan banyak,] kata Sashi. [Okay, I'll try. Apa perlu gue samperin besok siang ke sana? Makan siang bareng, yuk!] {Boleh banget! Nanti gue share location aja, kabarin lo mau ke sini jam berapa, oke.] [Oke, Beb. Ya udah gue bentar lagi ada meeting. Sampe ketemu besok ya.] [Oke, See ya!] [Bye!] Noni menyandarkan punggungnya ke bantal. Perutnya keroncongan karena belum makan malam. Alasan yang tadi ia berikan pada Ibunya Jeff sebenarnya bohong. Sashi hanya sungkan jika harus makan malam bersama mereka. Akan terasa canggung sekali, karena dia bukan siapa-siapa. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi kafe yang buka dua puluh empat jam untuk membeli burrito. Dengan mengenakan coat panjang, ia pun turun. Angin dingin mneyergapnya, musik dari kafe pun lumayan terdengar. Ia berjalan perlahanmenikmati suasana. Hingga akhirnya sampai di sana, ternyata ada Franky dan Jamie sedang bermain kartu remi. Sashi pun melambaikan tangan pada mereka berdua. "Woii Sashiii... ngapain lo? Mau makan?" tanya Franky. "Iya, Bang. Tiba-tiba laper. Bang Soni mana?" "Dia pulang ke rumahnya. Biasalah kalo pria sudah beristri, ga bisa lama-lama maen." Mulut Sashi berbentuk huruf O. "Iya, Bang Franky puas-puasin deh tuh hangout sampe larut, sebelum nanti nikah." Franky berdecak. "Oh nggak, gua ga akan married. Gue bakalan selamanya party until the morning hingga tua. Kalopun alam memutuskan gue harus married, ya mungkin gue akan nyari istri yang juga gila party." Jamie tertawa. "Bukan main." "Lo sendiri Jam? Ada keinginan untuk married?" tanya Franky. Adiknya Jeff tersebut tampak berpikir. "Belom kepikiran sama sekali. Aneh aja mikirin married sekarang." "Nah betul, kan? Aneh harus hidup sama satu orang asing selamanya. Berbagi ini itu, dan bertahan meskipun udah bosen atau pasangannya nyebelin. Gue beneran harus mikir beratus ratus kali sebelum emmutuskan untuk married." "Its oke. Gue juga ga andang negatif orang-orang yang milih untuk hidup single atau ngejalanin casual relationship. Tapi jangan salah, banyak yang ga percaya dengan kehidupan pernikahan, sampe akhirnya mereka ketemu orang yang pengen mereka jadiin pendamping hidup. Contohnya Adam Levine." "Kenapa si Adam?" tanya Franky. "Ya dia gembar gembor di televisi kalo katanya ga percaya sama pernikahan. Tapi pas ketemu Behati, modelnya Victoria's Secret, ide untuk menikah tiba-tiba jadi menyenangkan. Sekarang mereka bahagia, udah punya dua anak pula," jawab Sashi. " Tapi ada juga yang ngejalanin casual relationship. Mereka hidup layaknya pasangan menikah, sampe punya anak, tapi ga mau nikah. Sampe akhirnya, mereka memutuskan untuk beneran nikah setelah bertahun-tahun hubungan. And you know what? Ga nyampe dua tahun, malah cerai. Gue juga jadi mikir, emang nikah tuh sebeban itu, ya?" "Are you talking about Brad Pitt and Angelina Jolie?" tanya Jamie. Sashi tertawa. "Iya, update banget ya kamu sama berita mereka." "Kebetulan tahu aja. Eh by the way, mau pesen apa? Kamu mau makan, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN