Jeff baru saja selesai berbicara dengan Alina melalui telepon. Kekasihnya itu hendak menanyakan bagaimana acara malam kemarin dan bagaimana reaksi kedua orangtuanya. Jeff sengaja tidak mengabari Alina karena ia ingin tahu apakah Alina akan menelepon terlebih dahulu, dan ternyata syukurlah Alina menelepon meskipun telat. Hampir dua puluh empat jam setelah acara tersebut selesai.
Jeff merasa geli sendiri karena ia menjadi begitu posesif mengenai waktu. Namun entah mengapa akhir-akhir ini ia jadi perhitungan dengan Alina. Karena dalam beberapa bulan terakhir, secara tidak sadar, Jeff lah yang banyak menghubunginya dan selalu excited membahas apa pun. Sementara Alina sebaliknya.
Untuk mengurangi kekalutannya, ia pun mendatangi pondok kedua otangtuanya untuk emngajak makan malam. Seharusnya ia banyak menghabiskan waktu dengan mereka, karena keduanya hanya akan singgah selama satu minggu. Jangan sampai pikirannya dengan Alina mengurangi quality time dengan keluarganya.
“Malem, Pa, Ma. Lagi pada ngapain?” sapa Jeff begitu memasuki pondok mereka yang pintunya terbuka lebar. Kebiasaan mama papanya yang selalu membuka pintu jika suhu udaranya enak untuk membiarkan udara segar masuk.
“Hey, Jeff. Papa lagi main catur,” jawab papanya sambil menunjuk layar laptop.
“Whoaa… catur online, Pap? Siapa yang ngajarin?”
“Jamie lah. Ini kan laptop punya dia. Karena akhir-akhir ini dia suka lihat papa suntuk, ga tahu apa yang mau dikerjain, apalagi pas asam urat papa kambuh. Alhasil dia ajarin papa main catur online.”
“Susah ga tuh lawannya?”
“Yaahh… ada yang gampang ada yang susah juga. Tergantung levelnya. Sekarang papa pake level yang middle. Lumayan seru.”
Jeff tersenyum sambil mengangguk. “By the way mama mana, Pap? Di atas?”
“Loh, mama kan lagi di restoran, mau bikin dessert sama cewek penyewa itu. Siapa namanya? Sisi?”
“Sashi?”
“Nah iya itu.Sama Bu Putu juga. Katanya ketagihan mau makan itu lagi buat nanti malem sambil nonton. Udah hampir dua jam nih ga balik-balik.”
Jeff menghela napas. Setelah akrab dengan teman-temannya, lalu tadi sarapan dengan adiknya, kini Sashi sedang membuat dessert bersama ibunya. Jeff masih penasaran, mengapa Sashi bisa sarapan dengan Jamie. Apakah wanita itu menghampiri adiknya? Apa dia tidak merasa canggung setelah apa yang terjadi malam itu dengan dirinya?
Ayahnya Jeff menyandarkan punggung sambil meringis karena pinggangnya terasa pegal. “Aduuuh… udahan dulu, deh. Pegel juga, ga kerasa udah tiga jam.”
“Jangan banyak duduk lah, Pa,” tegur Jeff. “Oya, udah makan malam, belum? Jeff ke sini tadinya mau ajakin makan malam bareng.”
“Belum. Ya udah, mau ke restoran kita? Mumpung mama masih di sana?”
“Ayok. Papa mau makan apa?”
“Biar mamamu saja yang pilihkan. Papa ga mau macem-macem deh, tadi pagi udah kena omel soalnya.”
“Emang papa tadi makan apa?” tanya Jeff.
“Wagyu dua potong. Mama yang kasih, mama juga yang ngomel,” jawabnya yang membuat Jeff tertawa.
Sesampainya di restoran, ternyata ibunya sedang mengobrol berdua dengan Sashi. Mereka tampak tertawa, hingga Jeff penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang itu. Ketika melihat Jeff dan ayahnya masuk, Ibunya langsung melambaikan tangan dengan antusias.
“Jeff, papaa… sini! Kalian mau makan malem?”
“Iya, Ma. Mama udah makan?”
“Belum. Lagi asik ngobrol sama Sashi. Ya udah sekalian kita makan malem aja, ya.”
Merasa tidak enak, Sashi pun berniat untuk undur diri. “Euhm… maaf, tante. Kalo gitu saya permisi dulu, mau kembali ke pondok.”
“Loh ga makan malem bareng aja? Kan kamu belum makan.”
“Nggak, makasih. Kebetulan Sashi lagi ngurangin makan malem.”
“Aaah… iya iya, sewaktu tante muda juga paling takut kalo makan malem. Ya udah kita ngobrol-ngobrol lagi besok, ya.”
“Sip, Tante. Jeff, Om, saya duluan. Selamat makan malam.”
Jeff hanya mengangguk singkat, sementara papanya menjawab. “Ya ya… thank you. Kamu juga selamat beristirahat. Maaf kalo istri om udah ngerepotin kamu.”
Sashi tertawa. “Oh, nggak, Om. Dengan senang hati, malah. Sashi juga banyak dapet tips kok tadi dari tante. Oke deh… dah semuaaa~”
Sepeninggal Sashi, ibunya mencubit perut Jeff. “Lucu ya dia. Pinter banget masaknya.”
“Oya?” tanya Jeff pura-pura tidak tahu.
“Lah katanya kamu sering dibikinin masakan sama Sashi. Menurut kamu enak, ga? Terus waktu kamu sakit juga katanya cuman bisa makan sup ayam jahe buatan Sashi. Iya kan?”
Jeff mengerutkan kening. “Oh, jadi dari tadi tuh ngomongin Jeff, nih?”
“Bukan Sashi yang bilang, tapi Bu Putu,” jawab ibunya. “Mama sama Sashi tadi cuman ngomongin perihal makanan doang. Dia katanya nanti mau bikini salad huzarensla. Mama pernah tuh makan itu waktu di pesta nikahan anak temennya mama. Dia kan dapet suami orang Belanda, jadi banyak makanan khas Belanda juga di sana. Nah, mama paling suka nih sama si Huzarensla ini. Enak banget! Jadi penasaran buatan Sashi kayak gimana. Enak juga ga, ya?”
“Ayahnya Jeff menimpali. “Bisa kita tunda dulu ngomongin soal makanannya? Mending kita langsung pesen makanan yanga da sekarang aja, gimana?” sindirnya.
“Nah iya, bener, Pap. Mama nih malah kemana-mana. Kita kan ke sini mau makan malem,” ujar Jeff.
“Yak an namanya juga mama penasaran. Ya udah kita pesen apa nih sekarang? Tadi kata si Franky, menu selanjutnya yang harus mama cobain itu salmon madu sama kentang lumat. Dia bilang salmonnya dimasak pake olive oil, madu, jeruk lemon sama apalagi gitu. Lupa. Mama mau itu aja, ya.”
“Papa makan apa?”
“Tanya, dong, sama papa.”
“papa bilang pengen mama yang pesenin. Yang aman buat papa kira-kira apa?” tanya Jeff sambil menyerahkan buku menu.
“Salad aja deh ya, pap. Pake ikan tuna, ada kacang almondnya juga.”
Ayahnya Jeff hanya mengangguk menuruti perintah istrinya. “Oke, up to you.”
Jeff pun memanggil seorang waiters dan memesankan pesanan kedua orangtuanya. Ia sendiri memilih chicken cordon bleu. dan segelas red wine. "Papa sama mama minumnya apa?"
"Mama mau air mineral sama segelas wine juga. Buat papa air mineral aja. Oke, Pa?"
"Up to you, mam, up to you."