Sashi sama sekali tidak menyangka bahwa ibunya Jeff memanggil dirinya karena ingin dibuatkan eclaire. Entah sudah orang ke berapa yang kecanduangn dengan eclaire buatannya. Sashi tentu saja senang karena sebuah pujian bisa membuatnya bahagia, Meskipun tentu saja dia datang ke cottage bukan untuk membuat eclaire.
“Apa kamu ga ada keinginan buka toko kue? Kata Bu Putu, kamu juga jago bikin makanan dessert lainnya,” kata Ibunya Jeff.
“Waah… kalo untuk masak cuman sekadar hobi aja sih, tante. Tapi kalo emang ada temen atau sodara yang request pengen dibikinin sesuatu dan akunya juga lagi luang banget, pasti aku bikinin. Tapi kalo untuk buka toko kue kayaknya nggak dulu,” jawab Sashi.
“Emang ribet sih ya kalo bikin toko kue. Belum bikinnya, terus kalo ada yang nyisa juga nantinya keburu basi. Jadi sekarang kerjaan kamu apa dong?”
Sashi langsung kebingungan. Karena ia adalah seorang koki di salah satu club, which is adalah memasak juga. “Ohh.. untuk sementara aja sih, ngisi kerjaan sebagai koki. Sama punya management di Bandung dan bisa aku handle dari sini.”
“Kamu orang Bandung, ya?”
“Iya, Tante.”
“Hebat, deh. Jadi gimana? Kapan kita mau bikin eclaire? Kalau kamu lagi capek dan mau sistirahat, bisa nanti saja kalau sudah pulang ke rumah. Pokoknya sebelum tante pulang ke Australia, tante pengen liat cara kamu bikinnya.”
“Nanti sore juga boleh. Kebetulan bahan-bahannya yang kemaren masih nyisa banyak."
"Eh tapi gapapa kan tante liat cara buatnya? Takutnya itu malah rahasia perusahaan."
Sashi tertawa. "Nggak kok, Tan. Sashi juga udah banyak kasih resepnya sama temen-temen yang lain."
Bu Putu menimpali. "Ah tapi saya sama Wayan udah beberapa kali lihat Sashi bikin eclaire, pas kami praktekin sendiri, tetep aja ga seenak buatannya Sashi.
"Biasanya sih gitu.. emang aneh, beda tangan beda rasa," kata Ibunya Jeff lagi. "Oke deh Sashi, maaf udah ambil waktu kamu. Kalo mau lanjut istirahat, silakan. Nanti sore kita ketemu lagi di restoran, praktekin bikin eclairenya, ya."
Sashi mengangguk. "Oh iya, tante. Sashi lagi mau nonton, sih. Nanti kalo tante udah siap, minta Bu Putu panggilin aku aja."
"Oke, thank you ya, Sash."
Sashi pun pergi meninggalkan mereka. Ibunya Jeff terus memperhatikan hingga Sashi hilang di belokan. "Akhirnya dia mau, bu Putu."
"Ya pasti mau lah, Bu. Kan ga enak kalo nolak permintaan Ibu."
"Aduh, jadi ga enak juga kalo dia ngerasa kepaksa hanya karena saya mamanya Jeff."
"Oh nggak lah, dia kelihatan tulus, kan tadi ibu udah nawarin supaya bikinnya pas pulang ke rumah aja. Dia sendiri yang akhirnya nawarin bikin di sini nanti sore."
"Ya sudha kalo gitu, Bu Putu kalo mau istirahat juga, pergi aja ke pondok. Saya juga mau balik."
"Ya udah yok, Bu. kita istirahat juga."
"Ngomong-ngomong, kamu lihat Jamie ga? Kok dari tadi ga kelihatan, ya?"
"Mas Jamie tadi dijemput sama temen-temennya yang semalem. kayaknya mau main. Tadi pagi sih saya juga lihat dia sarapan bareng Sashi."
"Oya? Masa sih? Makan berdua aja atau ada yang lain?"
"Berdua aja, saya lihat dari luar waktu mau kembaliin sapu lidi. Saya aja kaget, kok mereka terlihat akrab, padahal baru ketemu kurang dari dua puluh empat jam."
***
Mobil berbelok di halaman kantor House of Skills tepat pada pukul empat sore. Motor Wiggy pun sudah tampak di halaman parkir. Semuanya langsung memasuki kantor dengan langkah gontai karena pegal-pegal duduk berjam-jam di tengah kemacetan.
"Aaahh... akhirnya nyampe juga. home sweet home!" seru Emil. "Mari kita habiskan waktu untuk rebahan sebelum besok kembali bekerja."
"Tapi lo jangan lama-lama rebahannya karena udah janji mau masakin kita makan malem yang mewah." Noni menagih janji.
"Ya lumayan lah dua jam bisa rebahan dulu." Emil melepaskan sepatu, lalu matanya tertuju ke sandal milik Dixie. "Loh, ini bukannya sendal si Dixie? Bukannya tadi minta Wiggy buru-buru nganterin buat ketemuan sama temen-temennya?"
Noni yang ikut memandangi sandal tersebut, hatinya langsung merasa terbakar. ia pun segera membuka pintu, ingin melihat apa yang sedang kedua orang itu lakukan berdua di kantor. Noni berjalan dengan langkah cepat. Ia mengecek ruang tamu, ruang tengah, namun Wiggy dan Dixie tidak ada di sana. Ia pun memandangi kamar yang selalu dipakai oleh Wiggy. Menebak-nebak apakah mereka berdua ada di sana.
"Non, dah balik?"
Itu suara Wiggy. Noni langsung berbalik ke arahnya. Wiggy mengenakan kaus rumahan dan celana pendek, sedang memegang gelas berisi air dingin dengan wajah bibir memerah seakan baru saja menyantap makanan pedas.
"Iya gue baru balik. lo lagi ngapain?" tanya Noni dengan suara yang agak berat.
"Baru selesai makan samyang goreng, dibikinin Dixi," jawab Wiggy.
"Bukannya dia tadi buru-buru mau ketemuan sama temennya?"
"Hai, kak Non. Aku tadi ga jadi ketemu temen-temen karena salah satunya sakit. Akhirnya batal. Ya udah aku ikut kak Wiggy aja pulang ke sini," jawab Dixie yang suaranya dibuat semanja mungkin. Hal tersebut sangat embuat Noni muak. "Kak Noni mau samyang juga?"
Noni mendelik. "Nggak, makasih."
Ia pun menaiki tangga menuju kamarnya. Mungkin sangat terlihat jelas bahwa dirinya cemburu melihat mereka berduaan. Noni tidak peduli. Mungkin sudah saatnya WIggy tahu bahwa ia menyukainya. toh sepertinya semua orang di kantor telah mengetahui hal tersebut. Termasuk Revo tadi.
Saking betenya, Noni mengirim pesan pada Emil untuk ke atas menemuinya. Ia hendak mengutarakan kemauannya untuk mengambil cuti selama satu minggu.
"Seminggu mau ke mana?" tanya Emil yang duduk di atas bean bag milik Noni.
"Ke rumah sodara gue yang di Jogja. Gue bakalan beresin beberapa pekerjaan di sini dulu. selebihnya yang bisa gue monitor dari jauh, gue janji bakalan ngecek terus semuanya. Gue hanya butuh suasana baru dulu."
"Lo pengen kabur ke luar kota bukan hanya karena kejadian tadi, kan?"
Banyak alasan mengapa Noni ingin pergi, namun yang tadi itu merupakan triggernya. Tapi tujuan utama Noni adalah ingin menemui Sashi dan memeluk temannya itu. Noni ingin mengobrol dan menghabiskan wkatu bersama. Ia juga ingin menghibur Sashi yang sedang menjalani hidup sendirian di luar sana.
"Nggak, gue emang ada rencana pengen cuti seminggu dari dulu. Udah janji pula sama sodara gue di sana. Gimana? Bisa ga?"
"It's oke. Paling nanti kita kompromiin juga sama Jio dulu. Takutnya ada jadwal buat recording."
"Oke. We'll see."