Noni ikut di mobil Revo untuk kembali ke kantor. Ia duduk di depan, sementara Emil dan Shaky di belakang. Jio sendiri dibiarkan berdua dengan Renata, mereka berada lebih dulu di depan. Emil terus nyerocos bahwa kini ia yang akan menjadi koki untuk makan malam nanti. Tadi Jio dan Shaki mendapatkan belasan ekor ikan berukuran besar dan Emil menjanjikan ia akan membuat menunya ala hotel mewah. Pria tersebut memang bisa membuat makanan enak dan aesthetic jika moodnya sedang muncul. Berbanding terbalik jika moodnya biasa saja, ia akan membuat makanan yang super praktis seperti nugget atau telor dadar yang disiram dengan kecap.
“Berarti hari ini gue lepas tangan, ya. Pengen istirahat. Gue turun kalo makanan udah jadi aja,” kata Noni.
“Oke, gue bisa kerjain sendiri. Paling si Shaky yang bantuin motong-motong bumbu. Oke, Ky?”
Shaky mengangguk. “Tenang ajaa… gue emang pengen belajar masak.”
“Tapi awas aja kalo masakannya jadi ga enak. Pokoknya tugas Shaky cuman motong-motong, atau nyuci bahan-bahan masakan. Jangan sok-sok ikut campur ngasih bumbu ya, Ky.” Noni memperingatkan.
“Iye iyeee… yang jago masak.”
“Jangan pundungan lo, ini kan demi keselamatan perut bersama,” kilah Noni.
Mobil terus melaju membelah jalan dan menerobos kemacetan. Mobil Jio tampak mengedipkan lampu dan memelankan lajunya. Ternyata mereka hendak mampir di minimarket. Revo pun terpaksa meminggirkan mobilnya terlebih dahulu.
“Beli minum, kayaknya,” kata Revo.
“Lo mau turun juga ga?” tanya Noni.
“Iya, mau beli rokok. Mau nitip?”
“Beliin gue eskrim, dong. Air mineral sama keripik kentang juga. Duitnya ntar gue transfer.”
“Dah, nyantai aja. Bro, kalian mau nitip apaan?” tanya Revo pada Emil dan Shaky.
“Gua ikut turun, dehm” jawab Shaky.
Emil menimpali, “Gue titip soda kaleng aja. Bebas mau yang mana.”
“Oke.”
Sepeninggal mereka, Emil menepuk bahu Noni. “Kenapa lo dari tadi keliatan bete? Gara-gara si WIggy balik sama si Dixie, ya?”
“Kesel ga, sih, lo liatnya? Si Dixie tuh kayak yang caper banget tau ga? Lain kali kalo mau liburan, refreshing atau apa pun itu, gue ga akan mau lagi ikut kalo ada tuh cewek.”
Emil tertawa. “Nah, bener kan tebakan gue gara-gara si Dixie. Kali gara-gara dia cemburu juga liat lo tidur, terus kakinya ada di paha si Wiggy. Tangan si Wiggy pun kayak meluk kaki lo gitu.”
“Lo liat reaksinya dia?” tanya Noni penasaran hingga membalikkan badannya ke arah Emil.
“Wuihh matanya julid banget. Mendelik ala-ala bintang sinetron, terus akhirnya duduk di luar sambil cemberut. Nah pas si Wiggy nyamperin anak-anak mincing, si Dixie juga nyamperin dia, minta dianterin pulang. Soalnya katanya dia lagi buru-buru ditungguin temennya. Si Wiggy awalnya kayak keberatan, bilang kalo pake motor nanti panas, dan motor dia pun ga nyaman buat bonceng orang jarak jauh. Tapi si Dixienya agak maksa. Jadi ya udah, mau ga mau si Wiggy nerima juga.”
Noni berdecak. “Sialan emang.”
Revo sudah kembali ke mobil. Ia langsung menyerahkan seplastik besar pesanan Noni. “Rev, kok banyak banget, anjirr… gue cuman pesen tiga barang doang.”
“Perjalanan masih jauh. Biar lo ga bete dan hawa-hawa panas di mobil ini segera ilang,” jawab Revo mengandung sindiran.
Kening Noni mengkerut, sementara Emil terlihat menahan tawanya.
***
Sedari tadi, Sashi hanya bisa melamun di kamarnya. Padahal niatnya setelah selesai sarapan adalah mencari tontonan film komedi atau romance di Netflix. Namun alih-alih menyalakan TV pintar, Sashi masih belum bergerak sepulangnya dari kafe tadi. Ia tidak tahu mengapa Jamie mengajaknya pergi, padahal mereka baru pertama kali bertemu dan belum banyak mengobrol. Sashi hanya merasa aneh, karena Jamie merupakan adik kandungnya Jeff. Mungkin jika dia orang lain, Sashi akan senang hati pergi jalan dengannya, sekadar untuk melepas penat. Jamie sepertinya teman yang seru dan dia tampan luar biasa. Noni pasti akan menyebut Sashi bego jika tahu ia menolak ajakannya.
Meski begitu, Sashi mungin tidak akan pernah menerima ajakannya, apalagi setelah melihat reaksi Jeff tadi. Jeff pasti akan semakin membencinya, mengingat pria itu menganggap Sashi sebagai wanita penghibur. Sashi pasti akan dicap sebagai penggoda Jamie.
Sashi terlonjak ketika mendengar suara bel. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pondoknya dipasang bel. Sashi pun turun ke bawah dan mendapati Wayan ada di sana.
“Hey… baru bangun?” tanya Sashi.
“Udah dari tadi, Kak. Aku mau sampein, tadi ibunya pak Jeff, minta Kakak nemuin dia di kolam renang belakang.”
“Ibunya Jeff? M-mau ngapain?”
“Kurang tahu juga Wayan. Ibu juga ada di sana, kok, mereka lagi pada ngobrol.”
Sashi masih bertanya-tanya, namun akhirnya ia mengangguk. “Ya udah bentar lagi aku ke sana.”
“Oke, kak.”
“Kamu sekarang mau ke mana? Ga ke sana juga?”
“Wayan sebentar lagi ada jadwal briefing sama temen-temen di Gmeet buat project sekolah.”
“Aah… oke, kamu balik lagi aja ke pondok. Aku mau langsung ke kolam renang.”
“Iya, kak. Makasih ya Kak Sashi,” ujar Wayan. Sashi pun menepuk pelan pundak gadis tersebut.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Sashi pun pergi menemui ibunya Jeff. Ia benar-benar canggung menghadapi keluarga Jeff dan ia yakin bahwa hal tersebut dikarenakan kejadian malam itu, ketika Jeff dan dirinya melakukan hal senonoh. Padahal Sashi tahu bahwa Jeff sudah memiliki pacar dan kemungkinan akan segera menikah.
Itu sebabnya akhir-akhir ini, Sashi tidak begitu menampung kemarahannya kepada Renata. Karena dirinya hampir sama seperti wanita tersebut. Ketika pikiran itu tiba-tiba terlintas, Sashi segera menggelengkan kepalanya.
“Oh, nggak nggak, gue ngelakuin itu sama Jeff buat pelampiasan doang, gam au terlibat hubungan apa pun. Dan gue bukan mau berhubungan dengan pacarnya temen sendiri,” gumam Sashi sambil melangkah pelan.
Setibanya di kolam renang, matanya menyapu ke sekitar. Lalu terdengar seruan Bu Putu.
"Sashiii... siniii!" teriaknya sambil melambaikan tangan. Rupanya mereka duduk di sebuah bangku terbuat dari bebatuan yang berada di sudut. Sashi pun tersenyum sambil berjalan ke sana.
"Siang, Bu, Bu Putu..." sapa Sashi soan.
Ibunya Jeff langsung tersenyum lebar. "Haloo, Sashi... sini duduk sama kami."