Sashi harus sabar ketika begitu bangun tidur harus langsung mendengar repetan Noni di telepon. Temannya itu merasa kesal karena Dixie tampaknya tidak mau kalah dan sengaja ingin bersaing mendapatkan perhatian dari Wiggy.
"Padahal gue ga ada maksud mau nyari perhatian Wiggy. Dia sendiri yang semalem nyamperin gue, nawarin diri buat ngejaga gue tidur. Ni cewek kayaknya ga suka banget, deh, liatnya. Gue jadi kayak diajak bersaing gitu loh, Sash, kesel ga sih lo kalo ada di posisi gue?"
Sashi menggaruk keningnya sambil memejamkan mata. "Iya iyaaa... gue ngerti. Ya kalo gue bilang, sih, lo ga perlu khawatir. Wiggy perhatian sama lo tanpa lo minta, sementara Dixie harus minta-minta dulu. Dan lo tahu sendiri Wiggy orangnya lempeng-lempeng aja. Dia ya mau mau aja nganterin si Dixie, as a friend. Mungkin Dixienya aja yang nanti kegeeran, overpede kalo Wiggy nerima permintaannya dia."
"Ya itu maksud gue... Gue ngebayanginnya aja kesel banget. Udah ga ada kontribusi apa-apa, tapi main ikut ke villa."
"Lo sekarang di mana?"
"Lagi duduk di luar, di bawah pohon. Wiggy sama Dixie baru aja pergi. Gue sama yang lain paling setengah jam lagi cabut. Soalnya si Jio masih mau mancing, mau bawa ikannya ke kantor buat dibakar."
"Mereka ga ada bahas soal i********: gue lagi, kan?"
"Nggak, kok, udah aman. Pada percaya kalo yang bukaakun lo itu Arin."
"Bagus, deh. Ya udah, karena lo tadi bilang lagi sarapan sandwich, sekarang gue ikut laper. Mau turun ke bawah dulu."
"Eh beneran itu cottage-nya si Jeff bagus bener. Gue jadi pengen ke sana."
Noni melihat foto-foto yang Sashi upload di feed i********: dan story-nya, Sashi seringkali menggugah banyak hal di akun i********: baru yang diberi nama lain layaknya anonymous. "Emang cakep bangeeet... gue malah ngebayangin dari kemaren, House of Skills ngereview cottage ini. Selain pemandangannya cakep, pondoknya nyaman banget, menu restorannya enak-enak, ada spa pula di depan. Gue udah kayak ratu banget deh waktu spa kemaren."
"Aduh kebayang. Udah lama juga gue ga spa. Ya udah deh, sana lo sarapan. Jangan lupa PAP makanannya di story lo, biar gue makin ngebet dateng ke sana."
"Okaay... bye!"
Sashi pun turun dari tempat tidur untuk mencuci wajah dan menggosok gigi di wastafel. Setelah menggunakan serum wajah, ia kemudian turun dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Sashi menyukai pohon-pohon besar yang berada di depan pondok dengan dedaunan yang jatuh seperti musim gugur.
Suasana di luar masih tampak sepi. Orang-orang sepertinya masih beristirahat. Hanya ada beberapa pekerja yang membawa sprei bersih serta alat alat kebersihan. Sashi memutuskan untuk makan di kafe saja, karena ia sudah beberapa kali makan di restoran. Suasana kafe lebih santai dan terdapat musik dari penyanyi-penyanyi R&B.
Salah satu waiters mengantarkan buku menu. Sashi langsung memesan omlette keju dan segelas cokelat panas. Ia kemudian mengirim pesan pada Soni. Rasanya tidak enak jika makan sendiri.
[Bang, udah bangun belum? Sarapan di kafe, yuk!]
Sashi lebih merasa akrab dengan Soni yang memiliki banyak kesamaan selera dengannya. Sementara Franky tampak lebih liar, dan Jeff lebih kaku. Sosok Soni mengingatkan Sashi pada Emil yang juga memiliki banyak kesamaan dengan Sashi. Sashi bisa membicarakan apa pun dengan manager di kantornya itu.
"Hey, boleh duduk di sini?"
Sashi menengadahkan kepala. Ia Ia agak kaget mendapati adiknya Jeff berdiri di sana. "Oh, boleh boleh.... kamu Jamie, kan? Adiknya Jeff."
Jamie tersenyum simpul. "Yaps. Kamu Sashi yang tinggal di rumah belakang kakakku, Jeff."
"Iyaps," jawab Sashi yang juga tersenyum. "Mau sarapan juga? Pesen apa?"
"Hhhmmm..." Jamie menelusuri menu dengan telunjuknya. "Scramble egg plus sausage, kayaknya. Kamu pesen apa?"
"Aku udah pesen omlette sama cokelat panas."
Jamie pun menjentikkan jari untuk memanggil pelayan. "Mas, saya pesen scramble egg plus sausage, pake french fries juga, ya. Minumnya orange juice."
"Baik, pesanannya segera diproses."
Jamie manruh kedua tangannya di atas meja. "So, kita belum ngobrol-ngobrol dari kemaren. Aku juga belum tahu banyak soal kamu, selain bahwa kamu tinggal di rumah belakang."
"Jadi harus introducing dulu, nih?" tanya Sashi bercanda sehingga membuat Jamie tertawa.
"Hahahah... umur aja, deh. Karena aku ngerasa umur kita ga jauh beda."
"Aku dua puluh tiga. Kamu?"
"Nah kan? Aku dua puluh empat. Beda setahun doang."
"Temen-temen kamu masih pada di sini?"
"Nggak, pas acaranya kelar subuh tadi, mereka langsung balik. SOalnya emang udah booking hotel buat dua minggu."
"Aaah... ic ic."
Sashi dan Jamie menghabiskan waktu selama satu jam lebih sambil menikmati sarapannya. Sedari awal, Sashi sudah menarik perhatian Jamie. Bahkan selama party berlangsung, Sashi tidak sadar bahwa Jamie selalu diam-diam memperhatikannya. Namun Jamie merasa sungkan untuk berkenalan lebih jauh karena di sana ada kedua orangtuanya, dan Sashi selalu dikelilingi oleh teman-temannya Jeff.
"Oh kamu asli Bandung? Kelihatan sih mukanya sunda banget. Aku punya beberapa temen dari Bandung dan mereka cantik-cantik, sama kayak kamu," kata Jamie.
"Hehehe makasih... kamu sendiri ga ada rencana stay di Indonesia?"
"Ada, sih. Karena temenku banyak di sini juga. Masih rencana, tapi belum tahu realisasinya kapan. By the way, sore ini kamu ada rencana apa?"
"Uhm... apa ya? Jadwalku selama di sini sih pengennya Netflix doang, rebahan, makan enak, udah," jawabnya sambil nyengir. "Pengen full rest sebelum kembali ke kerjaan."
"Bener-bener... tadinya mau ngajakin kamu maen. Tapi kalo emang lagi rest, maybe next time."
Sashi mengangguk. "I'm sorry, akhir-akhir ini aku hectic banget sampe pola tidur dan makan aku rusak. Jadi udah niatin ambil cuti lima hari buat santai-santai aja."
"I got it."
Dari arah pintu tiba-tiba Soni datang disusul oleh ranky dan Jeff. "Woeeee... udah makan duluan rupanya dia," ujar Soni ketika melihat Sashi.
Sashi tertawa. "Uah aku chat, ya, dari tadi. Karena ga dateng juga, ya udah aku pesen duluan."
Jeff tampak terdiam melihat Sashi duduk bersama adiknya. Ia mengambil kursi di meja sebelah sambil membuka menu.
"Ya udah kalo gitu, aku balik ke pondok ya, Sash. Makasih udah mau sarapan bareng."
"Oke, Jamie."
Franky menimpali. "Loh mau ke mana, Jem? Ga nambah lagi sarapannya?"
"Nggak, Bang, udah kenyang. Yo, aku duluan, mau pergi soalnya."
"Oke oke, Jem, hati-hati."
Sashi menjilat bibirnya. Ia menduga bahwa Jamie dan Jeff terlihat canggung satu sama lain. Mungkin saja mereka sedang ada masalah intern sebagai adik kakak. Sebagai anak tunggal, Sashi tidak pernah merasa bermasalah dengan saudara kandung. Karena Dixie beda cerita lagi.