Karena tidak tega, ibunya Jeff memberi dua potong daging wagyu untuk suaminya. Selalu saja begitu. Mulutnya akan otomatis mengomel meski tangan mengkhianati dengan selalu memberi sepotong dua potong makanan yang dipantang bagi penderita asam urat.
“Udah, ya, jangan minta lagi. ABis ini langsung minum obat.”
“Iya, pasti papa minum, kok.”
“Makanya jangan bandel, kalo makan tuh lihat-lihat dulu kolesterolnya, gulanya dan lain-lain.”
“Ya gimana mau jaga makan? Kadang partner atau klien papa ngajakin makan di restoran yang menunya enak-enak semua. Susah buat nolaknya.”
“Ya itulah kebiasaan papa sedari muda. Ga bisa bilang ‘nggak’, jadinya pas tua begini baru segala kerasa. Nggak liat temen-temen papa itu udah ada yang kena diabetes akut sampe kakinya harus diamputasi? Atau si Pak David yang kemaren kena stroke, sekarang sebelah badannya lumpuh dan susah ngomong.”
“Kalau dipikir-pikir, mending sakit di usia tua daripada ga bisa menikmati makanan enak sama sekali. Bua tapa berumur panjang kalo ga bisa menikmati kenikmatan dunia, seperti misalnya rending, cincang atau gorengan. Iya ga, Bu Putu?” Ayahnya Jeff mencari pembelaan.
Bu Putu yang sedang ikut sarapan di meja sebelahnya langsung mengangguk. “Betul juga ya, Pak. Saya juga mudah tergoda sama makanan enak, apalagi yang ada di restoran ini. Sama dessert buatan Sashi. Hehehee…”
Ibunya Jeff berdecak. “Ah kalian ini, yang larang makan makanan enak itu siapa? Ya boleh, dong, sesekali asal ga berlebihan dan diimbangi sama olah raga,” katanya. “Omong-omong, emang seenak apa sih dessert buatan Sashi?”
Saking penasaran, Ibu Jeff pun langsung membuka dessert boks tersebut dan menyendoknya sedikit.
“Enak ga, Bu?” tanya Bu Putu.
Merasa tidak cukup, Ibunya Jeff kembali menyuapkan lebih banyak ke dalam mulut. “Wow… bener nih kata Bu Putu. Enak banget ini. Pap, tahu ga took kue yang di deket rumah kita? Itu kan mahal-mahal banget dan rasanya sama persis sama ini.”
Ayahnya Jeff ikut membuka dessert boks miliknya. “Mana coba sini Papa cobain.”
Untuk beberapa saat, kedua orangtua Jeff sangat fokus menikmati dessertnya, sementara Bu Putu memasang wajah antusias, menunggu review mereka dengan sabar.
“Wahh… yummy banget ini,” ujar papanya Jeff.
“Iya kan, Pap. Lembut banget, cokelatnya pas dang a terlalu manis. Ini masih ada, Bu Putu?”
“Ngg… anu, itu boks terakhirsih, sengaja sama amanin buat Bapak sama Ibu. Kemarin Sashi bikin banyak dibantuin sama Wayan. Cuman pas party semalam, pak Franky bagi-bagiin ke tamu lain. Pak Sonia ja sempet marah karena sebenernya itu eclaire pesenan dia, bukan buat dibagi-bagi di party,” jelas Bu Putu.
“Wah, sayang sekali. Padahal enak nih buat ngemil nanti malem sambil nonton drama korea.”
“Minta dibuatin lagi aja, Bu. Kan orangnya ada di sini. Lagian, dia juga pulangnya ke rumah Pak Jeff. Sashi pasti mau aja kalo disuruh bikin. Wayan aja minta, langsung dibikinin.”
Ibunya Jeff langsung bersidekap. “Eh, Bu Putu… kamu tahu ga sih Jeff sama Sashi itu kenalan di mana? Jeff belum cerita. Tiap ditanyain, jawabannya ya gitu deh ya gitu deh mulu.”
“Kurang tahu juga saya, Bu. Tapi kalo ga salah, katanya kan Sashi baru merantau di sini. Eh, tasnya ada yang nyuri. HP, ATM, dompet sampe uang cashnya lenyap alias raib. Nah, untung ada Pak Jeff yang nawarin buat tinggal dulu di rumah.”
"Oooh begitu, ya."
***
Suara klakson bus yang lewat membangunkan Noni dan Wiggy dari tidurnya. Noni terkaget karena posisi kedua kakinya berada di pangkuan Wiggy. Hal tersebut pasti terlihat oleh semua karena mereka sudah bangun. Wiggy yang baru sadar pun, langsung mneurunkan kaki Noni perlahan ke lantai.
Semalam, ia memang sengaja menaikkan kaki Noni ke pangkuannya karena Noni meminta lima belas menit sekali untuk ditepuk supaya terlepas dari ketindihan.
"Morning, dua sejoli. Mau sandwich ga?" tanya Emil yang membawa piring besar berisi tumpukkan sandwich buatannya.
"Mau dong, Mil," jawab Noni.
"Gy, lo mau juga?"
Wiggy mengangguk sambil mengusap tengkuknya. "Gue ke kamar mandi dulu."
Emil pun membagikan sandwich tersebut ke semua orang di luar. Revo sedang bernyanyi sambil memainkan gitar, menemani Jio yang sedang mencoba memancing ikan, Shaki duduk di teras sambil memainkan Mobile Legend, sementara Dixie dan Renata sedang duduk di bawah pohon. Mereka terlihat sedang mengakrabkan diri.
Emil kembali masuk dengan piring kosong. "Non, lo sama Wiggy gue bikinin dulu, ya. Tadi mau bikin buat kalian takut kebangunnya lama, ga enak kalo udah dingin."
"Oke gapapa, nyantai aja. Sini gue bantuin."
Noni mengikuti Emil ke konter dapur. Emil mnegisi rotinya dengan telur dadar, potongan sosis, saus, mayonaise serta daun selada.
"Kok bisa kalian tidur kayak gitu di sofa?" tanya Emil setengah berbisik.
Noni mengedikkan bahu. "Gue juga gak tahu. Semalem gue ga bisa tidur, ketindihan mulu. Terus gue duduk di sofa dan si Wiggy nyamperin. Dia nyuruh gue tidur aja, dia jagain. Dan gue minta tiap lima belas menit sekali dia tepokin kaki gue gitu. Kalo ketindihan kan harus ada yang megangin kita supaya lepas ketindihannya."
"So sweet."
"Emang anak-anak liatnya gimana?" tanya Noni penasaran.
"Shaki sama Revo cuman ketawa doang. Tapi lo harus liat reaksinya si Dixie. Pait banget mukanya," jelas Emil geli sendiri.
"Haa masa?"
"Yo'i keliatan banget cemburunya."
Noni tertawa tanpa bersuara. Ia sendiri bahagia karena Wiggy akhir-akhir ini tidak segan menunjukkan kepeduliannya. Tentu saja hal ini akan menjadi headline news begitu Noni mengirim pesan pada Sashi nanti.
"Oh iya, gara-gara lo semalem ga bisa tidur juga, tadi si Jio bilang kita balik ke kantor hari ini."
"Duh jadi ga enak guee... Emang kalian ga apa-apa baru sehari udah balik lagi? GUe sih balik sendiri juga oke aja. Kalian bisa lanjut di sini."
"Nggak lah, balik semua. Yang penting tujuan kita udah kesampein. Sebisa mungkin ga perlu ada perang dingin lagi. Fokus buat majuin House of Skills aja."
Noni mengangguk. Ketika itu pula, Wiggy datang dengan rambut yang basah. "Udah jadi sandwichnya?"
"Lagi digorengin dulu telor sama sosisnya," jawab Noni. "Oya, Gy, kata Jio, hari ini kita balik kantor lagi."
"Iya tadi dia bilang. Gue paling balik duluan sama Dixie. Dia katanya harus cepet nyampe Bandung, ada janji sama temen-temennya."