Eps. 21 Danau Biru

1368 Kata
Tubuh Dou Jin hanyut terbawa aliran arus air sungai akhirnya terdampar di sebuah tempat yang ia sendiri tidak tahu di mana itu tempatnya. Begitu Dou Jin membuka mata, rasa sakit sebab luka dalam yang dibuat oleh Naga besar kembali terasa sakit. Dou Jin memegang dadanya yang terasa sakit, ia sedikit meringis kesakitan karenanya. Dengan perlahan Dou Jin mencoba berjalan menuju ketepi sungai, berniat untuk duduk bersila dan berusaha masuk ke dalam ranah jiwanya demi memeriksa kondisi Naga kecil. Dalam pandanganya ia melihat Naga kecil yang masih tertidur, kondisinya sudah sembuh dan luka di sekujur tubuhnya pun sudah hilang. Tumbuhan kelas ilahi di dalam ranah jiwanya menyembuhkan luka pada Naga kecil, dengan tumbuhan yang menyembuhkan Naga kecil, regenerasi Dou Jin menjadi hilang. Sebab itulah luka dalam Dou Jin belum juga sembuh, meskipun sudah melewati waktu yang cukup lama. Perlahan Dou Jin membuka matanya dan kembali ke dalam kesadarnnya, ia mencoba memejamkan mata lagi dan memfokuskan pikirannya untuk menyerap energi dari alam untuk memulihkan tubuhnya. Wussss Aliran energi tak kasap mata perlahan terbang menuju tubuh Dou Jin membentuk sebuah pusaran energi yang langsung terserap masuk ke dalam tubuh. Chi dari alam itu langsung habis terhisap masuk ke tubuh Dou Jin, tumbuhan kelas ilahi itulah yang menyerap habis energi tersebut . Energi itu berasal dari alam sekitarnya, tumbuhan, pepohonan dan bahkan danau di depan Dou Jin menyumbangkan seluruh energinya untuk Dou Jin. Proses penyerapan chi yang di lakukan Dou Jin bisa dibilang proses yang mengerikan, pasalnya seluruh energi dari alam sekitarnya akan langsung terkuras habis lantaran daya hisap pada tubuh Dou Jin yang kuat. Jika sahaja Dou Jin tidak memiliki tanaman kelas ilahi di dalam ranah jiwanya, tentu ia tidak akan mampu menyerap chi dari alam sehebat ini. Keberadaan akar rohnya yang tertutup oleh unsur 'Yang' dalam tubuh membuat perkembangan akar rohnya menjadi buruk. Itu terbukti dari besarnya akar yang Dou Jin miliki. Beruntung Dou Jin memiliki tumbuhan kelas ilahi dalam tubuhnya, dengan itu semua kekurangannya sebab akar roh bisa tertambal. ****** Satu jam, dua jam sampai tidak terasa sudah setengah hari lebih Dou Jin menyerap chi dari alam. Proses penyerapan chi yang ia lakukan, segera ia hentikan ketika ia sudah tidak merasakan lagi energi chi dari alam. Pohon, tanaman bunga liar, rumput liar tidak jauh di sekitar Dou Jin nampak layu dan kering. Jika ada seorang pendekar yang melihat proses kultivasi Dou Jin maka bisa dipastikan ia akan terkejut dan ngeri secara bersamaan. Dan untuk para pendekar yang berbakat akan langsung muntah darah begitu melihat kehebatan tubuh Dou Jin dalam penyerapan energi chi dari alam. Tidak ada dalam sejarahnya di benua dataran tengah ada seorang pendekar yang tengah berkultivasi, akan mampu menyerap energi chi dari alam sampai membuat energi chi disekitarnya habis. Setinggi apa pun bakat yang dimiliki seorang pendekar, atau pun sebagus apa pun kualitas akar roh yang dimilikinya, tidak akan ada yang mampu menyerap chi dari alam sekstrim Dou Jin. “ Huhhh. Sekarang apa yang harus aku lakukan?” batin Dou Jin seraya menghela nafas bingung. Berada dimana ia saat ini dan bagaimana kehidupam selanjutnya yang akan ia jalani menjadi masalah baru untuk Dou Jin. Tubuhnya sudah kembali pulih seperti sedia kala. Penyerapan chi dari alam yang langsung terhisap oleh tanaman kelas ilahi, dengan sendirinya meyembuhkan luka dalam yang Dou Jin rasakan. Saat ini Dou Jin tengah berpikir bagaimana kehidupan selanjutnya. Tujuan, alasan dan keinginan seperti hilang bersamaan dengan hadirnya tumbuhan kelas ilahi dan Naga kecil dalam ranah jiwanya. **** Tidak jauh di tempat Dou Jin berada ada sekelompok orang sedang berburu, mereka adalah sepasukan pengawal dengan satu Tuan Putri yang melakuakan perburuan. Selang beberapa waktu berlalu pasukan itu terlihat berpencar mencari Tuan putri mereka, hewan buruan yang lolos membuat rombongan pasukan ini kehilangan jejak tuan putrinya. “ Cepat cari!! sebelum hari menjadi gelap, kita harus menemukan Tuan putri,” seru pemimpin rombongan dengan suara tegas. Meskipun ia memiliki wajah dan ucapan yang tegas, namun sosok ini tidak bisa menyembunyikan kehawatiranya saat kehilangan jejak Tuan putri. Bagaimana pun juga tuan putri adalah anak seorang Kaisar, anak semata wayang dari Kaisar Xiao Chen, seorang Kaisar yang menguasai wilayah kekaisaran Han. Sudah tentu menjadi tanggung jawab yang besar bagi pemimpin pasukan untuk mengawal anak orang nomor satu dalam kekaisaran Han. Jika sahaja tuan putri tidak bisa ditemukan maka Kaisar akan turun langsung untuk menghukum seluruh pasukan karena tidak becus dalam mengawal putri kesayangannya. Waktu terus berlalu dan tidak terasa matahari telah pergi dan malam pun tiba. Sosok wanita berusia delapan belas tahun dengan kulit seputih giok, mata yang sipit dengan rambut lurus serta wajah manis karena gigi kelincinya, tersesat tidak tahu jalan. Wanita ini bernama Xiao Mei, ia berlari begitu cepat mengejar hewan buruannya. Tanpa ia sadari ternyata ia sudah meninggalkan rombongan pasukan pengawal dibelakangnya. Ia sendiri sebenarnya tidak khawatir dengan jalan pulang maupun kondisi hutan yang gelap. Yang ia takutkan adalah jika sepasukan pengawalnya akan mendaptkan hukuman dari ayahnya karena belum pulang berburu saat waktu telah menjadi gelap. Merasa khawatir dengan pasukannya, wanita ini bergegas kembali mengikuti arah dimana sebelumnya ia telah pergi, berpikir itu adalah jalan yang benar ternyata ia tersesat lebih jauh menuju ke dalam hutan dan kehilangan arah untuk kembali. Untung sahaja ia mengenyam pendidikan di usia dini saat di kekaisaran, ia yang pernah mendengar dari salah satu pesan gurunya bila tersesat dalam hutan maka harus mencari arah terlebih dahulu, jika bingung dalam mencari arah maka sebisa mungkin untuk mencari sungai. Dengan sungai sebagai tempat yang dibutuhkan oleh semua orang maka tidak akan menjadi sebuah kesulitan untuk menemukan permukiman warga, atas dasar itulah wanita ini bergegas mencari sebuah sungai agar bisa kembali kekaisaran. Wanita ini terus menajamkan pendengarannya, mencoba memfokuskan telinganya agar dapat mendengar aliran air sungai. Di saat ia akan sampai di sebuah sebuah sungai, ia melihat danau dengan anak sungai kecil di dekatnya ia terkejut atas pemandangan yang ia saksikan. " Danau Langit, bagaimana bisa aku tersesat sampai di sini," ucap Xiao Mei yang masih tidak percaya akan apa yang disaksikannya. Danau Langit adalah sebuah danau yang terletak di perbatasan kekaisaran Tang dan Han, danau itu memiliki ciri khas kusus yaitu berwarna biru seperti langit. Keberadaan Danau Langit sangat sulit ditemukan, danau yang terkenal sebagai tempat mandinya para dewa itu sebenarnya sedikit sekali orang yang pernah menemukannya. Xiao Mei yang menyaksikan langsung seperti apa Danau Langit, teringat akan pesan Penasehat kerajaan sekaligus pamannya. ‘ Di danau langit kau akan melihat sosok lelaki sedang bersandar pada pohon Ek, pohon itu seperti menggantung bulan sabit. Jika menemui momen tersebut pastikan agar dirimu tidak terlibat denganya, jangan mencoba melihatnya, mengikutinya dan penasaran akan siapa sosok lelaki tersebut. Jika kau tidak mengindahkan larangan ini maka kau akan menjumpai kehidupan yang sulit bahkan menyedihkan. Namun kau akan menemukan sesuatu yang paling dicari oleh seluruh orang di dunia ini.’ Sekarang Xiao Mei mendapakan kejadian yang diramalakan oleh sesepuh kerajaan, dalam pesannya Penasehat kerajaan yang memiliki kemampuan untuk meramal masa depan mengatakan untuk tidak terlibat dengan lelaki yang saat ini ia lihat. “ Menemukan apa yang paling dicari semua orang, apa dengan mengikuti orang itu aku akan menemukan cinta sejati?” kata Xiao Mei penasaran. Namun karena Xiao Mei penasaran akan pesan terakhir sesepuh kerajaan, ia tidak lagi memikirkan risiko akan keputusan yang diambilnya. Akhirnya wanita ini diam-diam mengikuti Dou Jin dari jarak yang aman. ***** Dou Jin sendiri yang tidak tahu apa tujuan, alasan dan keinginanya memilih beristirahat kemudian meletakan punggungnya bersandar pada pohon Ek besar. Ia menatap lurus kedepan. Dengan penerangan rembulan yang cukup terang, ia mampu dengan mudah melihat Danau berwarna hitam dan putih karena kurang pencahayaan. Bila Dou Jin melihat danau itu pada siang hari tentu ia bisa melihat Danau itu berwarna biru, seperti birunya langit. Tidak heran bila ada sebagian orang yang mengatakan bahwa danau ini adalah danau langit atau cermin langit karena warnanya yang sama persis dengan langit. Sebenarnya Dou Jin sudah mencari jalan untuk sampai di permukiman warga, namun karena ia tidak tahu arah akhirnya ia sampai dia Danau Biru ini. Merasa tidak akan menemuka jalan menuju ke permukiman warga, akhirnya Dou Jin memilih untuk beristirahat dengan tidur bersadar di bawah pohon besar. Sebelum melanjutkan perjalanannya. Satu jam, dua jam dan sampai tiga jam berlalu, Dou Jin yang tertidur terbangun saat merasakan ada aura membunuh dan aura kematian tidak jauh di tempat lokasinya berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN