Eps. 19 Dia Ayahku

1369 Kata
Pasukan kekaisaran yang dipimpin langsung oleh Tang San, telah sampai di lokasi bekas pertarungan Permaisuri. Dengan mengikuti semua jejak yang berhasil mereka lacak akhirnya mereka dapat sampai di tempat itu. Semua pasukan mencari sebuah petunjuk di lokasi tersebut, mereka berpencar menggeledah satu persatu mayat yang tegeletak mati. Kondisi mayat di lokasi yang mati dengan kepala yang putus dan leher yang setengah putus, menampakkan kondisi para pendekar yang mati dengan keadaan sama. Di saat semua orang tengah sibuk mencari petunjuk, Tang San juga melakukan hal serupa, hanya sahaja ia lebih teliti dibandingkan para pasukannya, ia mengamati bekas luka dan bagaimana caranya para orang-orang ini mati. Dengan petunjuk sederhan itu ia dapat melihat pendekar mana yang telah melakukan pembunuhan tersebut. Dan ia juga bisa menyimpulkan berapa jumlah orang yang telah melakukan pembunuhan ini. Berbeda dengan pasukannya dan para Jendral yang ia bawa, mereka hanya mencari petunjuk lencana, tanda pengenal dan cincin ruang, namun petujuk-petunjuk tersebut tidak mereka dapatkan satu pun. “ Bekas luka yang rapih dengan senjata tajam dan satu lagi luka yang disebabkan oleh pukulan bertenaga dalam yang sangat kuat. Kombinasi serangan bersama yang bagus, mereka seperti sudah bertahun-tahun bekerja sama,” gumam Tang San yang terus mengamati dengan teliti mayat yang tergeletak disampingnya. Tang San mengamati dengan jeli kembali mayat yang tegeletak mati dengan keadaan yang sama itu, sampai suatu masa ia dapat menarik sebuah petunjuk baru darinya. “ Mereka berlari kesini dan sepertinya kedua pendekar ini tergesa-gesa, mereka semakin menjauh kesana,” gumam Tang San yang mengikuti arah pergerakan para pendekar yang tergeletak mati. Ia juga memeriksa dengan cermat jejak tanah bekas pertarungan yang telah terjadi. Dengan semua pengamatan yang ia periksa dari pertarungan ini, ada setidaknya dua pendekar yang membantai para pasukan berseragam hitam. Kedua pendekar itu memang berhasil membantai seluruh pasukan berseragam hitam, namun ada suatu hal yang menyebabkan kedua pendekar itu berlari tergesa-gesa ke barat. Entah itu karena mereka tengah di kejar waktu, atau pun sedang menjadi buronan. Tang San hanya bisa menebak kedua hal itu sahaja. Sebenarnya Tang San menemukan jejak baru yang bisa membantunya untuk menemukan keberadaan istri dan anaknya. Namun sayangnya ia tidak mengetahui bahwa kedua pendekar yang berlari ke barat itulah yang sedang ia cari selama ini. “ Pasukan kita pergi ke arah Barat ikuti aku dan bagi dua kelompok pasukan untuk memeriksa lebih detail lagi pertempuran yang telah terjadi,” ucap tegas sang Kaisar dengan lantang. " Perhatikan baik-baik para pendekar yang mati itu, lihat apakah ada salah satu dari mereka yang kalian kenali," seru Tang San kembali menambahkan instruksi. “ Laksanakan, Yang Mulia.” “ Laksanakan, Yang Mulia.” Pasukan kekaisaran bergerak menjadi dua kelompok sesuai dengan instruksi Tang San, satu kelompok pergi bersamanya menuju arah barat untuk menemukan jejak terakhir dari kedua pendekar yang melarikan diri. Dan satu kelompok lagi memeriksa lebih detail lokasi disekitarnya. Sebenarnya dalam hati Tang San terbetik sedikit harapan, bahwasanya kedua pendekar itu adalah istri dan anaknya. Hanya sahaja Tang San tidak suka berharap, dan lebih tepatnya ia tidak suka kecewa. Ia hapus harapan segera dalam hatinya. Tang San lebih menyukai sesuatu yang logis dan ia selalu mengedapankan logika dibandingkan harapan kosong. ********* “ Lapor Pemimpin, Kaisar sudah berada tepat di belakang kita, apa yang harus kita lakukan,” ucap salah satu ajudan pria sepuh yang menjabat sebagai Penasehat kerajaan. “ Huuhhh, sekarang satukan semua kelompok kita menjadi dua kelompok besar, satu kelompok pergi menuju ke dekat tebing tanpa dasar, disana kalian akan menenukan empat mayat yang mati. Sembunyikan mayat itu dan hapus semua jejak yang berada dalam lokasi tersebut. Satu kelompok lagi pergi denganku menuju ke istana, lupakan soal kambing hitam, kita punya banyak waktu untuk menutup semua kejadian ini,” ucap pria sepuh sebelum menghela nafas berat penuh kekecewaan. Raut wajah yang sarat akan kekecewaan Liu Kang tunjukan, rencana yang sudah ia kerjakan belasan tahun yang lalu akhirnya gagal. Sebab kecerobohan pasukannya sendiri. Wajahnya memang terlihat kecewa, tetapi berbeda dengan hatinya. Ia masih memiliki banyak harapan akan ambisinya. Keinginan kuatnya untuk menjadi seorang Kaisar, membuatnya tidak ingin lemah hanya karena kegagalan rencana kecil. “ Laksanakan, pemimpin.” Kelompok ini terbagi menjadi dua sesuai dengan perintah pemimpin mereka. Dengan jarak yang lebih dekat, akhirnya kelompok ini berhasil menghilangkan jejak pertempuran terakhir yang menjadi bukti kematian Permaisuri dan hilangnya Putra Mahkota. ****** Di dasar jurang Naga Besar sebesar puluhan meter dengan warna emas yang sangat terang melesat terbang menuju gua. Merasa energi alam disekitarnya terhisap secara tidak normal membutanya merasakan ada sesuatu yang ganjil di tempat telurnya berada. Wussssss Jarak yang tidak jauh membuat Naga besar ini dengan mudahnya cepat sampai di tempat tujuan, di bibir gua ia melihat telurnya telah pecah dan tanamannya telah hilang. Roaarrrrr Brukk Melihat telurnya telah hilang dan tanaman kelas ilahinya juga hilang, Naga besar meraung geram. Dou Jin yang sedang bermeditasi dikejutkan oleh sosok Naga Besar yang berteriak, dengan aura yang telah ia pusatkan di dalam mulut. Naga Besar menghantam tubuh Dou Jin dengan sebuah raungan. Raungan berintens tenaga dalam itu berhasil membuat tubuh Dou Jin terhempas menabrak dinding di ujung gua. “ Sial, masalah lama kelar dan masalah baru datang,” umpat kesal Dou Jin, ketika mendapatkan sebuah serangan. Kekutan fisik Dou Jin memang sudah meningkat pesat, saat ini kekuatan fisiknya sudah setara dengan ayahnya sendiri Kasar Tang, Tang San. Sumber daya kelas ilahi dan kontrak jiwa dengan Naga Kecil membuat fisiknya memiliki ketahanan dan kekerasan yang sangat kuat. Jika sahaja raungan tadi diterima pendekar biasa seperti Penasehat kerajaan tentu seteguk darah akan keluar dari mulutnya. Mengingat ketahanan dan kekutan fisik yang biasa tidak akan mampu menahan Raungan penuh energi Chi. Naga itu memperhatikan sekeliling gua, kepala yang masuk setengah badan menutup jalan Dou Jin untuk melarikan diri. Setelah meneliti dengan cermat Naga itu akhirnya merasakan aura anaknya yang berada dalam tubuh Dou Jin. “ Manusia baji*nga*n. Anakku kau jadikan pesuruhmu,” dengus kesal Naga Besar. Dou Jin yang menyaksikan siluman itu dapat berbicara, terperanjat dengan membuka lebar mulutnya. " Siluman legendaris, pantas sahaja ada sumber daya kelas ilahi berada disini," batin Dou Jin mengambil kesimpulan atas alasan keberadaan sumber daya kelas ilahi. Wussss Krakkk Belum selesai terkesima, Dou Jin mendapatkan serangan cepat kearahnya. Kepala Naga itu melesat menuju Dou Jin dan mengigit tubuhnya. Tubuh Dou Jin yang saat ini sudah memiliki ketahan yang lebih tinggi membuatnya tidak merasakan sakit saat di gigit oleh Naga. Meskipun darah tetap keluar ketika tubuhnya di gigit oleh Naga. Duarrr Byurrr Naga itu terbang keluar dan melemparkan tubuh Dou Jin yang berada dalam gigitannya, membuat tubuhnya menabrak sisi tebing dan menjatuhnya ke sungai. Duarrrrr Byurrr Kali ini Naga besar mengeluarkan bola energi dari mulutnya, bola energi itu berwarna merah keemasan yang mengandung chi yang sangat kuat, bola itu melesat begitu cepat menuju Dou Ji yang terjatuh di sungai. Ledakan besar terjadi, menciptakan gelombang air besar yang mampu menghanyutkan batu besar di berbagai sisi sungai. Dou Jin yang memiliki tubuh lebih ringan dari batu dengan cepat terlontar dan menabrak berbagi sudut sungai yang penuh dengan batu. Krakk Duarrr Melihat Dou Jin yang masih hidup, Naga besar melesat dan menggigitnya kembali dan melemparkan tubuh Dou Jin menabrak tebing, tidak membiarkan tubuh kecil Dou Jin kesempatan untuk menyerang. Naga besar kembali menembakkan bola energi ke tubuh Dou Jin. Penyiksaan di mulai, tubuh Dou Jin sekarang sudah penuh dengan luka masih sahaja terus diserang habis-habisan. Dan anehnya lagi Dou Jin yang terus menerus menderita luka karena berbagai serangan, sama sekali tidak merasakan sakit apa pun. Luka disekujur tubuhnya juga beragsur-angsur sembuh sediakala, Dou Jin sendiri juga merasa aneh dengan kondisi tubuhnya. Ia merasa setelah menyerap tumbuhan kelas ilahi membuat tubuhnya memiliki ketahanan luar biasa dan regenerasi yang luar biasa pula. Melihat hal itu, Naga besar semakin geram. Tumbuhan yang ia peroleh dengan usaha penuh perjuangan dan pengorbanan bukan ia sendiri yang menikmatnya Lebih dari lima ratus tahun prosesnya agar bisa menumbuhkan tumbuhan itu, belum lagi untuk membesarkannya. Memperbanyak satu dahannya sahaja membutuhkan energi chi nya yang sangat besar.. Sekarang tanaman itu sudah menyatu dengan tubuh manusia yang telah mencuri telur miliknya. Hal itu jelas, menyulut kebencian yang dalam Naga Besar kepada Dou Jin. Roarrr “ Manusia baj*ingan, aku harus membunuhmu bagaimana pun caranya.” “ Berhenti, jika kau ingin membunuh ayahku. Kau akan berurusan denganku,” ucap Naga kecil keluar dari ranah jiwa Dou Jin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN