“ Apa ada yang keberatan jika aku menjadi pemimpin utama Bandit Serigala Hitam?”
Seluruh anggota bandit menatap sinis Dou Jin, mereka merasa ada yang salah dengan perkataan pemimpin ketiga, Lang Lei. Pemimpin ketiga menjelaskan bahwa Dou Jin membantai seluruh anggotanya hanya dengan sekali pukulan.
Namun begitu mereka melihat Dou Jin. Rasa cerita yang terlihat sadis dan over power itu seperti mustahil.
Melihat perawakan Dou Jin yang terlihat masih muda dan terlebih lagi semua orang yang melihatnya pasti tidak akan merasakan aura petarung. Hal tersebut tentu membuat semua orang ragu untuk percaya atas setiap cerita yang Lang Lie ucapkan.
Semua orang terlihat mematung dan merenung, untuk memutuskan permintaan Dou Jin itu bukanlah suatu hal yang mudah.
Setelah diam untuk beberapa detik, saat ini semua bandit menjadi gaduh dengan suara yang berbisik-bisik, mereka ramai membicarakan pernyataan Dou Jin dan cerita Lang Lie.
“ Apa dia sudah gila, jiwa silat sahaja tidak ia miliki bagaimana mungkin ia berani memantang para pemimpin.”
“ Cerita Pemimpin Lang sepertinya berlebihan. Sangat sulit bagiku untuk percaya pemuda itu bisa membunuh pendekar Bergalar dengan mudah, hanya dengan satu kali pukulan.”
“ Sssst, biarkan para Pemimpin yang ambil tindakan. Kita tidak boleh meremehkannya, bisa jadi dia adalah salah satu jagon silat yang mengunakan ilmu awet muda dan menyamarkan tingkatannya sehingga penampilannya dapat menipu semua orang.”
Di saat para anggota sedang berbisik-bisik, dua pemimpin masih menatap tajam Dou Jin dengan tatapan menyelidik dan penuh perhatian, kedua pemimpin bandit itu sama sekali tidak meragukan perkataan pemimpin ketiga, Lang Lie.
Hanya sahaja mereka masih sukar menerima anak muda seumuran Dou Jin mampu dengan mudahnya membunuh pendekar bergelar dengan mudah.
“ Aku tanya apa ada yang keberatan bila, aku menjadi pemimpin utama!!?” bentak Dou Jin kesal dengan sikap seluruh orang yang mengacuhkannya.
Mendengar pernyataan Dou Jin, pemimpin pertama yang memiliki tingkatan tertinggi yaitu pendekar Suci gerbang pertama mengerutkan dahinya, sudut matanya berkedut, geram.
Menurutnya Dou Jin terlalu sesumbar dengan ucapannya, bagaimana pun juga Dou Jin masih terlalu muda seratus tahun untuk pantas berbicara demikian.
Mendengar perkataan tersebut dari anak yang terlihat tidak memiliki jiwa silat membuat pimpinan pertama yang bernama Siong Ba marah dan semakin benci.
" Hmpp, Bocah kemarin sore sesumbarnya minta ampun, " dengus kesal Siong Ba kemudian melesat menyerang Dou Jin.
Dengan kecepatan yang begitu cepat seperti anak panah yang lepas dari busurnya, pemimpin bandit pertama melesat menyerang Dou Jin dengan kecepatan penuhnya.
Tangan yang sudah ia lapiskan dengan berbagai enargi chi, menampakan sebuah visi seperti meteor jatuh dari langit, menyaksikan hal tersebut Dou Jin tersenyum kecil seraya menyambut serangan tersebut dengan satu kepalan tinju.
Duarrr
aaarrgggghh
Tangan pemimpin pertama hancur seketika akibat adu tekanan tenaga dalam dengan tangan Dou Jin. Kerasnya tangan Dou Jin saat ini melebihi eksistensi seorang pendekar Suci pada umumnya.
“ JIka aku mau, membunuh kalian semua disini bukanlah pekerjaan yang sulit,” ucap Dou Jin dengan nada datar.
Tampak dari wajah Dou Jin yang meremehkan semua orang di hadapannya. Tingkat pendekar tingkat menengah membuatnya merasa seperti di atas langit.
Dou Jin yang semenjak kecil hidup di Desa Perbatasan merasakan berbagai pandangan kehidupan tentang kerasnya dunia persilatan. Hukum rimba memang menjadi dasar di dunia ini. Siapa yang kuat berhak berbuat sesukanya.
Dan sekarang Dou Jin menyaradari kebenaran hal tersebut.
Duarr
Belum berhenti sampai disitu sahaja, Dou Jin yang berhasil menghancurkan lengan pemimpin pertama Siong Ba, melakukan serangan kembali.
Dengan tendangan memutar yang begitu cepat lewat kaki kanannya, Dou Jin menendang kepala pria tersebut sampai hancur.
Siong Ba yang tengah meringis kesakitan dengan tangan kiri yang memegang erat lengan kanan, tidak mampu berkelit dan menghindar dari serangan kedua yang Dou Jin lesatkan.
Cahaya pagi yang mucul dari timur menyinari penampakan sosok pria dengan kepala hancur dan darah yang menggenang di sekitar lokasi, membuat seluruh orang yang menatap Dou Jin merasakan negeri secara bersamaan.
“ Hormat kepada Bos Besar.”
“ Hormat kepada Bos Besar.”
Seluruh orang langsung menekukan kaki kananya memberikan hormat kepada Dou Jin, sekarang mereka sama sekali tidak meragukan kekuatan Dou Jin sebagai seroang pemimpin.
Pemimpin pertama mereka yang bertingkat Pendekar Suci sahaja dapat dengan mudah Dou Jin bunuh hanya dengan satu serangan apalagi mereka yang baru bertingkat pendekar Bergelar atau Raja.
“ Bagus, keinginanku untuk saat ini hanya satu. Bantu aku mencari Kitab Tanpa Tanding dan Pusaka Penguasa Dunia. Keberadaan Kitab Tanpa Tanding dan Pusaka Penguasa Dunia akan membuat seseorang mempu memiliki kekuatan yang melebihi akal.
Untuk itu aku ingin menjadi orang tarkuat di dunia ini dengan mengumpulkannya. Kalian bisa melakukan kebiasaan dan aktifitas seperti biasanya, dan sisihkan sebagian waktu kalian untuk mencari informasi keberadaan kitab dan pusaka yang aku cari.”
Ucapan Dou Jin yang begitu tegas dan berwibawa membuat semua orang yang mendengarnya terkesan, namun rasa terkesan itu bersamaan dengan berbagai pertanyaan dalam pikiran semua orang.
" Tapi Boss bagaimana cara kami.... "
Setelah mengatakan hal tersebut salah satu pemimpin yang bernama Xiao Lin bertanya tentang ciri-ciri atau bentuk atas benda yang di cari Dou Jin.
Dou Jin sendiri mengatakan ia tidak tahu, dan sedikit menjelaskan bahwa dengan Kitab silat tanpa tanding, dan Pusaka penguasa dunia seorang pendekar akan memiliki jurus yang rumit karena kitab tanpa tanding diciptakan oleh para Dewa.
Sedangakan untuk Pusaka Penguasa dunia adalah pusaka yang miliki roh sendiri hampir sama seperti manusia yang hidup, pusaka penguasa dunia bahan memiliki hati.
Dengan penjelasan tersebut para pemimpin dan anggota bandit sedikit memiliki gambaran atas tugas yang mereka terima.
Walaupun mereka belum memiliki pandangan akan kemana mereka akan mencarinya, tetapi sedikit penjelasan tersebut mampu memberikan petunjuk kepada semua orang.
Menurut para bandit tugas yang mereka terima memang tidak akan mudah, akan tetapi Dou Jin yang tidak mengekang sepenuhnya waktu mereka untuk menyelesaikan tugas. Membuat para bandit mau menyanggupi permintaan Dou Jin.
Setelah selesai menyampaikan keinginannya Dou Jin bersama seluruh anggota bandit menuju markas mereka.
Di perjalanan tidak ada pembicaraan sedikit pun dari semua orang, kematian pemimpin pertama mereka masih membekas jelas dalam hati dan ingatan seluruh bandit, membuat suasana terasa kaku dan cangung.
Dou Jin sendiri tidak merasa berpikir demikian, pikirannya sekarang hanya berisikan bagaimana caranya agar pesan terakhir ibunya terlaksana.
Tujuan hidupnya untuk mengumpulkan kitab tanpa tanding dan pusaka penguasa dunia, kemudian mencari dalang dibalik kematian sang ibu, hanya itu yang ia rasa dan pikirkan.
Begitu mereka sampai di markas, Dou Jin disambut oleh ratusan tenda dengan berbagai bekas api unggun yang telah padam, tidak rapih dan sangat berantakan di sana-sini.
Kayu yang berserakan, alat memasak yang asal tergeletak di tanah dengan berbagai baju yang di jemur diatas tenda, menampakan markas para bandit yang menjadi tempat istirahat dan berteduh.
Dou Jin tidak ambil pusing dengan keadaan markas para bandit, ia sama sekali tidak peduli. Dengan adanya sekelompok orang yang menjadi bawahannya itu sudah cukup untuk membantunya mencari apa yang ia cari.
Meskipun ia sedikit ragu para bandit akan mampu membantunya mewujudkan impiannya, namun Dou Jin tetap optimis dan yakin bahwa para bandit pasti dapat ia kendalikan untuk membantu mewujudkan segala ambisinya.
Setelah sampai di markas, Dou Jin teringat ia belum mengetahui nama-nama para pemimpin bandit, ia segera mengumpulkan seluruh orang untuk menanyakan nama-nama para pemimpin bandit dan tujuan mereka menjadi badit.
Jika sahaja itu adalah anak biasa yang terlahir normal di keluarga biasa tentu tidak akan mungkin anak berusia tujuh belas tahun seperti Dou Jin mampu memilki pemikiran untuk memimpin ratusan bandit.
Namun berbeda dengan Dou Jin, ia yang sejak dari usia dini telah ditanamkan bebagai pemahaman tentang Era Kekacauan akibat bangsa Siluman, memiliki sudut pandangan serta pemikiran yang berbeda dengan orang-orang seusianya.
Dengan mengingat cara sang ibu memimpin ratusan pengawal, Dou Jin mulai mengikuti cara sang ibu ketika berbicara di depan banyak orang.
Di saat Dou Jin sedang berbicara di hadapan seluruh pemimpin para bandit, seberkas cahaya dari punggung tangan kanannya menyala terang dan sesosok mahluk mengejutkan semua orang.