Meskipun jurang tanpa dasar itu gelap, namun keadaan sekitar di dasar jurang masih dapat terlihat, karena sebuah cahaya yang berasal dari dalam gua, Dou Jin sediri tidak tahu sebabnya cahaya itu bisa menerangi hampir seluruh dasar tebing.
Cahaya terang itu terbukti saat Dou Jin terjatuh di sungai, ia dapat melihat area sekitarnya dan meraih kayu sebagai pelampung, sebab ia masih memiliki visi untuk melihat sekitarnya.
Efek gelombang air yang begitu deras dan menghantamkan tubuhnya menabrak batu di tengah sungai, membuat Dou Jin kehilangan kesadaran.
Nasib baik masih masih ada pada Dou Jin, ia yang kehilangan kesadarnya masih bisa bangun kembali. Walaupun harus mengalami luka tambahan yaitu patah tulang di kedua kakinya.
Mengingat luka-luka yang ia derita, tentu sebuah keajaiban bagi Dou Jin bisa membuka matanya lagi.
Saat melihat sebuah cahaya seperti sinar matahari yang menyilaukan dari dalam gua, Dou Jin penasaran dan ingin menghampiri cahaya tersebut, berharap ada orang yang bisa menolongnya.
Dengan langkah yang terseok-seok karena harus berjalan dengan pingulnya, Dou Jin menuju sebuah gua tempat sumber cahaya itu berasal.
Kondisi Dou Jin sebenarnya kritis, wajah yang telah pucat dan memutih, hampir terlihat seperti mayat, tetapi hidup.
Luka-luka di tubuh yang sebagian masih mengeluarkan darah, menampakan tubuh seseorang yang sebentar lagi akan jatuh tidak sadarkan diri.
Cedera yang Dou Jin miliki sebetulanya masih terasa sangat sakit, namun ia mengindahkan semua rasa sakit dalam tubuhnya, dan membulatkan tekad untuk bertahan hidup.
Dalam hatinya ia berharap ada seseorang atau apapun lah yang bisa membantunya untuk bisa selamat dan bertahan hidup.
Jarak tepi sungai dengan gua yang cukup jauh membuatnya harus memakan waku kurang lebih setengah jam agar bisa sampai di bibir gua.
Sreetttt
“ Ayo, sebentar lagi sampai jangan menyerah.” seru Dou Jin merapatkan giginya kembali menahan rasa sakit di berbagai sisi tubuhnya, memaksakan tubuhnya untuk bisa bergerak beberapa langkah lagi untuk sampai di tempat tujuannya.
Setelah sampai di bibir gua, mata Dou Jin melebar. Ia merasakan sebuah aura Chi yang begitu kuat, mengalir intens dan murni keluar dari sebuah tanaman berbunga yang menyala sangat terang.
Tanaman tersebut berbentuk seperti mawar, tetapi tidak berduri. Daunnya pun berbeda dengan mawar, daun itu berbentuk seperti daun teratai.
Besarnya pun tidak sebesar bunga mawar maupun tumbuhan teratai. Tumbuhan tersebut sebesar kepalan tangan bayi.
Menyaksikan ada sumber daya di dalam gua tentu mengejutkan Dou Jin. Dan di samping itu ia juga lebih terkejut dengan keberadaaan telur siluman yang berada tidak jauh dari sumber daya tersebut.
“ Ini..ini..ini.. Sumber daya kelas ilahi. Mengapa biasa ada disini? Apa tidak ada penjaga atau mahluk apapun yang menjaga sumber daya ini.” seru Dou Jin dengan nafas yang hampir tersedak karena mengetahui di depannya adalah sumber daya kelas ilahi yang sangat sulit di cari para pendekar.
Sumber daya kelas ilahi adalah sumber daya kelas tertinggi dari semua kategori sumber daya. Keberadaan sumber daya kelas ilahi yang sangat sulit dijumpai.
Menurut rumor yang beredar, setiap sumber daya kelas ilahi ini akan mendaptkan penjagaan kusus oleh mahluk siluman kelas tinggi bahkan kelas legenda.
Namun itu hanya rumor, keberadaan sumber daya ilahi yang sangat yang sulit dijumpai membuat seluruh pendekar merasa sumber daya kelas ilahi itu adalah sebuah mitos belaka.
Walaupun ada sebgian kecil pendekar yang meragukan akan keberadaan sumber daya kelas ilahi. Namun keberadaan sumber daya kelas ilahi itu sebetulanya benar ada.
Mengingat Kaisar, beberapa ketua organisasi dan pendekar kuat di kekaisaran Tang pernah menikmati sumber daya kelas ilahi tersebut.
Dou Jin tahu itu adalah sumber daya kelas ilahi dari aura yang dikeluarkan tumbuhan tersebut. Aura yang memancarkan chi itu ribuan kali lipat lebih kuat dibandingan sumber daya kelas tinggi yang biasa ia nikmati sejak kecil.
Dou Jin menghentikan sikap terkejutnya dan menghampiri tumbuhan ilahi tersebut, kondisinya yang kritis saat ini memaksa Dou Jin untuk melakukan sesuatu dengan sumber daya tersebut.
Menyerap dan memulihkan diri agar bisa segera keluar dari jurang, itulah yang saat ini Dou Jin pikirkan saat melihat sumber daya kelas ilahi di depan matanya.
Dengan langkah mengesod, Dou Jin kembali melanjutkan jalannya dari bibir gua menuju ke dalam gua, tempat sumber daya kelas ilahi itu berada.
Sreettt
“ Akhirnya sampai juga,” pekik Dou Jin dengan nafas yang terengah-engah karena begitu bersemangat begerak untuk segera menyerap tubuhan kelas ilahi tersebut.
Tumbuhan berbentuk mawar yang melayang di udara itu seperti hidup, kedatang Dou Jin membuat tumbuhan itu semakin mengeluarkan energinya untuk melindungi diri.
Menyaksikan hal tersebut Dou Jin tersenyum kecut, meskipun aura pertahanan yang dikeluarkan tumbuhan itu begitu kuat akan tetapi pertahan itu dengan mudahnya Dou Jin tembus dengan kekuatan fisiknya.
Aura pertahanan yang tumbuhan itu lakuakan sebenarnya aura yang melindungi dirinya sendiri dari serangan tenaga dalam yang mengadung Chi. Atau akan bereaksi saat ada seorang pendekar yang memiliki chi dalam tubuh, berniat untuk mengambilnya.
Beruntung dengan keadaan Dou Jin yang tidak memiliki akar roh, tenaga dalam juga ia tidak miliki apalagi Chi, membuatnya dengan mudah menangkap bunga mawar itu dengan mudah.
Greepp
Dou Jin memegang tumbuhan tersebut, seluruh tubuhnya seperti menyerap sendiri kekuatan yang terdapat padanya.
Merasakan tubuhnya yang aneh karena menyerap sendiri energi dalam tanaman yang dipegangnya. Dou Jin segera memasukan tumbuhan itu langsung masuk kedalam mulutnya.
Gluuuggg
Tumbuhan yang sebesar genggaman tangan itu ditelan Dou Jin bulat-bulat, penyerapan sumber daya memang salah satu caranya dengan memakannya langsung.
Aaarrrgggghhh
Dou Jin berteriak histeris, penyerapan yang sangat berrisiko adalah penyerapan sumber daya dengan cara memakannya, seperti memakan makanan.
Selama lima belas tahun yang lalu Dou Jin menyerap sumber daya kelas tinggi dengan bantuan ibunya.
Peran penting sang ibu yang menyalurkan setiap energi yang terkandung dalam sumber daya itu membuat penyerpan berlangsung dengan mudah tanpa rasa sakit sedikit pun.
Sekarang Dou Jin merasakan siksaan yang begitu berat, menelan bulat-bulat sumber daya kelas ilahi masuk ke dalam tubunya adalah tindakan gila seorang pendekar.
Jika sahaja Dou Jin memiliki pilihan lain mungkin ia tidak akan melakukan tindakan penuh risiko kematian ini.
Tubuh yang penuh luka, tulang yang patah di sana-sini dan kondisi yang kritis memaksa Dou Jin melakukan tindakan gila dengan menelan langsung sumber daya kelas ilahi.
Untuk sumber daya kelas tinggi sahaja yang biasa ia serap dulu, bila ia telah bulat-bulat tetap akan memberikan rasa sakit karena melakukukan penyerapan manual.
Dan sekarang sumber daya kelas ilahi ia nekat ditelannya bulat-bulat, tentu hal gila itu tidak terlintas oleh siapa pun juga.
Mengingat rasa sakit yang akan di terima puluhan kali lipat tentu para pendekar tidak akan melakukan hal sembrono seperti yang dilakukan Dou Jin.
Aaarrrgghhhh
Terus sahaja Dou Jin berteriak kesakitan, kekuatan yang begitu besar tiba-tiba masuk ke dalam tubuhnya dan dengan segera memperlebar Dantiannya secara paksa, tentu itu adalah proses yang sangat menyakitkan.
Dantian yang selebar kepalan tangan orang dewasa tiba tiba di paksa melebar karena muatan sumber energi yang begitu besar masuk ke dalam tubuh.
Proses pelebaran Dantian itu sangat menyiksa, mengingat sorang pendekar dalam proses pelebaran Dantian membutuhkan waktu tahunan.
Dan sekarang pelebaran Dantian Dou Jin, melebar dengan sangat cepat. Proses yang instan tersebut sangatlah menyiksanya.
Jika sahaja belasan tahun yang lalu Dou Jin tidak terbiasa menyerap sumber daya kelas tinggi setiap hari tentu detik ini juga tubuh Dou Jin akan meledak karena tidak memiliki ketahan yang cukup untuk menahan lonjakan energi yang begitu besar.
Aaaaarrrghhhh
Seiringan dengan teriakan yang menyayat hati, setiap luka di tubuh Dou Jin juga seketika menghilang, tulang yang patah juga kembali seperti semula dan beberapa luka dalamnya juga sembuh seperti sedia kala.
Namun kesembuah fisik itu tidak menghentikan lonjakan energi dalam tubuh Dou Jin untuk berhenti, seperti tidak ada habisnya energi itu mencoba terus memerlebar Dantian Dou jin.
Tidak jauh di samping Dou Jin tiba-tiba emas berbentuk telur sebesar buah kelapa itu begetar hebat dan mulai retak..
Keraaataakk