Rapi masak dan menata hidangan makan malam di meja sambil menunggu waktu makan malam Sharen kembali ke kamarnya untuk mandi dan sholat. Setelahnya Sharen mendengar panggilan dari Sanum untuk makan malam bersama. dimeja makan sudah ada Papi Mami dan mas Damdam yang kelihatan Segar karena baru selesai mandi. "Ampun Gusti... nggantenge.." puji Sharem dalam hati sambil melangkah perlahan ke meja makan.
Sini sayang duduk sama mami, namun belum Sharen melangkah ke sebelah mami, kursi itu sudah ditempati Sanum. dan Sharen autojejer sama Sadam. harum wangi aroma Sadam setelah mandi semakin menguar membuat Sharen lemes karena grogi. pasalnya Sadam tidak selesai mandi saja Sharen sudah kepayahan dengan aroma Sadam waktu dalam boncengan tadi dan waktu Sharen malu selesai bernyanyi tadi. Karena itu waktu perjalan pulang Sharen tidak mendekat dan tidak berpegangan pada Sadam karena Sharen takut terbius aroma nyaman di tubuh Sadam.
Tapi malah Sadam mengira Sharen ngambek karena diajak pulang hahahahaaaa... lucunya mereka sama2 jaim.
"Gue kira elo beneran balik malem Shar sama si Damdam?" tanya Sanum sambil makan. "ga jadi Num.. mas Damdam ajak pulang, takut ibu sama mami papi marah katanya" jawab Sharen senyum2 sambil melirik ke arah Sadam. membuat mami papi dan Numnum autongakak. Sadam langsung berwajah garang menatap Sharen. "Bilang aja elo ngambek kan.. gue ajak pulang sorean?" jawab Sadam masih garang "dih... ngambe? siapa? Sharen? wkwkwkwkwkk.." tanya Sharen menunjuk dirinya sendiri sambil ngakak
"yaa elo lhaaa.. sapa lagi emang yang ikut gue? kalo ga ngambek kenapa pulang diem aja? pake mundur lagi diboncengan.. ga pegangan pula.. trus masuk kamar ibuk ga pamitan dulu bilang makasih kek ma gue? gada.. ga ngambek tuh namanya?" cerocos Sadam ga terima. "Lha ngapa musti ngambek Sharen ma elo Dam? elo bukan pacarnya juga.. ya kan Shar?" tanya Sanum menyahuti yang membuat Sharen tersedak hingga mami menghampiri Sharen memberi minum dan mengusap punggungnya pelan "pelan2 dong sayang makannya" perintah mami masih dengan mengusap punggung Sharen sayang. "ma..ka.. uhuk2.. sih mii" jawab Sharen terbata karena tersedaknya sambil memukul2 dadanya agar berhenti batuk.
"Sudah2 jangan berantem depan makanan ga sopan" putus papi tegas menengahi. dan akhirnya mereka makan bersama dalam diam sampai selesai. Seperti biasa setelah makan Sharen bergegas merapikan meja makan dan langsung mencucinya. setelahnya Sharen ke kamar ibunya untuk berpamitan sebelum tidur. tok.. tok.. tok.. "bu.. dereng tilem kan?" tanya Sharen sambil membuka pintu kamar ibunya, dilihatnya ibu masih mengenakan mukenah sambil membaca Qur'an. ibu hanya mendongak mengetahui Sharen masuk kamarnya. "Sharen kejenge pamit tilem riyen bu.." kata Sharen sambil mencium pipi ibunya. "yaa ndhuk.. ojo nganti lali berdo'a ben rah ngimpi elek" wejangan ibu lagi. "nggeh bu.. Sharen ten kamar nggeh?" pinta Sharen "yaa ndhuk hati2".
Dalam kamar Sharen dikejutkan akan keberadaan Sanum yang sudah berkostum piyama doraemonnya. "Astaga Num..Num.. bikin kaget aja elo" kata Sharen. "Lhaa elo dari mane aje sih?? gue dari tadi ketok pintu gada jawaban, karena ga dikunci ya gue masum laahh.." jawab Sanum santai
"elo mau tidur sini sama gue Num?" tanya Sharen lagi. "ga.. gue maunya elo tidur ma gue tapi di kamar gue" kata Sanum menyebalkan. "ogah gue juga.. kalo elo mau tidur ma gue disini. kalo gamau ya udah bobo sendiri2 aja" jawab Sharen lebih nyebelin.
"iiihhh kok elo sekarang gitu sih Shar ma gue..? gada sayang2nya ma ade nya!" keluh Sanum sambil bersedekap dan manyun. "bukan gitu ade gue tayang.. tayang..?" elak Sharen sambil mencubit gemesh 2 pipi chubby Sanum "gue tuh ga bisa tidur gegara Doraeman elo yang segambreng itu disana" jawab Sharen menjelaskan "Lhaaaa.. napa emang ma Doraemon gue...? mereka tu lutcu.. unyuu.. emesh deh aku" kata Sanum yang memang maniac Doraemon itu. seluruh isi kamarnya bermotif carakter kartun kucing jepang itu. sehingga tidak ada barang yang bisa masuk kamarnya jika tidak ada gambar Doraemonnya.
"iyaaa.. emang lucu gemesh juga.. tapi gue ga nyaman aja tidur kayak dikelonin jamaah ma Doraemon elo saking banyaknya" ngeri Sharen sambil bergidik. "wkwkwkwkwkwkkk... oke oke.. gue ga paksa elo buat tidur ma gue dikamar gue, dan gue juga ga minta tidur be2 elo deh. karena gue juga ga bisa tidur tanpa kelonan ma Doraemon tayangnya gue.." kata Sanum akhirnya mengalah membuat Sharen berbinar senang "tapiiii... besok elo musti temenin gue! oke!" syarat Sanum yang membuat Sharen malas, tapi daripada bobo ma Doraemon mending iyain aja nih bocah "oke deh.. gue mau" tutup Sharen yang ditanggapi Sanum bersorak girang sambil keluar kamar Sharen.
"Hadddeeehhhh.. du ade ku tak paketno kowe nang jepang ben kelonan tenanan karo Doraemon urip" keluh Sharen sambil mengunci pintu kamarnya. "sek sek tah.. maeng kae Mas Sadam ngiro aku nesu tah mergo rah gocelan pas dibonceng muleh? mulo ugo ugalan2 nyetir motor e? waaahhh... du di genahne iki timbang salah paham rah rampung2 iki nek di jarne" Monolog Sharen dalam kamarnya, kemudian memutuskan menemui Sadam lewat balkon kamar mereka yang terhubung.
Tok.. tok.. tok.. "Mas.. Mas Damdam.. Mas Damdam belum tidur kan?" Sadam yang sedang melamun di kasurnya karena bingung akan sikapnya yang absurd itu pada Sharen terlonjak kaget mendengar pintu balkonnya diketuk dan ada suara Sharen memanggilnya. "napa lagi nih cewek? belum puas apa buat gue ampir gila dan malu dimana2 karena absurd ma dia?" monolog Sadam sebelum akhirnya melangkah membukakan pintu balkon kamarnya.
"kenapa?" tanya Sadam garang sambil berkacak pinggang dan auto buat Sharen mengkeret. "anu mas.. Sha.. ren.. mau jelasin yang tadi" jawab Sharen gugup sambil meremas dresh rumahannya yang hanya sebatas paha itu. "yang tadi apa? yang mana?!" tanya Sadam masih belum merubah ekspresinya. "iiihhh Mas Damdam... mukanya biasa aja.. jangan dibikin garang gitu.. ga ganteng" tanpa sadar Sharen malah berkata manja yang membuat Sadam seketika merona karena mengira Sharen sedang merayunya. "eh.. yaudah buruan mau ngomong apa" jawab Sadam sudah sedikit melembut.
"janji dulu... mukanya ga garang lagi sama Sharen" kata Sharen sambil mengangkat jari kelingking kanannya. Sadampun menautkan jari kelingking kanannya juga dan berkata "iyaaa.. janji" sambil menatap mata indah Sharen. ganti Sharen yang merona karena tatapan mata itu. "ehheeemmm.." Sharen berdehem untuk mengurangi groginya karena tatapan mata Sadam belum beralih dari matanya, dan jangan lupakan tautan jari kelingking mereka tadi yah. Sharen akhirnya menyerah dan menjelaskan semuanya pada Sadam "Sharen ga ngambek kok sama mas Damdam.. tadi itu Sharen cuma Grogi.. takut pingsan aja kalo pegangan sama Mas Damdam.." jelasnya dan tetap denga nada manjanya. "takut pingsan? kenapa? elo sakit? apa mabok? tanya Sadam yang mulai khawatir.
"ga.. mas.. Sharen ga sakit dan ga mabok kok.. Sharen terbuai sama wanginya mas Damdam" kata Sharen tanpa sadar karena sekarangpun Sharen juga sudah terbuai aroma maskulin Sadam yang khas itu. Sadam kembali merona dibutnya. "Lha kalo terbuai harusnya nyaman dong bukan pingsan?" tanya Sadam menyadarkan Share. "Lha emang e tadi aku ngomong terbuai mas?" tanya Sharen yang hanya diangguki saja oleh Sadam. Sharen terbelak dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "bodho e kowe Sharen.." batin Sharen.