Ga Usah Baper

1122 Kata
Ujian kenaikan kelas untuk Sanum dan Sadam telah mereka lalui dengan baik. Mereka berharap tidak ada remidial agar bisa segera berlibur, mengingat waktu Sharen disini hanya tinggal beberapa hari saja. Karena Sharen harus kembali ke Jogja untuk Wisuda dan mempersiapkan diri untuk MOS SMU. Sanum yang tidak mau segera berpisah dengan Sharen merengek pada Papi untuk segera mengosongkan jadwal kerjanya dan pergi berlibur sesuai janjinya pada Sharen waktu itu. "Iyaaa iyaaa... mau kemana?" tanya papi yang sudah jengah dengan rengekan Sanum. "ke lombok ya piii..." jawab Sanum girang "okeh kalau masih di Indonesia saja papi bisa minggu depan kosongkan jadwal. jawab papi tersenyum melihat kegirangan Sanum. "dan weekend ini kita sudah bisa berangkat" lanjut papi "horreee... asek.. asek... makasih ya pi.. emmuach" rayu Sanum sambil berlalu meninggalkan ruang kerja papinya. Sebenarnya papi bisa kapan saja mau cuti kerja, karena papi adalah pemilik Maulana Corporation sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Distributor Electronik terbesar di Indonesia. Segala brand dari luar negeri sudah bekerjasama dengan perusahaan papi. Dari benda kecil seperti HP sampai TV yang memiliki layar Raksasa pun tersedia di perusahaan papi. Bahkan papi juga sudah mengeluarkan brand sendiri untuk beberpa Electronik kebutuhan rumah tangga yang tidak kalah canggih dengan brand luar negeri. Papi sebagai pemilik tentusaja bisa kapan saja datang dan pergi dari perusahaannya. karena juga disana papi dibantu oleh saudara2nya dan saudara2 dari istrinya. Tentu papi sudah sangat percaya dengan kinerja mereka jika tidak ada mereka maka perusahaan papi tidak akan tumbuh sebesar ini dan bertahan lama sampai saat ini.Itu sebab papi mami sangat dermawan hingga mengangkat Sharen sebagai anak serta mencukupi biaya seluruh keluarganya di Jogja. Sebenarnya ibu Sharen dulu bekerja dirumah ini sebagai pengasuh Sadam dan Sanum sewaktu kecil, karena itu mami papi membahasakan anak2 memanggil ibu bukan bibi seperti ke ART yang lain. mengingat betapa tulusnya ibu mengasuh mereka dulu bahkan masa kecil Sadam bisa dibilang ringkih karena mudah sakit. dengan telaten ibu memberi terapi alami agar imun Sadam lebih kuat, dan berhasil seperti sekarang Sadam tumbuh menjadi laki2 yang tangguh. namun karena memang jago masak dan anak2 sudah besar tidak terlalu memerlukan pengawasan khusus maka kerjaan ibu sekarang seperti kepala dapur yang bertanggung jawab pada dapur saja. kecuali ART lainnya tidak masuk kerja. Bukan hanya anak2 yang sangat menyayangi ibu Artin, mami dan papi juga bahkan sudah menganggap bu Artin sebagai adek mereka. Karena itu mereka juga berlaku baik pada seluruh keluarga ibu di Jogja. "Shareeennn...." Teriak Sanum mengejutkan Sharen di dapur yang sedang mencoba membuat pizza "dasar tarzan betina... bisanya teriak2!! kesal Sharen karena benar2 merasa terkejut "Tarzan betina??? gada yang lebih keren apa kasih nama gue??" koment Sanum "gada!! emang elo tarzan! cuma lagi nyasar aja dimari!" goda Sharen yang sukses membuat Sanum mencebik. "ck.. ga asik elo...!!" "sorry.. deh sorry.. laen kali ga pake teriak ya biar gue ga kata elo tarzan lagi" goda Sharen lagi "btw kenapa elo sampe histeris gitu?" lanjut Sharen "weekend ini papi ajak kita ke lomboookkk..." seru riang Sanum membuat Sharen tergelak "Seriusan...?" ulang Sharen yang diangguki Sanum "Aaahhhhh...." seru 2 gadis yang sedang kegirangan dan berangkulan di dapur itu mengundang anggota keluarga yang lain "ada apa sih?!" tanya mami yang berlari dari ruang keluarga "hehee... gapapa mii.. kita cuma lagi seneng aja papi mau ajak liburan" jawab Sanum masih girang "ooohhh...kirain ada apa histeris gitu" jawab mami sambil berlalu kembali keruang keluarga melihat tayangan gosip. Weekendpun tiba, mereka semua sudah siap dengan koper masing2 didepan rumah. "masukin semua barangnya mang jangan sampe ada yang lewat ya" pinta mami pada mang ujang. "baik Nyah" jawab mang ujang "Papi di depan sama mang ujang, Mami Sanum Sharen di tengah, dan Sadam di belakang" kata papi memberi instruksi tempat duduk dalam mobil yang hendak membawa mereka ke bandara "ga.. Numnum bedua aja sama mami biar bisa bobo.. Sharen di belakang sama Damdam.. heheee" pinta Sanum manja yang membuat Sadam tergelak "ya udah terserah sih buru naik" perintah mami berdualah mereka di jok belakang tanpa ada yang ingin bicara. Sadam masih betah dengan game di HPnya, sedangkan Sharen memilih memasang headset memutar lagu pada Ipodnya sambil bernyanyi pelan karena takut mengganggu penumpang yang lain. Tanpa sadar Sharen tertidur dan bersandar di bahu Sadam. bukan marah Sadam malah mengelus sayang kepala Sharen dan merebahkan Sharen dipelukannya "kapan lagi gue bisa begini sama elo Shar.. maaf ya.. kalo gue ambil kesempatan dalam kesempitan" batin Sadam sambil mencium puncuk kepala Sharen. Perjalanan dari rumah ke bandara memang cukup jauh sekitang 2 jam bila lancar. Namun karena ini weekend sudah dipastikan bakalan macet. Dan perjalanan memakan waktu hingga hampir 4 jam. Sharen dan Sadam sama2 terlelap hingga tanpa sadar posisi mereka kini sudah saling berangkulan dalam tidur duduk mereka di mobil. Suara papi membangunkan mereka semua tanda sudah hampir sampai bandara. dua insan manusia yang sedang berpelukan itupun mulai terbangun, namun tidak dengan Mami dan Sanum yang memang tidak akan bangun jika tidak benar2 sampai tujuan. Sharen dan Sadam mengerjabkan matanya menyesuaiakan cahaya tapi masih belum melepaskan pelukan masing2. hingga keduanya saling bertatapan dengan Sharen yang mendongak dan Sadam yang menunduk melihat mereka sedang berpelukan dengan siapa. seketika mereka saling melemparkan diri masing2 sebelum yang lain menyadari. "Yaa Allah.. Gustiii.. pantes marem rasane.. enek seng ngeloni" ucap girang Sharen dalam hatinya "Pegel juga sih.. tapi gapap yang penting dapet balesan pelukan dari Sharen" batin Sadam sambil masih meregangkan bahunya yang ternyata diperhatikan Sharen "Pegel ya mas.. ntar tak pijit ya disana" kata Sharen reflek memegangi bahu Sadam. Sadam membeku dengan perhatian Sharen padanya. "Mas Damdam gamau dipijit?" tanya Sharen mengulang yang dijawab gelengan kepala Sadam "jadi gamau?" "heh.. ma.. mau.. kok" jawab Sadam salah tingkah yang buat Sharen gemesh melihatnya. "heeemmmm gemesh gemesh gemesh..." gemesh Sharen mencubit dua pipi Sadam sambil tersenyum. Sadam diam saja dengan perlakuan Sharen namun sejurus kemudian dia berbisik lirih sambil mendekatkan wajahnya pada Sharen "Kalo gemesh cium aja jangan cubit! Aku bukan balita yang digemeshin dengan cara dicubit! mendengar itu Sharen merona apalagi harum Aroma Sadam kembali menguar membuatnya melayang dan tiba2 "muach" Sadam mencium pipi kiri Sharen Sharen tergelak matanya membola, tapi tidak dengan Sadam yang malah tersenyum lebar. "Malah nderenges ngunu.. heemmm maniseee.. jal du juragas wes tak cipok kok kowe! du sun maneh.. CIPOK! Astaghfirullahaladzim" ucap batin Sharen melihat senyum Sadam sambil geleng2 kepala cepat. "gausah baper.. elo ade gue.. kayak Numnum.. gada masalah kalo gue cium pipi elo doang.. elo juga pernah kan cium pipi gue waktu di studio?" bisik Sadam menyadarkan angan Sharen "hem" jawab Sharen mengangguk tanda setuju "Aku adine Mas Sadam" batin Sharen memperingati hatinya sedih dengan penuh rasa tidak rela dianggap Sadam ade. ^_^ Trus maunya apa Shar...??? dipacarin??? ntar aja ya kalau udah gedean dikit... xixixixii... Sabar ya reader belum saatnya mereka pacaran.. biar ada proses pendewasaan diri dulu. --- Timacih... emmuuaaacchh ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN