“Nana!” Frans menahan pundak gadis itu. Secepat apapun Nana berjalan, langkahnya kalah lebar dari kaki jenjang dua pria yang mengejarnya. “Apa?!” Nana berbalik dengan kedua mata nyalang. “Baiklah. Kita akan pulang, oke?” Ujar Frans. “Jika itu artinya aku harus mendengar pertengkarang kalian, ya, aku akan pulang, namun sendirian.” Balas Nana tegas. Tora menggeleng, “Tenanglah, Na. Kami tidak akan bertengkar. Kau benar. Kami hanya kelelahan. Aku pun baru kembali dari Bali. Itu yang menjadi alasan aku bisa berada di bandara ini.” Ucapnya bohong. Padahal, Tora kembali dari Bali pagi ini. Ia sengaja menunggu sampai malam di bandara karena tahu bahwa Nana akan pulang hari ini. “Kami tidak akan menyulitkanmu lagi. Aku berjanji.” Ucap Frans dengan nada tidak niat. Setelah berpikir selama beb

