“F-frans.. K-kau..” Gumam Nana dengan menatap nanar pada pria itu lalu beralih ke bawah, di mana kedua tangan mereka saling meniban dalam posisi tangan Frans yang ada di bawah. Wajah Frans seketika menjadi pucat. Ia meneguk liurnya yang terasa seperti sebongkah batu karang. Ia menggeleng pelan, “Ma.. maaf, Nana. Tapi.. aku tidak bisa menggerakkan tanganku jika kau terus menekannya.” jelasnya cepat. Kepala Nana hampir meledak karena wajahnya terasa sangat panas seakan sedang terbakar, “LEPASSS!!” “Aku tidak bisa! Jika aku lepas maka handuknya jatuh!” Sahut Frans kebingungan. Nafas Nana terengah. Sumpah! Situasi macam apa ini, hah?! Ia merasa malu, marah, dan bingung. Semuanya bercampur menjadi satu hingga ia tidak sanggup lagi berpikir. “Singkirkan dulu tanganmu,” Perintah Frans sebelu

