Sore itu, Rahmi baru saja kembali dari rumah salah satu pelanggan. Langkahnya riang, membawa hasil keringatnya. Namun, senyum di wajahnya seketika pudar saat ia mendengar suara benda jatuh yang disusul pekikan ayahnya dari dalam rumah. Jantungnya mencelos. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari ke dalam. Di ruang tengah, pemandangan itu membuat napasnya tercekat. Tampak bapaknya yang sedang memeluk erat bayi Rahmi yang menangis kencang. Di dekat mereka, tergeletak cerek air panas yang terbalik. Sedang Bu Dewi, berdiri mematung dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Kacamata tebalnya miring, menunjukkan betapa terbatas penglihatannya. “Nak, kamu nggak apa-apa?” tanya Rahmi, suaranya bergetar. Ia segera mengambil bayinya dari pelukan Pak Mamat. Ia memeluknya erat, mencium keningnya, dan

