Lelaki itu duduk termangu menatap anakku dengan raut wajah penuh pertanyaan. Beberapa kali dia menganga seperti ingin meluncurkan kata-kata, namun urung dilakukan seperti menahan semua yang ada di pikirannya. Terlebih setelah kuserahkan semua barang-barangnya yang kutitipkan ke satpam hotel selama hampir setahun, termasuk dompet dan ponselnya. Untuk pertama kali saat melihat itu, Niguel terkejut bukan main. Bahkan aku mendengar dia menggumam entah apa sambil sesekali memegangi kepalanya. Aku penasaran kecelakaan seperti apa sampai membuat lelaki yang pernah kucintai ini hilang ingatan. Seraya menggendong Raja dan duduk di hadapan Niguel aku berkata, "This is our baby." Dadaku kembali sesak seolah berat mengeluarkan beban yang kupendam sendirian. Bayangan hinaan dan cacian yang

