Rere tidak suka ada di dalam situasi seperti ini. Padahal yang dia bayangkan sewaktu memasang perangkap itu dia bakal tertawa puas. Berharap bisa membuat Zafran kapok dan ilfil untuk menempati rumah ini. Tapi kenapa melihat tangan yang terluka itu malah rasanya seperti tertampar. Bukan, bukan tertampar lagi tapi terhantam bertubi-tubi. ‘Kok ini orang bisa tetap baik banget? Padahal aku selalu jutek sama dia. Gimana nanti kalau dia tahu yang pasang perangkap tikus itu aku?’ Rere bicara sendiri dalam hati. Mulutnya masih membisu dengan tatapan kosong. “Ayo diminum mumpung masih hangat. Kamu bisa sakit kalau duduk di lantai terus dan basah-basahan begini. Anginnya juga kencang. Sebaiknya masuk saja.” kata Zafran sekali lagi. Gengsi. Itu perasaan yang mendominasi di hati Rere saat ini. Kala

