"Angel, maafkan aku. Maaf karena aku tidak bisa melindungimu. Tolong bangun, cepat bangun sayang,” bisik Lilac kepada Angel.
"Angel,” ucap Ming Chandra yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Pria itu datang untuk melihat sahabatnya dan dia dengan lembut menepuk pundak Lilac untuk mencoba menghiburnya.
“Jangan seperti itu, Angel akan baik-baik saja. Dia pasti akan bangun,” ucap Ming Candra kepada Lilac.
***
Seminggu berlalu, dalam satu minggu ini Lilac menemaninya, siang dan malam tidak meninggalkannya setengah langkah pun. Walaupun baru dalam waktu seminggu, tetapi dia sudah sangat merana, tangan besarnya masih memegangi tangan gadis itu.
Akhirnya jari-jari Angel bergerak sedikit, dia buru-buru menelepon dokter. Para dokter dengan cepat memeriksa kesehatan Angel. Setelah memeriksanya dokter itu tersenyum kepada mereka.
“Selamat, pasien sudah melewati masa kritisnya,” ucap dokter itu kemudian pergi. Lilac luar biasa senang mendengar kabar tersebut.
Saat Angel membuka matanya, yang dia lihat pertama kali adalah Lilac. Angel melihatnya sekarang begitu kurus. Tiba-tiba Angel merasa sangat kesakitan, Lilac melihatnya bangun dan mengucapkan syukur berulang-ulang.
“Angel, akhirnya kamu bangun,” ucap Lilac merasa begitu sangat senang.
Angel mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Lilac, dia tersenyum dan berkata dengan suara yang sedikit lemah.
“Kenapa kamu lebih kurus dari sebelumnya, tidak lagi tampan seperti dulu. Jadi bagaimana Sayang, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Angel. Lilac sangat terharu melihatnya bangun, dia tidak begitu mendengar kata-kata yang diucapkannya.
“Tunggu, apa yang barusan kamu katakan? Sayang?” ucap Lilac memastikan kata-katanya. Angel membuka lebar lengannya, dia tersenyum dan memanggilnya dengan penuh kasih.
“Lilac, apakah aku yang membuatmu menjadi lebih kurus?” ucap Angel. Lilac senang dan bahagia, dia segera memeluknya erat untuk menuntaskan kerinduannya, air matanya mengalir lembut dalam kebahagiaan yang tak terlukiskan.
“Aku sangat merindukanmu, syukurlah akhirnya kamu mengingatku,” ucap Lilac.
Via dan Dion yang barusan mendengarnya sudah bangun, mereka langsung bergegas menghampiri Angel. Mereka melihat dua orang saling berpelukan, semuanya tertawa dalam diam.
Richard juga yang mendengar kabar Angel, dia meninggalkan semuanya di perusahaan dan bergegas ke rumah sakit. Begitu dia tiba dia melihat dua orang saling berpelukan, dia hanya tersenyum pahit, senyum yang memilukan. Angel melihat Richard dan dia tersenyum ringan.
“Aku berhutang maaf padamu. Di sini aku minta maaf padamu tentang nenekmu,” ucap Angel pelan kepada Richard. Richard mengangkat alis karena terkejut dan ikut berbahagia.
“Apakah Angel sudah siuman?” tanya Charles tiba-tiba masuk ruangan. Angel mengangguk dan terus tersenyum.
“Maafkan aku karena sudah memintamu mengunjungiku, mungkin jika aku tidak memintamu datang, hal ini tidak akan terjadi,” ucap Charles penuh penyesalan. Lilac mengerutkan kening pada ayahnya.
“Apa maksudmu dengan itu, Ayah dan Angel habis bertemu?” tanya Lilac. Charles duduk dan memberitahunya agar semua orang juga mendengarkan.
“Kudengar anak laki-lakiku punya pacar, tentunya aku harus mengetahui gadis yang kamu suka. Jadi aku menghubungi dan membuat janji dengan Angel untuk mengobrol dan ingin melihat seperti apa calon menantuku. Jika Ayah tidak menelepon Angel, mungkin Angel tidak akan diculik,” ucap Charles menjelaskan kepada anaknya. Angel menggelengkan kepalanya dan menegaskan.
“Ini bukan salah Om. Mereka telah melakukan persiapan untuk menculikku, dan walaupun saat itu aku tidak menemui Om, mereka tetap akan menculikku di kesempatan lain,” ucap Angel. Seketika Charles tiba-tiba memikirkan sesuatu dan dengan cepat bertanya kepada Lilac.
“Ah ya, apakah kamu sudah menemukan siapa di balik penculikan ini?” tanya Charles. Saat mendengar kata insiden penculikan, wajah Lilac langsung berubah, dari matanya hingga suaranya menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
“Orang di balik penculikan Angel tidak lain adalah Sandra,” ucap Lilac dengan marah.
“Ada apa, kenapa kamu bilang orang itu Sandra?” tanya Charles sangat kaget mengetahuinya. Lilac mengangguk dan melanjutkan ucapannya.
“Dia pasti memberi mereka uang yang banyak dan meminta mereka menculik dan mempermalukan Angel,” lanjut Lilac.
“Ayah tidak menyangka bukan, wanita itu sangat kejam?” ucap Lilac kepada ayahnya. Angel masih terkejut mendengarnya. Tangan Lilac menggenggam, kata-kata yang dilontarkannya berisi amarah.
“Aku pasti tidak akan memaafkan dia atas apa yang dia lakukan padamu. Dia membayarnya seratus kali lipat,” ucap Lilac.
“Angel, kamu baik-baik saja, kudengar kamu habis diculik?” tanya Olivia yang baru saja tiba, dia begitu mengkhawatirkannya. Angel menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
“Aku baik-baik saja,” jawab Angel. Olivia tiba-tiba baru menyadari ada bosnya di ruangan ini, bukan hanya dia dan Angel, tetapi sederet para taipan berkumpul di ruangan itu. Olivia menegakkan wajahnya dan melihat ke atas, mulutnya langsung tidak bisa menutup, matanya seolah jatuh ketika pertama kali melihat dengan mata kepalanya sendiri, sosok paling kuat dan berkuasa di perusahaan yaitu Charles. Mulut Olivia bergerak tetapi tidak bisa berkata-kata. Dia mencoba mengeluarkan setiap kata kepada Angel.
“Angel kamu tidak pusing, kan? Hampir semua orang kuat dan taipan dalam negara ini muncul di sini, aku ... aku ...." Olivia terbata membisikkannya. Sungguh itu membuat Angel tertawa, ekspresi Olivia sekarang terlihat sangat lucu.
"Aku tidak pusing," jawab Angel.
“Kamu tidak pusing? Apa yang aku lihat itu, nyata?” tanya Olivia lagi berbisik.
“Ya ampun,” ucap Angel sambil tertawa. Olivia menelan ludah menenangkan pikirannya.
“Mereka saat ini di kamar rumah sakit ini, apakah mungkin mereka semua datang ke sini untuk mengunjungimu?” tanya Olivia memastikan. Angel mengangguk tegas. Via berjalan mendekat sambil tersenyum dan mengangkat tangannya dengan maksud untuk berjabat tangan dengan Olivia.
“Halo, aku Via saudara perempuan Angel. Aku sangat senang bisa mengenalmu,” ucap Via memperkenalkan diri. Olivia berkedip-kedip melihat Via karena sangat tidak menyangka bisa berkenalan dengan wanita itu.
“Kamu adalah Putri Kerajaan La Ángel, Putri Vivian. Tunggu, kamu adalah saudara perempuan Angel. Berarti ini mengatakan bahwa Angel adalah seorang Putri?” tanya Olivia.
Via menganggukkan kepalanya. Olivia buru-buru berjabat tangan dengannya karena perasaan terharu. Perasaan Olivia semakin sulit untuk digambarkan. Dia duduk beberapa saat, Olivia masih belum bisa mengontrol suasana hatinya. Marcel masuk untuk menyapa semua orang dan memberitahukan sesuatu kepada Lilac.
“Ketua, mengenai Sandra dan sekarang Anda ingin kami menyelesaikannya? Bagaimana seharusnya kami lakukan padanya?” tanya Marcel. Kaki Lilac disilangkan dan dengan dingin dia berkata.