Part 4

1280 Kata
"Rinda." Rinda yang sedang mengoles selai coklat pada rotinya menoleh pada Gina. "Iya Ma." "Dinda mana?" tanya Gina. "Nggak tahu. Masih tidur mungkin." "Ini kan udah jam tujuh. Nanti dia telat. Kamu bangunin Dinda sana." Rinda beralih menatap Gina. "Biarin aja lah, Ma. Salah dia sendiri. Udah tahu hari ini sekolah, tapi masih aja bangun telat." "Jangan gitu dong sama adik sendiri. Masa kamu mau biarin adik kamu telat. Udah sana bangunin." "Bangunin Rinda." "Iya Ma." Selesai mengolesi selai pada rotinya, ia pun naik ke lantai atas. Sesampainya di kamar Dinda, Rinda langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rinda mengembuskan napasnya ketika melihat Dinda masih tidur dengan memeluk guling. "Dinda! Bangun woi!" Rinda berteriak tepat di telinga Dinda. Alhasil, Dinda terkejut dan langsung membuka kedua matanya. Dinda segera mengusap-usap telinganya yang berdengung akibat teriakan Rinda. "Lo apaan sih, Kak? Teriak-teriak di kuping gue. Kalau gue tuli gimana?" omel Dinda. Saat Dinda ingin tidur kembali, Rinda segera menarik pergelangan tangan Dinda dan menyeretnya ke kamar mandi. "Dasar kebo. Buruan mandi. Nanti lo telat." "Emangnya ini udah jam berapa?" tanya Dinda sembari menguap. "Jam tujuh," jawab Rinda singkat. Mata Dinda seketika membulat. "Jam tujuh? Gawat! Bisa telat gue." Segera Dinda masuk ke dalam kamar mandi. Rinda hanya geleng-geleng kepala melihat Dinda yang tampak panik. ***** Hanya butuh sepuluh menit bagi Dinda untuk mandi. Selesai mandi ia langsung bersiap-siap secepat mungkin. Setelah selesai, ia pun turun ke lantai bawah. Menghampiri Gina dan Rinda yang sedang sarapan. "Ma, Kak Rinda, aku berangkat dulu, ya," pamit Dinda yang tampak buru-buru. "Loh, kamu gak mau sarapan dulu?" "Enggak Ma. Aku udah telat. Aku berangkat dulu. Bye, Ma, Kak Rin." Dinda mencium pipi Gina dan Rinda kemudian ia langsung pergi. Saat keluar dari rumah, Dinda menunggu ojek online yang telah dipesannya melalui aplikasi. Sembari menunggu, ia melirik arloji yang melekat pada tangannya. "Lima belas menit lagi gerbang sekolah tutup. Semoga aja masih keburu," gumamnya. ***** Dinda berdecak ketika melihat pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Padahal ia sudah berusaha secepat mungkin agar ia tidak terlambat, tapi ternyata ia memang tidak bisa sampai di sekolah dengan tepat waktu. "Padahal selisih dua menit doang, tapi gerbangnya udah ditutup aja. Tahu gitu tadi gue gak usah buru-buru." Saat ia sedang menatap pintu pagar, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Dinda segera menggerakkan bahunya. "Apaan sih? Gak usah ganggu," ucap Dinda tanpa menoleh ke belakang. Orang itu terus menepuk pundak Dinda, membuatnya kesal. Dengan segera ia menoleh. "Leo! Lo ngapain sih nepuk pundak gue segala? Ganggu aja," omel Dinda. Leo terkekeh. "Gue kira anak teladan nggak bisa telat tapi ternyata telat juga." Dinda memutar bola matanya malas. Ia menginjak sepatu Leo, membuat cowok itu mengadu kesakitan. "Eh, Kecebong, sakit tahu. Badan kayak kecebong, tapi kaki kayak gajah." Dinda menatap Leo sinis. "Diinjak gitu aja sakit. Dasar banci!" sinis Dinda. "Banci dari mananya? Gue ini jelas-jelas cowok tulen. Lo gak tahu betapa banyaknya cewek-cewek yang naksir sama gue karena ketampanan gue ini?" ucap Leo membanggakan dirinya. Dinda tertawa miring. "Terus lo pikir gue peduli? Enggak! Mau lo ditaksir sama cewek-cewek kek atau ditaksir sama banci juga gue gak peduli." "Lo gak naksir sama gue?" tanya Leo. "Sampai mati pun gue gak akan mau suka sama cowok modelan kayak lo." "Kita liat aja nanti." Dinda tidak membalas ucapan Leo. Ia memilih diam. Karena jika ia membalas ucapan Leo, yang ada mereka tidak akan selesai berdebat. "Kecebong. Lo beneran gak naksir sama gue?" tanya Leo lagi. Ia sengaja bertanya seperti itu, karena ingin menggoda Dinda. Leo ingin melihat Dinda marah. Dinda tetap diam. Sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Leo. "Kok lo diam? Apa jangan-jangan lo naksir sama gue, tapi lo gengsi buat bilang, ya? Karena lo pengin diperhatiin sama gue jadinya lo suka cari masalah sama gue. Iya kan?" Dinda lagi-lagi hanya diam. Mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak sekarang juga. "Hei kalian!" Leo dan Dinda segera menoleh ke arah gerbang sekolah. Mata Dinda membulat ketika melihat Bu Winda dengan wajah garangnya tengah menatap horor ke arah mereka. Bu Winda merupakan salah satu guru BK yang terkenal paling galak di antara semua guru BK. Mati gue. Ketahuan Bu Winda lagi. Kalau dihukum gimana? batin Dinda. "Kenapa harus ada Bu Winda, sih? Bikin repot aja," ucap Leo. Dinda menatap Leo tidak suka. "Ini semua gara-gara lo tahu gak." Leo menatap Dinda dengan satu alis terangkat. "Loh, kok gue yang salah?" "Iya lah lo yang salah. Coba aja lo nggak bawel terus pasti Bu Winda nggak akan liat kita." "Gue gak bawel. Gue kan cuma nanya lo naksir sama gue atau enggak. Lo juga gak jawab, makanya gue anggap kalau lo itu naksir sama gue." Dinda menatapnya tajam. "Gue gak naksir sama lo! Jadi gak usah ke-pd-an. Lo pikir karena banyak cewek yang naksir sama lo, jadi gue juga harus naksir sama lo gitu?" "Ya siapa tahu aja lo---" "Kalian berdua masuk! Jangan bertengkar di situ," ucap Bu Winda dengan nada sedikit meninggi membuat mereka berdua segera masuk ke dalam sekolah. Mereka berdua berjalan mendekati Bu Winda yang menatap mereka tajam. "Daritadi saya suruh kalian masuk, bukannya masuk malah berantem." "Maaf Bu." "Kenapa kalian terlambat? Dinda kamu kenapa terlambat? Biasanya kamu tidak pernah terlambat." "Maaf Bu, tadi saya bangun kesiangan," jawab Dinda ketakutan. Maklum, karena ini pertama kalinya ia datang terlambat. Biasanya ia selalu datang tepat waktu. "Bilang aja lo masih dandan makanya telat," sahut Leo. Walaupun kesal dengan Leo, tapi Dinda memilih tidak peduli dengan ucapan cowok itu. Ia hanya menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Bu Winda. "Diam kamu Leo! Saya tidak suruh kamu bicara." "Maaf Bu. Gak usah marah-marah gitu. Nanti cantiknya hilang," ucap Leo dengan santai. Tidak peduli dengan Bu Winda yang menatapnya tajam. "Karena kalian terlambat, kalian akan ibu hukum. Kalian sekarang ke lapangan dan lari keliling lapangan. Untuk Dinda lari lima kali, sedangkan Leo sepuluh kali. Ingat kalian harus lari sampai selesai. Jangan ada yang kabur sebelum hukuman kalian selesai." "Apa Bu? Sepuluh kali? Yang benar aja, Bu. Kenapa Dinda lima kali saya sepuluh kali? Itu gak adil, Bu," protes Leo. Bu Winda menatap Leo tajam. "Mau jalani hukumannya sekarang atau Ibu tambahkan hukumannya?" ancam Bu Winda. "Iya Bu. Ayo Bong kita ke lapangan," ajaknya pada Dinda. Dinda melengos pergi meninggalkan Leo begitu saja. Leo pun segera menyusul Dinda untuk menjalankan hukumannya. ***** Setelah selesai berlari, Dinda segera duduk di tepi lapangan, sedangkan Leo masih terus berlari karena hukumannya belum selesai. Enak banget tuh cewek udah habis lari. Lah gue lagi lima putaran, batin Leo. "Woi Kecebong lo lari lagi. Lo belum selesai lari. Kata Bu Winda kan kita lari selesainya harus samaan," teriak Leo sambil berlari. Dinda tak peduli dengan teriakan Leo. Ia memilih mengatur detak jantungnya yang berdetak sangat cepat karena tadi berlari. Saat sedang istirahat, tiba-tiba seseorang datang menempelkan sebotol air mineral dingin ke pipi Dinda. Dinda segera mengambil botol air mineral tersebut kemudian menoleh pada orang itu. "Eh, Vano. Thanks, ya." Dinda membuka tutup botol kemudian meneguknya hingga setengah. "Sama-sama. Lo haus banget, ya?" Dinda hanya mengangguk. "Kasihan. Capek banget?" tanya Vano lagi. "Iya lah. Lo kira aja gue lari lima putaran gimana nggak capek coba." Vano hanya terkekeh. Diam-diam, Leo menatap mereka dengan tatapan tak suka. Entah kenapa ia tak suka melihat kedekatan mereka. "Kalau pacaran jangan di sekolah. Sekolah tempat menuntut ilmu bukan tempat pacaran," ucap Leo sedikit keras agar didengar oleh mereka. Dinda hanya menatap Leo sinis, tanpa membalas ucapan cowok itu. "Leo kenapa? Kok dia kayak gak suka liat kita?" "Mana gue tahu. Dia emang agak aneh. Nggak usah peduliin dia. Mendingan kita ke kantin aja gue udah laper." Dinda menarik pergelangan tangan Vano. Mendapat perlakuan seperti itu, Vano tersenyum kemudian segera mengikuti Dinda. Leo berdecih. "Apaan pegang-pegang tangan segala? Norak banget." ***********************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN