"OMONGAN KALIAN EMANG GAK BISA DI PEGANG. BULLSHIT SEMUA!!" Teriak seorang gadis.
Asya tengah berbaring di tempat tidurnya. Saat tengah melamun dirinya tiba tiba teringan ucapan keluarganya yang berjanji akan menjenguknya tidak bisa di pungkiri asya sama seperti anak gadis lainnya yang ingin di perhatikan oleh keluarganya.
"GUE BENCI BERADA DI POSISI DIMANA GUE BERHARAP ADA SESEORANG YANG BISA MEMBERIKAN KASIH SAYANG LAYAKNYA ORANGTUA" Ucapnya tergugu sambil berderai air mata.
Entah sejak kapan asya bisa sekasar ini tidak lagi beerbicara dengan nada yang lemah lembut, dan dia juga sekarang lebih dingin sama orang.
Asya hanya menangis meratapi nasibnya yang tidak seberuntung orang lain, sampai akhirnya asya terlelap.
***
"Bro, apa gue jujur aja sama asya terhadap perasaan gue." Tanya jhons.
"Kemarin kemarin lo kemana aja?" Ucap dhani sambil memutar mata malas.
"Bantuin gue lah bro sekali ini aja,gue pengen jujur sama asya cuma dia sekarang kek ngehindar dari gue."
"Emang kapan gue gak pernah bantuin lo?"
"Ayolah bro."
"Mau bantuin kek gimana?"
"Gimana caranya biar gue bisa yakinin dia kalo gue gak punya pacar dan gue cuma suka sama dia." Tanyanya dengan wajah sendu.
"Tinggal lo ajak ngomong baik baik aja cewenya." Jawabnya enteng.
"Masalahnya dia itu jauhin gue ogeb!" Kesalnya.
"Ya tinggal deketin, apa susahnya?"
"Serah lu emang gak pernah ada benernya minta saran sama lu." Ucapnya kesal. Dhani hanya terkekeh liat sahabatnya yang merengut dengan memasang wajah masam.
"Bro, lu laki perjuangin cewe lu kalo lu beneran suka lo harus siap dengan segala konsekuensinya, kan gue dulu bilang satset satset jadi laki jangan sampe asya yang jauhin lo karena lu nya gak ada kepastian sama dia, gue nanti bantuin lo tenang aja."
"Serius lo" Dengan wajar berbinar.
"Katanya lu pengen gue bantuin,mau gak ni?" Jawabnya sambil memutar bola mata malas.
"Ahhh, tengkyu lo emang best fren gue, sayang dani banyak banyak." Ucapnya sambil mau memeluk temannya itu.
"Gak usah peluk peluk, jijik gue" Sambil bergidik.
"Abang kok gitu sama eneng?" Sambil memasang wajah cemberutnya.
"b*****t, jijik gue." Jhons pun hanya tertawa melihat tingkah temannya itu.
***
Drrt... Drrrt... Drrrt...
Terdengar getaran notifikasi panjang dari HP asya yang di letakkan di atas kasurnya.
"Hallo, asya. " Ucap seseorang disana.
"Hallo nek, assalamualaikum ada apa nek?" Tanya asya sopan kepada neneknya--nek asih.
"Sya, nenek butuh uang boleh nenek pinjam, nanti nenek ganti kalo udah ada uangnya." Asya menghembuskan nafas kasarnya. Selalu aja seperti ini batinnya.
"Nenek perlu uang buat berobat sya." Dengan suara sengaja di lembutkan layaknya orang sakit. Anaknya ada 5 orang mereka semua kerja kenapa harus gue terus yang di cekik perihal uang sama keluarga itu pikirnya.
"Asya lagi gak punya uang nek, kemaren baru di pake buat bayar kontrakan." Ucap asya sopan. Pasalnya keluarga ibunya memang selalu meminta uang padanya dengan berbagai alasan, dan berbicara dengan kata pinjam tapi gak pernah di bayar.
Asya Pun banyak kebutuhan lainnya yang harus di beli pasalnya kalo dia tidak punya uang sendiri walau semendesak apapun keluarga dari pihak ibunya gak ada yang mau membantu mereka hanya akan manis saat ada maunya saja.
Asya juga harus menabung buat masa depannya nanti, karena kalo bukan dia sendiri yang berjuang mau bergantung sama siapa.
"Kalo gak mau ngasih bilang saja gak usah banyak alasan, memanggak tau diri jadi cucu, dari kecil siapa yang merawatmu kalo bukan nenek. Udah gede gak tau terima kasih di pinjemin uang segitu aja gak mau ngasih" Tukas nenek asih pada cucunya. Kemudian memutuskan teleponnya secara sepihak. Katanya sakit ko gue gak mau minjemin ngomongnya jadi kek orang sehat heran asya, bodo amatlah ucapnya acuh.
Asya menghembuskan nafas kasar, selalu aja seperti ini dia cape, dia hanya di jadikan mesin pencetak uang sama keluarga ibunya dengan alasan untuk berbalas budi.
"Anjing memang! Kalo gue bisa milih gue juga gak mau punya hutang budi sama kalian." Ucap asya dengan tangan mengepal kemudian membanting semua barang yang ada di depannya.
***
Asya yang saat ini tengah memakai hoodie, celana katun panjang, sepatu kets, rambut yang di cepol asal dan tas yang tergantung di belakang punggungnya dan headseat yang menempel di kedua telinganya tengah berjalan dengan santai untuk memulai aktivitasnya.
"Asya" Panggil seseorang dengan suara nyaringnya siapa lagi kalo bukan ida sahabatnya. Asya hanya berhenti sebentar kemudian melanjutkan lagi jalannya.
"Sya, bukannya tungguin lurus aja jalan lo mah." Asya hanya tersenyum mendengarnya.
Ida kemudian melihat kearah asya, dia mengerutkan kening melihat sahabatnya itu datang dengan mata sembab.
"Abis nangis sya?? Kenapa? Ada masalah? " Tanya ida beruntun.
"Abis nonton anime semalem, baper gue." Ucapnya dengan santai.
Ida hanya mengganggukan kepalanya, dia tau asya tengah berbohong padanya tapi dia mengerti kalo asya belum siap untuk bercerita.
***
Akhir-akhir ini ida sering melihat asya melamun, dia hanya akan fokus saat bekerja saja, tiap dia bertanya asya kenapa dia hanya akan jawab gak papa. jhons menghampiri ida dan duduk di depannya.
"Bang, bantuin gue hibur asya." Pinta ida sama jhons.
"Emang asya kenapa?" Tanyanya bingung.
"Lah emang abang gak tau?"
"Kalo tau gue gak bakal nanya kali"
"Biasa aja dong ngomongnya" Ucap ida malas "asya akhir akhir ini sering ngelamun bang, tatapan matanya kek kosong, dia fokus cuma pas kerja doang selebihnya dia hanya melamun, gue takut dia kenapa kenapa?"
"Lo gak nanya emang dia kenapa, biasanya juga kan asya cerita ke lo"
"Justru itu, tiap gue tanya kenapa dia hanya akan bilang gak papa"
"Lo kan tau sendiri, dia jauhin gue akhir akhir ini gue lagi nyari orang yang udah buat dia gini kek gue"
"Orang yang udah buat asya jauhin lo bang?"
"Iyah" Ucapnya dengan sendu.
"Orangnya stella bang, anak drawing yang tergila gila sama lo"
"Serius lo?" Tanya jhons.
"Iya, asya dulu cerita ke gue katanya stella bilang dia pacarnya lo bang, terus kalian pacarannya udah lama gitu, asya ngindarin lo karena gak mau di bilang perebut pacar orang"
"Stella sialan!" Umpatnya.
"Jadi gimana bang, mau bantuin gak?"
"Ya gue mau tapi gimana caranya, ketemu aja dia langsung pergi apalagi diajak ngobrol pasti gak maulah." Ujarnya putus asa.
"Gue bantuin lo buat jelasin semuanya sama asya tapi lo juga harus bantuin gue bang"
"Gimana caranya?" Ida pun membisikan sesuatu pada jhons.
"Deal" Tanya ida
"Bagus juga ide lo, oke deal" Ucap jhons sambil menjentikan jarinya.