Sekarang asya dan jhons semakin dekat, tetapi jhons belum memberikan kepastian kepada asya. Dia takut cintanya di tolak dan akan berakhir menjadi orang asing yang tidak saling mengenal.
"Bro, gimana? " Tanya dani--sahabatnya jhons.
"Apanya yang gimana?" Tanya jhons mengangkat sebelah alisnya.
"Lu udah ngasih kepastian belum sama asya?"
"Ohh, belum"
"Lah kenapa ? Nanti di ambil orang tau rasa lo"
"Gue takut dia nolak gue dan nanti kita bakalan jauh layaknya orang asing yang tidak saling mengenal, gue lebih nyaman kek gini sampe nanti saatnya tiba gue mau langsung lamar dia"
"Ya kalo dia nolak itu udah resiko, kalo lo diem diem bae kek gini kasian ke cewenya lo cuma ngasih harapan tanpa kepastian lama lama juga dianya jenuh ujung ujungnya nyari yang lain, gue rasa asya juga kek nya punya perasaan sama lo"
"Masa"
"Lah lo tuh ya kalo di kasih tau, kalo dia gak suka sama lo gak mungkin saat di deket lo dia bisa sehangat itu, secara kan dia orangnya dingin, irit bicara, cuek, sikapnya bodo amat sedangkan dia sama lo beda. Apa namanya kalo gak punya perasaan?"
"Ya bisa jadi kan dia cuma nganggap gue sahabatnya atau abangnya."
"Ya makanya lo cepetan kasih kepastian, sat set sat set napa sih lo jadi cowo, gemes gue lama lama."
"Gue nyaman sama posisi yang sekarang dengan asya."
"Serah lu dah." Kesal dani kemudian pergi dari hadapan jhons.
***
Hari ini, asya berangkat dengan badan yang sedikit kurang sehat tetapi dia memaksakan untuk berkerja.
"Sya, are you okey?" Tanya ida, sahabatnya asya.
"Aku baik." Ucapnya sambil senyum yang di paksakan.
"Tapi lo pucat banget sya, pulang aja ya gue izinin." Bujuk ida.
"Kalo aku pulang sayang lah uang aku ilang nanti"
"Ya gak papa asya, dari pada maksa kerja terus nanti lo di dalem kenapa kenapa gimana?"
"Tapi aku mau kerja aja."
"Asya nurut aja sama gue apa susahnya sii, badan lo perlu istirahat, pulang aja gue izinin"
Asya hanya mengangguk kemudian berbalik tapi langkahnya menjadi gelap setelah itu asya tidak mengingat apapun.
Asya terbangun sudah berada di sebuah ruangan di sampingnya ada ida. Asya memegang kepalanya yang sangat pusing.
"Asya, udah sadar" Ucap ida senang.
"Aku pingsan nya lama?"
"Lo pingsan sekitar 1 jam."
"Terus yang bawa aku kesini siapa?"
"Bang jhons, cuma dia balik kerja terus gue di suruh jagain lu di sini... Kalo lo udah mendingan kita pulang aja ya, gue udah izin ko sama atasan."
"Kamu kerja aja, jangan izin aku udah enakan ko cuma masih pusing aja sedikit."
"Ngga ngga, mana ada udah enakan badan masih lemes muka masih pucet banget. Pokoknya pulang bareng gue."
"Yaudah iya." Ujar asya pasrah.
Asya dan ida udah sampaai di kontrakannya asya, ida kemudian memapah asya untuk masuk ke rumahnya.
Asya dan ida kesana diantar sama supir yang dari pt nya menggunakan mobil kantor, setelah sampai pak supir pun langsung berpamitan untuk balik ke tempatnya kerja.
"Ini kontrakan lo sya?" Tanya ida, dia melihat seisi rumah asya yang hanya ada ruang tidur, dapur, dan kamar mandi walaupun seperti itu tapi rumah asya sangat nyaman dengan barang barang yang tertata rapi, dia termasuk perempuan yang apik bersih gak ada satupun kotoran di rumahnya.
Kemudian ida pun menurunkan kasur yang sengaja dibuat berdiri oleh asya supaya gak gampang kena debu dan menyuruh asya untuk tiduran.
"Maaf yaa, rumahnya berantakan." Ucap asya tidak enak.
"Berantakan apanya? Rumah serapi ini lo bilang berantakan, nyaman banget gue." Asya hanya tersenyum mendengar ucapan ida. Setelah itu ida berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Ada teh gak sya?"
"Ada, ditoples susun yang di rak." Tidak lama setelah itu ida membawakan teh manis buat asya.
"Minum dulu, nanti sore ke dokter ya kalo panas lo belum turun." Asya hanya mengiyakan ucapan ida.
"Makasih ya, udah mau aku repotin ."
"Gak ngerepotin ko sya, lo udah gue anggap ade sendiri jadi jangan sungkan kek gitu gak suka gue."
Asya pun hanya tersenyum tanpa membalas ucapan ida, kemudian asya tertidur.
Idapun hanya memainkan hp nya tidak lama setelah itu dia juga ikutan tertidur di samping asya.
Ida terbangun, kemudian ida pergi mandi. Setelah selesai ida berniat mau membuatkan asya bubur tetapi asya belum punya kompor hanya ada magiccom buat nanak nasi.
Kemudian ida pun membuka pintu dengan sangat pelan karena takut mengganggu tidurnya asya.
Pukul 16.45 asya terbangun dan tidak menemukan ida, dia mencari hp nya untuk menelepon ida tetapi sebelum itu ada beberapa notifikasi dari seseorang.
[Udah enakan sya? ]
[Asyaa, udah ke dokter belom? ]
[Di rumah sama siapa? Ada yang jagain gak]
[Syaa, kemana sih? Jangan buat abang khawatir]
Asya hanya tersenyum membaca notifikasi tersebut.
[Asya udah mendingan ko bang, khawatir banget kayanya] balas asya yang di akhiri dengan emoticon ketawa.
[Asya di rumah di temenin sama teh ida, dia juga katanya mau nginep di kontrakannya asya, abang jangan khawatir ya] balas asya lagi di akhiri emoticon tersenyum. Balasan asya pun langsung centang biru.
[Abang khawatir dari pulang kerja kamu gak ada on]
[Asya tadi langsung tidur bang, gak ngecek hp dulu ... Maaf ya] balas asya lagi.
[Terus udah ke dokter belom? ]
[Belom, sekarang juga asya lagi nunggu teh ida lagi keluar kek nya].
[Mungkin ida lagi beliin kamu makanan]
[Iya kek nya bang]
[Yaudah, abang mau pulang kamu istirahat aja dulu fokus buat sehat jangan banyak pikiran]
[Iya].Setelah asya membalas jhons pun tidak ada membalas lagi hanya centang abu abu.
Setelah 20 menit ida kembali ke kontrakan asya, dia pulang dengan membawa 2cup bubur cemilan dan minuman segar lalu dia memberikan bubur pada asya.
"Makan dulu sya?" Asya hanya menganggukan kepalanya.
"Kamu abis dari luar, asya dari tadi nyariin"
"Hehe, maaf sya tadi gue niatnya mau bikinin lo bubur tapi gue liat gak ada kompor yaudah beli aja keluar takutnya bangun tidur lo lapar." Mata asya berkaca kaca kemudian memeluk ida.
"Loh loh kenapa sya?"
"Asya terharu, teteh seperhatian ini sama asya. Asya dari kecil gak pernah ada yang perhatian kek gini asya berasa punya kakak sekarang."
Asya menceritakan semua nya sama ida, dari mulai orangtua nya bercerai sampai dirinya yang harus bekerja keras untuk membiayai sekolah adiknya, karna walaupun ibunya kerja uang nya selalu abis tidak jelas sama neneknya sedangkan keperluan adiknya selalu minta sama ayahnya dan sekarang ayahnya sudah tidak mampu untuk membiayai sekolah adiknya karena usia yang sudah tidak muda lagi.
"Sya, gue juga di sini sama merantau gue tau gimana rasanya lagi sakit gak ada yang jagain. Eh tapi kan lo disini katanya punya saudara kan, gue kabarin aja ya. Mana minta no nya" Ujar ida mengalihkan pembicaraan.
"Jangan kak, aku gak mau ngerepotin mereka."
"Ohh yaudah, abis makan kita ke dokter ya."
"Tapi asya udah mendingan, kalo besok panasnya ada lagi asya ke dokter."
"Bener ya, awas aja kalo bohong."
"Gak bohong."
Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan makannya.