Langit siang itu muram. Mendung menggantung seolah turut berduka. Di pemakaman itu, bau tanah basah dan aroma bunga mawar bercampur menjadi aroma kehilangan yang pekat. Di bawah tenda hitam sederhana, beberapa orang berdiri berjejer, sebagian menunduk, sebagian lagi menyeka air mata. Ibu Cindy jatuh berlutut di depan pusara. Suaranya parau, memanggil nama anaknya berkali-kali. "Cindy… anak Mami… kenapa kamu pergi secepat ini, Nak…?” Tangannya meraba nisan yang baru ditancapkan, menggigil, seperti masih ingin merasakan hangat tubuh putrinya di balik gundukan tanah merah itu. Ayah Cindy berdiri di sampingnya, matanya sembab. Ia menggenggam bahu istrinya, tapi suaranya sendiri bergetar. "Sabar, Mih… sabar… biarkan Cindy tenang di sana…” Namun air matanya sendiri jatuh tanpa henti, membasahi

