Lorong rumah sakit malam itu terasa dingin dan panjang. Bau obat dan cairan antiseptik bercampur dengan aroma kegelisahan yang tak kasatmata. Lampu-lampu neon di langit-langit memantulkan cahaya putih pucat di lantai yang mengilap, menambah suasana dingin yang merayap hingga ke tulang. Ayah dan ibu Cindy berdiri di depan pintu kaca ruang ICU. Di balik kaca buram itu, tubuh anak mereka masih terbaring lemah, dikelilingi dokter dan perawat yang bergerak cepat. Lampu indikator merah di atas pintu masih menyala, menandakan perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung. Rio, tunangan Cindy, berdiri di samping ayahnya dengan tangan terkepal. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ia terus memandangi pintu itu seolah berharap keajaiban akan keluar dari sana. Suara langkah tergesa dari dalam

