Leon berdiri kaku di dekat pintu kaca buram itu, kedua tangannya terlipat di depan d**a. Sesekali pandangannya menerawang ke arah lampu indikator di atas pintu yang terus menyala merah. Di dalam sana, Cindy masih berjuang antara hidup dan mati. Rani duduk di kursi tunggu, Sementara Pak Asep berdiri tak jauh dari mereka, menunduk dalam diam. Hanya langkah petugas yang terdengar sesekali lewat. Pintu lift berbunyi. Dari dalam keluar tiga orang: sepasang suami istri paruh baya dengan wajah murung, dan seorang pria muda bertubuh tegap yang mengenakan kemeja putih. Dialah Rio, tunangan Cindy. Mereka bertiga berjalan cepat ke arah ruang ICU. Wajah ibu Cindy sudah berlinang air mata. “Cindy… di mana anak saya?” suaranya pecah. Rani berdiri, menatapnya dengan iba. “Tante… Cindy masih di dalam

