Sore menjelang malam. Langit di luar jendela rumah Marsya berwarna kelabu, menyisakan cahaya oranye pucat di tepi horizon. Rintik hujan di kaca jendela memantulkan cahaya lampu ruang tamu yang temaram. Waktu seolah melambat seperti sedang menunggu sesuatu yang tak terelakkan. Leon duduk di tepi sofa, tubuhnya masih tegang, matanya menatap lantai marmer yang dingin. Di dadanya, napas terasa berat, tersangkut antara rasa bersalah dan sesuatu yang tak bisa ia namai. Marsya berdiri beberapa langkah di depannya. Tatapan matanya lembut tapi berbahaya. Ia melangkah perlahan. Setiap langkah terdengar jelas di antara hening. Ketika jarak mereka tinggal sejengkal, Marsya berhenti. Jemarinya yang halus menyentuh dagu Leon, mengangkat wajahnya agar mata mereka bertemu. "Kenapa kamu diam?" suarany

