Malam itu langit masih lembab setelah hujan sore. Udara di luar rumah keluarga Santoso terasa sejuk, menyusup lewat jendela ruang tamu yang dibiarkan sedikit terbuka. Lampu gantung di tengah ruangan memancarkan cahaya putih yang lembut, Di sudut ruangan ada rak buku, foto keluarga di dinding, dan meja kayu tua yang penuh kenangan. Leon duduk di sofa panjang berwarna cokelat muda, mengenakan kaus abu dan celana pendek santai. Di hadapannya, sang ayah duduk bersandar sambil memegang kacamata baca yang setengah terlipat. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam, penuh wibawa yang terbentuk dari puluhan tahun bekerja keras. “Leon…” suara ayahnya pelan tapi tegas. "Kapan kira-kira kamu menyelesaikan kuliahmu?” Leon menoleh, sedikit kaget dari lamunannya. Ia menarik napas, menegakkan tubuhn

