BAB 19 Kegelisahan Marsya

1320 Kata

Hujan sudah reda. Di luar, daun-daun mangga di halaman rumah Marsya masih meneteskan sisa air, menimbulkan bunyi pelan seperti detak waktu yang tak ingin berhenti. Di dalam kamar, lampu tidur berwarna kuning temaram menebarkan cahaya hangat yang menyorot sebagian wajah Marsya, cantik tapi letih, lembut tapi penuh luka yang diam. Marsya duduk di tepi ranjangnya, mengenakan piyama tipis berwarna putih tulang. Rambutnya terurai setengah basah setelah mandi, menempel di bahu, dan matanya kosong menatap foto di ponselnya. Foto Leon yang tersenyum di ruang kelas pada saat dia sedang menyampaikan materi kuliah ke anak-anak, mengenakan kemeja biru muda. Ia mengembuskan napas pelan. “Leon…” bisiknya lirih, seperti berbicara pada bayangan di layar. “Sampai kapan kita begini?” Kedua tangannya mer

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN