Suara mesin motor sport Leon berhenti di depan rumah besar bergaya klasik di pinggir jalan raya. Dindingnya berwarna abu-abu muda, pagar besinya berkilau diterpa sinar sore. Udara lembap bercampur aroma bunga mawar dari taman depan rumah. Leon mematikan mesin dan melepas helmnya. Napasnya berat, wajahnya tampak lelah seolah membawa beban yang tak selesai di kampus tadi. Begitu membuka pintu, suara lembut menyambutnya dari ruang tamu. “Baru pulang, Nak? Dua hari nggak kelihatan kamu nginep di mana?”Suara itu milik Mamah, perempuan berparas teduh dengan daster bunga biru, rambutnya dicepol rapi. Ia sedang duduk di sofa, lipatan kain cucian di pangkuannya. Leon menyalami tangan mamahnya dengan hormat. “Saya nginep di rumah teman, Mah,” ujarnya pelan. Mamah mengangguk, tapi nada suaranya tet

