Lampu-lampu neon putih menyinari lorong panjang yang sunyi, hanya diisi suara langkah kaki dan roda brankar yang sesekali melintas. Leon berlari di antara deretan kursi tunggu, dadanya naik turun, napasnya tersengal, keringat dingin membasahi pelipis. Hatinya seperti diremas. Semuanya terasa terlalu cepat kabar tentang Cindy yang pingsan, panggilan panik dari Rani, dan kini… tubuhnya sendiri yang bergetar di depan pintu ruang IGD. Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menerpa wajahnya. Bau obat dan cairan infus begitu kuat, menusuk sampai ke d**a. Di balik tirai biru yang setengah terbuka, ia melihat Rani berdiri kaku di sisi ranjang wajahnya pucat, matanya sembab, bajunya kusut. Dan di sana… Cindy. Terbaring lemah, selang infus menempel di tangan kirinya, wa

