Langit siang itu menggantung redup, seolah awan ikut malas bergerak di atas gedung kampus. Udara terasa hangat, lembap, dan di kejauhan terdengar deru motor para mahasiswa yang bersiap pulang. Di taman kecil dekat gedung ekonomi, daun-daun trembesi berjatuhan perlahan, menari di antara langkah kaki yang bergegas. Leon baru saja keluar dari kelas, kemeja putihnya tergulung di siku, tas hitam tersampir di bahu. Di belakangnya, Rani berlari kecil sambil menahan rambutnya yang tertiup angin. “Leon! Tunggu dulu!” panggilnya dengan suara agak ngos-ngosan. Leon menoleh, tersenyum tipis. “Ada apa, Ni ? Kamu belum makan, ya ?” Rani mengangguk pelan. “Iya, belum. Temenin aku makan ke kantin, ya? Aku traktir deh.” Leon mengerutkan kening, lalu tertawa kecil. “Tumben kamu mau traktir? Biasanya ka

