Cintya masih terus menangis di depan jenazah kedua orang tuanya. Dia menyesali semua perbuatannya. Panji yang ikut mengaji bersama para pelayat sesekali hanya melirik. Panji tahu betapa terpukulnya Cintya saat ini, tetapi Panji tak bisa berkata apa-apa. Panji melihat sekeliling, orang yang selalu dibanggakan Cintya tak terlihat batang hidungnya. Pria yang katanya selalu mengerti Cintya tak ada di saat Cintya sedang terpuruk saat ini. Panji tersenyum sinis. Setelah selesai mengaji, Panji pun mencoba menghubungi Samuel, karena dia pikir Cintya akan sedikit terhibur dengan hadirnya Samuel. Ya, Panji memang lebih peduli pada perasaan Cintya, Tak peduli dia harus sakit hati. Panji berjalan ke belakang mencari tempat sepi untuk menghubungi Samuel. “Hallo, ada apa?” Terdengar suara dari seb

