Di tempat lain, Cintya bersenang-senang, jauh berbeda dengan keadaan Panji di rumah. Cintya sedang menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya serta Samuel. Mereka sungguh tak ingat akan Arkhan. Entah di mana hati nurani mereka telah melupakan anak kecil yang masih polos. “Coba dulu aku kembali ke sini lebih cepat, pasti bisa nikah sama kamu, Cintya.” Samuel tertawa lepas. “Udah nggak usah mengandai-andai. Semua sudah terlambat Sayang.” Cintya langsung menutup mulutnya karena keceplosan. Dia lupa kalau sedang bersama kedua orang tuanya. “Sayang?” tanya Bu Siska menatap Cintya dengan menautkan kedua alis. Cintya menggigit bibir bawahnya. Dia bingung harus menjawab apa, tak mungkin menjawab kalau dia dan Samuel menjalin hubungan. “Sebentar, kalian masih saling mencintai?” tan

