Lahiran

1009 Kata

Hari terus berjalan tanpa henti. Tanpa terasa usia kandungan Cintya sudah semakin mendekati HPL. Hanya tinggal menunggu hari lahiran. Wajahnya semakin pucat dan seperti susah bergerak. Mereka pun sudah pindah ke rumah yang lebih besar. Tidak tinggal di kontrakan lagi. Ya, rumah yang dibeli dari hasil keringat Cintya. Jadi, ini bukan rumah Panji. Setiap kali Cintya mengungkit masalah rumah, hatinya terasa nyeri. Seolah-olah Panji ini hanya butiran debu yang tak dianggap kehadirannya. Panji juga tak lagi bekerja di toko Pak Bimo, tapi bekerja sebagai pelayan di salah satu warung makan. Gajinya juga tak lebih baik dari tempat sebelumnya. Terkadang dia juga menjadi tukang parkir di alun-alun. Apa saja dilakoni asal mendapatkan uang dengan cara halal. Namun, semua itu tak pernah cukup di mata

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN