Hari ini, sebenarnya Panji ingin istirahat karena merasa tak sehat. Kepalanya berkunang-kunang dan jika dipaksa berkerja berbahaya. Namun, Panji harus tetap bekerja, karena tak mau mendengar omongan buruk dari kedua mertuanya. Dengan sangat pelan, Panji bersiap-siap. “Aku harus kuat, nggak boleh lemah.” Panji bertekad dalam hati. Setelah siap Panji segera berangkat. Dia melewati Kedua mertuanya sambil menunduk dan memberi hormat. Tetapi bukan sambutan baik yang didapat justru sindiran yang begitu menyakitkan. Panji harus menahan amarahnya. Dia tak mau sakitnya semakin parah. “Kok, ada ya pria yang nggak tahu malu?” tanya Pak Darto. “Nggak tahu maliz kenapa Pa?” tanya Bu Siska. “Ya itu Ma, istrinya udah berangkat dari tadi, pakai baju dinas. Eh, su

