Waktu terus berjalan. Hari berganti bulan, dan bulan pun telah beranjak pergi, datanglah tahun. Pernikahan Panji dan Cintya sudah berjalan selama dua tahun. Namun, Cintya belum ada tanda-tanda kehamilan. Hati Panji semakin was-was, jangan-jangan ada yang salah di antara mereka. Malam hari seperti biasa setelah makan malam, Panji yang membereskan semuanya. Cintya ke mana? Jangan ditanya, dia sudah asyik nonton TV. Jika diminta membereskan meja makan atau yang lain, pasti jawabannya sudah capek seharian kerja. Panji harus selalu bersabar menghadapi sikap Cintya. Bagaimanapun dia istri pilihan Panji sendiri. Panji tak boleh menyesalinya. Inilah resiko menikah dengan wanita yang derajatnya lebih tinggi. Ibunya sudah mengingatkan dari dulu, tapi Panji menyangkalnya. Setelah semu

