Curahan Hati Panji

1502 Kata

Panji pun langsung berdiri di tengah-tengah Cintya dan Samuel, lalu menepis tangan Samuel. Hal itu membuat Cintya melotot. Dia pun hendak berpindah tempat, tetapi Panji terus memegang tangan Cintya dengan erat.     Lalu, tiba-tiba ponselnya bergetar. Panji pun merogohnya. Tertera nama Adrian di layar. Dengan terpaksa Panji melepas genggaman tangan Cintya, lalu menjauh dari Cintya dan Samuel.     “Halo, Ad. Ada apa?” tanya Panji.     “Lu kenapa belum datang juga?”     “Ini lagi antar Cintya ke bengkel, sebentar lagi gue jalan.”     “Ok, sip. Cepetan, Pak Bimo udah marah,” ucap Adrian.     “Iya. Gue jalan sekarang.” Panji  mematikan sambungan telepon.     Panji pun mengalami dilema, antara meninggalkan Cintya atau tetap di sini. Lalu, dia kembali ke tempat Cintya tadi.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN