Cemburu
Heni masuk ke pondok. Rupanya Ben memang sedang beristirahat. Heni bicara dengan Ben perlahan. Menanyakan keadaannya dan mengungkapkan kekhawatirannya. Ika memilih duduk di luar pondok. Ia tak ingin menganggu mereka. "Kenapa kau tak menjawab?" Heni heran dengan perubahan sikap Ben. Bukannya pemuda itu yang berjanji hendak datang menemuinya di malam hari, namun tak kunjung datang? Heni mulai emosi.
"Ternyata lelaki itu pacarmu?" Heni merasa seperti baru saja ditampar. Kemarahannya lenyap seketika, berganti rasa takut. Ia terdiam untuk sesaat. Ben sudah duduk di depannya. "Dia punya kerja di kota, sedangkan aku hanya punya bidang tanah kecil ini peninggalan orang tuaku." Heni menelan ludah. "Siapa yang mengatakannya padamu? " Mata Ben berkilat marah. "Tak perlu kau tahu siapa yang mengatakannya! Aku hanya butuh jawaban darimu! " Nada suaranya yang tinggi melengking, membuat Ika terpaksa menerobos ke dalam pondok. "Tahan emosimu, Ben! Jangan kasar pada perempuan! " Ben gusar. "Dia temui laki-laki lain di kota! Mana mungkin aku tak marah, Kak! " Kini Ika memandang sahabatnya. "Benar begitu, Heni? " Heni memandang sahabatnya, mengangguk pasrah kemudian menunduk dalam-dalam. "Dia hanya teman lama saya, " jawab Heni takut-takut.
Ika memutuskan untuk membiarkan keduanya menyelesaikan permasalahan mereka sendiri. Ia bergegas keluar pondok sambil mendumel bahwa keduanya hanya menyusahkannya saja. Kalau memang keduanya sudah tak ingin melanjutkan hubungan, tak perlu saling menyakiti, akhiri saja dengan baik-baik. Ia pamit pulang duluan dan meminta Ben untuk mengantarkan Heni pulang nanti.
Untuk sesaat Ben dan Heni saling diam. "Aku hanya mengatakan pada lelaki itu bahwa aku sudah punya pacar sekarang! Memang dia adalah mantan pacarku!" akhirnya Heni mengaku