Pengertian
Waktu seakan lama sekali berputar. Berhenti sejenak ketika mata kedua insan yang sedang dilanda kasmaran itu bertemu. Ada gundah yang ingin dilepaskan Ben saat ini. Pemuda itu memilih memalingkan wajahnya kemudian menunduk. "Aku akan mengantarmu pulang sekarang." Heni beringsut mendekati pemuda itu. "Jangan seperti ini! Aku tidak bersalah. Aku hanya menyelesaikan urusanku yang sempat tertunda agar lebih mudah bagiku ketika menjalin hubungan denganmu. Itu saja maksudku menemui lelaki itu."
Mata Ben terpejam lama. Rahangnya berkedut-tanda bahwa ia sedang berusaha meredam gejolak rasa terdalam saat ini. Rasa kecewa yang dirasakannya nyaris membuat ubun-ubunnya mengeluarkan asap. Kecewa bercampur amarah yang sulit untuk diredam-namun ia berusaha menunjukan kedewasaannya di hadapan perempuan yang begitu disayanginya. "Aku tak ingin jadi pilihan! Aku ingin menjadi satu-satunya karena kamu adalah perempuan satu-satunya di hatiku!" Penjelasan Ben disertai suara parau yang memilukan di telinga Heni.
"Aku tak berbuat apa pun dengan lelaki itu selama di kota. Menyentuhnya pun tidak. Hubungan kami sudah lama sirna karena tidak pernah lagi berjumpa. Aku mohon padamu-jangan menyerah terhadapku!" Heni mengangkat tangannya ingin menyentuh Ben namun ekspresi marah yang ditunjukkan pemuda itu membuatnya mengurungkan niatnya. Wanita dewasa itu sadar bahwa pemuda itu butuh waktu untuk memikirkan semuanya ini.
"Aku tak mengkhianatimu Ben!" Ben bergeming. Heni tak melihat ada kesempatan untuknya kali ini. "Aku pulang dulu. Sebenarnya, aku mencarimu karena khawatir kau tak muncul beberapa hari ini di rumah. Terlebih lagi... aku tak bisa tidur memikirkan janjimu untuk datang menemuiku di malam itu. Aku menanti dan menanti namun kau tak kunjung datang." Heni mengutarakan perasaannya sejujur-jujurnya. "Maafkan jika kau kecewa." Heni melangkah keluar dari pondok.