Kota
Heni turun dari truk yang tadi ditumpanginya jam tiga dini hari dari kampung. Truk itu keluar dari kampung tepat pukul lima. Selama dua jam, Heni dan warga kampung berebutan naik kendaraan tersebut dan berkeliling kampung dengan truk, maklum itu adalah satu-satunya kendaraan yang membawa penumpang dari kampung mereka ke kota. Dingin dan embun pagi seakan tak dihiraukan oleh mereka. Kebutuhan ekonomi adalah faktor yang sangat kuat mempengaruhi derap denyut hidup mereka. Apalagi untuk yang memiliki usaha kios seperti Heni.
Tepat jam tujuh, truk yang membawa penumpang sekitar empat puluh orang tersebut, sampai di terminal kota. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan para penumpang yang turun, termasuk seorang laki-laki berkaos biru tua dan celana jeans hitam. Usianya sekitar empat puluhan. Ketika yang dicarinya telah nampak di depannya, sorot matanya melemah seakan berusaha meredam perasaan yang berkecamuk di d**a.
Kemarin lelaki hitam manis bernama Jon ini, mendapat pesan singkat dari Heni. Mantan kekasihnya ini tiba-tiba menghubunginya. Sudah lama mereka tak berhubungan karena Heni jarang ke kota. "Heni..., " Jon langsung merangkulnya. Biasanya Heni tak menolak, kali ini perempuan itu menepis tangannya. Jon berpikir jangan-jangan Heni sudah mengetahui hubungannya dengan gadis yang bekerja di warung makan dekat bengkel tempatnya bekerja.
"Mari makan dulu, nanti saya temani belanja." Jon terlihat girang. Heni setuju dan mengikuti Jon masuk ke sebuah warung makan tak juaah dari situ. Keduanya memesan nasi goreng dan teh manis. Jon terlihat rapi. Laki-laki yang telah lama tinggal di kota itu sangat berbeda dibandingkan dengan Ben, nilai Heni. Pikirannya dipenuhi oleh anak muda bermata polos yang selalu menatapnya dengan tatapan memuja.
"Apakah kau serius waktu mengatakan bahwa kau akan melamarku? " Pertanyaan yang begitu tiba-tiba membuat Jon terbatuk-batuk. Pantas saja, Heni tampak lusuh kali ini tidak seperti biasanya. Pasti ia ada masalah yang sedang dipikirkan. "Kenapa bertanya demikian? Ada apa ini?" Jon berusaha menekan keterkejutannya.
"Jika kau serius, kapan tepatnya kau akan datang ke rumahku?" Heni menunggu jawaban. "Kurasa kita sudah cukup lama berpisah, tak perlu merisaukan hal-hal yang berat. Kita nikmati saja perjumpaan ini." Jon berusaha menghindari tatapan tajam penuh tanya dari perempuan di hadapannya. Heni menarik napas panjang. "Sudah kuduga kau tidak pernah serius denganku. Kupikir setelah lama tak bertemu, ada timbul rasa rindu padaku. Rupanya aku salah! " Jon tak mampu berkelit, meski ia mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan Heni. Wanita itu menyelesaikan makannya dalam diam. Ia tak meladeni lagi ucapan Jon. "Apakah kau sudah punya kekasih? " Pertanyaan Jon menggantung di udara