Ben
Lelaki muda itu tergila-gila padanya. Begitulah yang Heni tahu. Sejak mereka diperkenalkan, Ben selalu datang ke rumahnya hampir setiap hari. Tak pernah ada kata terucap tentang hubungan mereka, namun ia yakin Ben menganggapnya sebagai kekasihnya.
"Siang, Kak!" Sapaan khas dari Ben selalu membuat pipi Heni bersemu merah. "Kemarin, cukup banyak belanjaannya?" Heni mengangguk. Ia menunjuk beberapa bungkus makanan ringan dan bahan -bahan rumah tangga lainnya yang telah dibelinya. "Tolong angkat bungkusan yang itu, yah!" Bungkusan garam halus terlihat cukup berat. Tanpa banyak bicara, Ben langsung mengangkatnya.
Heni senang pada pemuda yang cekatan itu. Sayangnya, ibunya tidak setuju ia berpacaran dengan pemuda yang jauh lebih muda darinya. "Kalian berdua terlihat seperti kakak dan adik! " tegas ibunya suatu ketika. "Aku menyukainya, Bu! Yang terpenting adalah perasaanku saat bersamanya, bukan?" Ibunya hanya terdiam dengan muka masam. "Kalau dia sudah bosan denganmu, ia akan segera cari yang lebih muda! Yang seumur dengannya. Jangan bilang Mama tidak memperingatkan mu, yah!" Ibunya mati-matian menentang hubungan mereka.
Ben tidak ambil pusing dengan perlakuan ibu Heni padanya. Ia tetap santai, datang menemuinya seperti biasa. "Aku dengar dari temanku, kakak ke kota kemarin ada ketemu dengan laki-laki. Siapa itu? Pacar kakak?" Ben menunggu jawaban sambil duduk di bangku di sudut ruangan yang sehari-hari berfungsi sebagai gudang. Tidak biasanya dia begitu. Heni mendekatinya. "Dia hanya temanku." Heni kesal karena ada yang diam-diam memperhatikannya di kota dan memberitahukannya pada Ben. "Benar? " Ben mencoba mencari jawaban di wajah Heni. Wanita itu menelan ludahnya menutupi kegugupannya. Wajah Ben yang begitu dekat di hadapannya membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ben langsung mendaratkan ciumannya yang sangat menuntut di bibir Heni. Keduanya mulai bergelut. "Jangan temui di lagi. Aku tak suka! " Ben merajuk. Heni berjanji dan membiarkan Ben melakukan apa yang ia inginkan. Sikap pasrah Heni membuat Ben semakin liar.
"Beli... beli...! " teriakan seorang bocah di depan kosnya menyadarkan keduanya. Heni merapikan pakaian dan rambutnya bergegas menuju si bocah kecil, namun Ben masih sempat menciumnya sekali lagi. Kali ini lebih perlahan. "Nanti malam aku ke sini! " bisiknya perlahan. Heni memacu langkahnya meninggalkan gudang disusul Ben dari belakang. Tingkah laku kedua orang itu sempat dilihat oleh ayah Heni. Ia maklum anak perempuannya yang disangkanya tak akan bersuami itu -sedang jatuh cinta.