“Mami?” lirih Sherry yang masih setengah sadar. “Jangan panggil dia dengan sebutan itu lagi nak, dia hanya wanita gila yang jahat,” Terdengar Rendy berbisik di samping Sherry sambil menatap Hanna dengan nyalang. “Hai, Sayangnya mami, kamu sudah sadar?” sapa Hanna dibuat seramah mungkin. “Cihh! Dasar perempuan bermuka dua,” ejek Rendy yang lalu dihadiahi tamparan keras di pipinya. “Papi!” pekik Sherry. Dia tidak menyangka akan melihat orang yang biasa ia panggil mami tega menampar papinya. “Hah! Aku sudah cukup muak dengan kalian berdua. Sudah tujuh belas tahun aku mengasihi kalian, tapi kamu ...” Hanna menunjuk pada wajah Rendy. “Kamu tidak pernah menghargai usahaku merawat kalian,” Hanna melanjutkan perkataannya. “Kamu selalu saja bermain api di belakangku. Sedangkan kamu ...” Kini

