"Sudah hapal belum Le nama Seruni?" Bapak datang menghampiriku yang sedang duduk menikmati kopi pagiku. Aku mengangguk mantap ke arah Bapak, aku dan Bapak memang seperti ini sama sama memiliki sifat canggung, dingin dan kaku. "Perasaan Bapak baru kemarin Bapak nuruti kemauan Ibu mu yang ngidam buah kesemek," tutur Bapak sambil duduk di sebelahku dan menerawang jauh ke depan, aku tidak pernah memperhatikan ekpresi mata Bapak yang terlihat lembut dan penuh kasih sayang. "Terima kasih Bapak sudah mengajariku hingga aku bisa menjadi seperti sekarang," ujarku tulus dan tiba-tiba saja bapak menepuk pelan bahuku. Memberikan aku kehangatan yang menelusup hingga ke dalam hatiku. "Maaf kalau Bapak terlalu dingin dan kaku dalam mendidikmu," ada ekspresi sesal di dalam mata Bapak, dan itu membuatku

