24

1803 Kata
Cahaya yang semula redup, lama kelamaan menjadi makin terang. Sedetik kemudian Inigha mengangkat tongkat lalu melesatlah cahaya yang menyilaukan pandangan. Tatkala cahaya itu berangsur-angsur hilang, Cloud dan kawan-kawan sudah tidak berada di sana. "Sial!" hardik Kolonel Beef, marah. Kolonel Beef geram tak melihat musuh-musuhnya di sana. *** Mereka muncul di Kota Ath. Splash segera menyerahkan obat-obatan itu kepada anak kecil tersebut, sementara Cloud dan kawan-kawan membagikannya pada apotek. "Apakah kalian sudah mendapatkan Volenthium?" tanya Sand. Cloud menggeleng. "Belum. Tadi kami belum sempat mencarinya dan berangkat menuju Gurun Malt." "Ah, mari aku tunjukkan lokasinya," tukas Eton. "Terima kasih," ujar Cloud lantas bertanya, "Oh iya, ada perlu apa Bannière Rouge dengan kami?" "Aku tidak tahu persis. Ia hanya memintaku menjemput kalian." Eton menoleh pada Sand. "Mungkin Ketua Sand bisa menjelaskan." Sand mengangguk. "Sejak kalian menjadi buronan, kami mencari kalian. Namun, rupanya itu tidak mudah. Dan kebetulan setelah kita bertemu aku sampaikan pada sahabatku, Gold. Kami berniat mengajak kalian bergabung karena berdasarkan pengamatan kami, kalian memiliki kekuatan yang ditakuti pemerintah Prancis dan Belgia. Seperti yang pernah aku jelaskan, android kalian memiliki kehendak bebas, dan tidak bisa dikendalikan. Tapi selain itu, android kalian memiliki kemampuan belajar yang tidak terbatas. Itulah yang membuat mereka takut sehingga berusaha menangkap kalian. Kami berniat melindungi kalian, karena kalau kalian sampai tertangkap, semua usaha perlawanan kami akan sia-sia. Semula aku berniat mengutarakannya ketika kita bertemu waktu itu, tetapi aku mengurungkannya sampai kalian mendapatkan Volenthium." Mendengar itu Cloud menunduk seraya menatap ruang hampa. Lengkung matanya turun, begitu pula bahunya. Ingatannya melayang ke saat-saat terakhir Sodda dihancurkan. Hatinya terasa perih membayangkannya. Hal.itu tidak lolos dari perhatian Sand. "Kami akan membantu kalian mengambil memori Sodda," celetuk Sand. Cloud tersentak seraya membelalak, tidak percaya dengan yang didengarnya. "Benarkah?" Sand tersenyum. "Tentu saja." Cloud tertegun beberapa saat. "Tapi tidak mudah mengambil memori itu." "Aku paham. Tapi tidak ada yang tak mungkin. Yang paling penting kita harus memiliki rencana yang tepat," ujar Sand. Cloud mengangguk. "Benar. Sebelum itu aku harus mendapatkan Volenthium." "Kalau boleh tahu, untuk apa Volenthium?" tanya Sand, penasaran. Cloud tertegun beberapa saat. Semula ia ragu mengatakannya lantaran belum terlalu mengenal Sand. Namun, setelah Sand menyelamatkannya dua kali, ia yakin kalau Sand tidak memiliki niat buruk. "Volenthium merupakan bahan khusus yang ditanamkan dalam setiap bagian Sodda. Bahan itu digunakan untuk merekatkan antara bagian yang satu dengan lainnya. Selain itu, dengan Volenthium merupakan salah satu bahan yang bisa mengeluarkan energi Metanzee kalau disenergikan dengan bahan lain," terang Cloud, "sayang, aku tidak dapat menemukan energi lainnya sehingga energi Metanzee tidak tercipta di dalam tubuh Sodda." Semua yang ada di sana tersentak. Mereka tahu energi Metanzee memiliki kekuatan melebih energi nuklir. "Bahan apa yang dibutuhkan untuk disinergikan dengan Volenthium?" tanya Splash, penasaran. "Ervanium." Kata-kata Cloud makin membuat mereka terkejut. Ervanium merupakan bahan yang berasal dari bebatuan di Planet Saturnus. Di bumi, energi itu sempat digunakan, tetapi hasilnya gagal. Sampai saat ini tidak ada yang tahu bagaimana cara menggunakan Ervanium. Penjelasan Cloud menunjukkan kalau ia merupakan satu-satunya orang yang berhasil memanfaatkan Ervanium. Meskipun semua orang tahu Cloud memiliki I.Q genius, tak seorang pun yang menyangka kalau ia berhasil menggunakan Ervanium. Namun, di antara mereka hanya dua orang yang tahu mengenai hal itu, yakni Milk dan Summer, yang pernah bekerja sebagai Asisten Cloud. "Jadi, apakah kamu berniat mengambil Ervanium?" tanya Eton. Alih-alih Cloud, justru Milk yang menjawab, "Dari dulu Cloud sudah berniat menggunakan Ervanium. Dugaanku Summer membocorkan masalah ini pada pemerintah, sehingga pemerintah menyabotase percobaan kami belasan tahun lalu." Sand mengangguk repetitif. "Ah, rupanya itu motif sebenarnya dari pemerintah." Cloud mengangguk yakin. "Begitulah keyakinanku." "Dengan cara apa Profesor Reufille mau mengambil Ervanium?" tanya Splash. Cloud menggeleng. "Entahlah. Yang paling penting sekarang aku harus mendapatkan Volenthium, dan menyematkan bagian badan Sodda menggantikan besi-besi di badanku." Eton mengangguk. "Kalau begitu, ayo, aku antar kalian ke pasar gelap." Cloud dan kawan-kawan pun mengikuti Eton dari belakang. Di tempat lain, tepatnya di sebuah ruangan. Kolonel Beef sedang berada sendirian di ruangan itu. Ia sedang berbicara dengan Jendral Volt melalui layar hologram. "Ada apa menghubungiku, Beef?" tanya Jendral Volt. "Aku mau melapor, Jendral Volt." Jendral Volt mengangguk. "Teruskan." "Jendral, setelah berada di sini kami menilai kepolisian Kota Ath yang dipimpin Mayor Jendral Fried tidak mau bekerja sama dengan kami," ungkap Kolonel Beef. Jendral Volt tersungging dan sama sekali tidak terkejut. "Aku sudah menduganya. Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Tetaplah bergerak sendiri." "Begitulah yang kami lakukan, Jendral Volt. Memang kami kesulitan lantaran Mayor Jendral Fried enggan membantu. Tapi tiba-tiba anak buah Flip menghubungi kami dan mengatakan kalau para buronan itu sedang berada di Gurun Malt, tepatnya di markas mereka." "Flip?" Kolonel Beef mengangguk. "Benar, Jendral Volt." "Lantas apakah kalian menyusul ke sana?" tanya Jendral Volt. "Iya, Jendral Volt. Tapi setelah kami berada di sana, tiba-tiba Sand muncul dan menyelamatkan mereka," terang Kolonel Beef. "Dia lagi!" bentak Jendral Volt tampak sangat marah seraya memukul meja keras-keras. "Jendral Volt, ada yang membuat kami lebih terkejut," lanjut Kolonel Beef. "Apa itu?" Jendral Volt mengangkat sebelah alisnya. "Eton Mess berada di sana dan membantu mereka," tukas Kolonel Beef. "Eton Mess .... Berarti Bannière Rouge dan Liberte membantu para buronan itu. Ini tidak bisa dibiarkan," ujar Jendral Volt. "Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Jendral Volt? Kami menunggu perintah." Jendral Volt mencerna pikiran cukup lama. "Kalian tetap cari para buronan itu, tanpa sepengatahuan Mayor Jendral Fried." "Apakah kami harus mengelabuinya dan mengatakan kami kembali ke Paris?" tanya Kolonel Beef, lagi. Jendral Volt mengangguk, membenarkan. "Benar. Buatlah mereka menyangka kalian pulang ke Paris." Kolonel Beef tertegun sejenak. Ia tahu kalau Jendral Volt ingin memberi pelajaran pada Mayor Jendral Fried. "Apa rencana Jendral Volt, pada Mayor Jendral Fried." Mendengar hal itu, Jendral Volt menyeringai. "CamelLeon dan MirelKlum." Kolonel Beef tersentak. "CamelLeon dan MirelKlum? Apakah Jendral Volt akan mengirimnya dan mengelabui Mayor Jendral Fried?" Jendral Volt mengangguk. "Benar. Itu adalah cara yang tepat untuk memberi pelajaran pada Mayor Jendral yang sombong itu." Mendengar itu, Kolonel Beef tersenyum puas. "Jendral Volt memang ahli strategi luar biasa. Aku yakin, mereka akan memberi Mayor Jendral berengsek itu pelajaran setimpal." Jendral Volt menggeleng. "Tidak ..., tidak .... Kamu salah. Ia akan memberinya pelajaran berkali-kali lipat." *** Di sebuah tempat di tengah Kota Paris. Camel dan Leon sedang berada di ruang simulasi tempur, dan bersama dua sahabatnya, Mirel dan Klum. Mereka sedang mengadapi ular raksasa. Keempatnya telah menghimpun energi andalan. Namun ular raksasa di hadapan mereka memiliki kemampuan luar biasa. Meskipun memiliki bobot tubuh berat, kecepatannya seperti kilat. Dan itu ditunjukkan oleh ular raksasa sejak serangan pertama .... Ular raksasa menyerang, dan menghantamkan tubuh ke tanah hingga berguncang. Beruntung, mereka berhasil menghindar dari serangan tersebut. "Salju!" seru Camel pada Leon yang dipanggilnya Salju lantaran android berbentuk serigala itu berbulu seputih salju. Camel dan Leon merangsek ke depan. Tangan Camel mengayun bersamaan dengan Leon yang menyambar ular raksasa bak kilat. "Boom Ballistic!" "Speed Carnell!" seru Leon. Di saat yang sama, Mirel memutar tangannya di udara, membuat tubuh Klum berputar seperti bor. "Drill Digger dan Deep Impact!" Dua serangan itu menghasilkan kekuatan dahsyat. Tanah berserakan, debu berhamburan memenuhi udara. Serangan tersebut memang luar biasa. Setelah kumpulan debu berangsur-angsur memudar, tampaklah sosok ular raksasa yang tak terluka sedikit pun. Ular raksasa mendesis, "Dengan kemampuan itu kalian berharap mengalahkanku?! Tak akan pernah bisa!" Cairan-cairan hijau dilontarkan ular raksasa ke arah mereka. "Awa—" Camel mengerang. Pundaknya terbakar oleh cairan panas ular raksasa. Meskipun hanya simulasi, serangan itu terasa nyata. "Kamu tidak apa-apa, Camel?" Mirel terlihat cemas. "Tidak. Hanya sedikit terbakar," jawabnya, seraya menatap ular raksasa dengan tajam. "Ayo, kita serang lagi." "Tunggu. Kalau kira menyerang seperti tadi, hasilnya akan sama." Leon menahan Camel. Klum mengangguk. "Kita harus bisa mengintegrasikan enerhi." "Mengintegrasikan?" Mirel menggumam, seraya berpikir. "Semula aku pikir latihanku bersama Salju sudah cukup, tapi rupanya belum." Camel menoleh pada Leon. "Bagaimana cara mengintegrasikannya?" "Setiap pasangan memiliki cara berbeda. Integrasi tergantung dari keselarasan dua jenis energi. Satu-satunya cara adalah mencoba menemukan persamaan dari kedua magis melalui pertempuran secara langsu—" Ular raksasa tiba-tiba kembali menyerang. Serangan itu membuat mereka terpencar. "Kita coba lagi, Salju!" Camel berlari sembari menarik tangannya ke belakang. "Boom Ballistic!" Pukulan api Camel tak mengenai sasaran. Ular raksasa berhasil menghindari serangan, dan menerjang balik. Cairan-cairan panas dilontarkannya ke arah Camel. Kala cairan sudah berada dekat sekali dengan Camel, sebuah cahaya biru besar berhasil melindunginya. "Salju ...." "Untung aku sempat mengeluarkan Carnell Shield," tukas Leon, "kita harus menyerang bersamaan, Camel." Leon baru usai berbicara, Klum dan Mirel jatuh terhempas di sampingnya. "Ular itu kuat sekali," geram Mirel, seraya berdiri. "Ayo, jangan membuang waktu!" Tubuh Klum berputar layaknya roda dan melesat menuju ular raksasa. Mirel, Camel, dan Leon pun tak tinggal diam. Mereka merangsek dengan kekuatan penuh. Tangan-tangan Camel, dan Mirel berpendar, demikian pula dengan seluruh tubuh Leon. "Camel, percepat gerakanmu untuk menyelaraskan dengan energiku!" Camel mengayunkan tinjunya lebih cepat. Tapi sayang, kali ini juga meleset. Sementara itu, serangan Klum dan Mirel dimentahkan oleh ular raksasa. Melihat keempat lawannya tak mampu berbuat banyak, ular raksasa tertawa, "Tampaknya hari ini kalian hanya pecundang!" Klum mencerna pikirannya, sebelum berkata, "Mirel, apakah kekuatanmu adalah memindahkan gravitasi?" "Benar. Tapi aku tidak tahu, persamaan kedua magis kita." "Energiku adalah tenaga super. Jika kamu memindahkan gravitasi suatu benda yang berat ke bobotku, maka tenagaku akan kian menguat." "Bukankah justru membuat kecepatanmu menurun?" "Tentu saja. Oleh karena itu kamu harus dapat memperkirakan gravitasi yang kamu pindahkan, dapat ditanggung olehku." Klum menerangkan. Camel yang mendengarkan percakapan mereka pun bergumam, "Ah, idenya sungguh masuk akal. Energiku dan Salju sama-sama memiliki efek membakar. Tetapi Salju memiliki kecepatan yang jauh melebihiku ... tunggu, bagaimana jika ...." Camel menoleh pada Leon. "Salju, biarkan aku menunggangimu dan kita ledakkan ular raksasa dalam waktu bersamaan." Leon memikirkan pendapat Camel selama beberapa saat. "Kurasa bisa kita coba." Tubuh Leon membesar agar Camel dapat menungganginya. "Naiklah." Camel mengangguk, lantas naik ke atas punggung Leon. "Teman-teman, mari kita tuntaskan ular raksasa itu." "Kita habisi ia bersamaan," ujar Mirel dengan tangan diselimuti cahaya. Keempatnya telah bersiap, tetapi demikian pula dengan ular raksasa. "Aku sudah tidak sabar menikmati kalian!" Mulut ular raksasa terbuka lebar. "Kami dari kiri, kalian seranglah dari kanan!" "Baik, Camel!" Klum menggelinding ke arah ular raksasa. "Deep Drill!" seru Mirel, memutar dan memindahkan gravitasi tiga buah batu besar ke tubuh Klum. Otot-otot Klum kian menonjol. Tubuhnya pun semakin membesar. "Aku suka sebutan ikatan magis kita!" Klum berseru. Sementara itu, Camel menarik kedua tangannya ke belakang, sambil menunggangi Leon yang melesat dengan kecepatan penuh. "Percuma!" Ular raksasa melontarkan bola cairan besar, tetapi Leon segera mengeluarkan Carnell Shield untuk melindungi mereka. Ular raksasa tersentak melihat bola cairan menguap terkena cahaya Carnell Shield. "Belum usai!" teriak ular raksasa, namun keempat lawannya telah berada dekat dengannya. "Ballistic Carnell!" Impak kedua ikatan energi menyebabkan ledakan besar. Tanah, pohon, bebatuan, dan benda yang ada di sekelilingnya pun hancur berserakan. "Kalian ..." Ular raksasa terhuyung, sebelum akhirnya pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. "Wuhuuu!" Mirel mengepalkan tinjunya ke udara. "Yeaaaaaaah!" teriak Camel, tak kalah gembira. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN