Setelah itu mereka keluar dari dalam ruangan dan disambut seorang perempuan bernama Dim.
"Bagaimana, mau latihan lagi?" tanya Dim pada Camel dan teman-teman.
"Kami ingin simulasi hutan labirin," tukas Camel. Ia ingin simulasi hutan seperti yang ada di Belgia—hutan temlat Chime dan hewan-hewan aneh lainnya berada.
"Baiklah." Dim menekan layar hologram. Seketika ruangan berubah menjadi hutan belantara.
Mereka pun berjalan melintasi hutan simulasi. Sesekali mereka mengibaskan tangan, berusaha menyingkap kabut yang menghalangi pandangan. Tak jarang pula mereka menutup hidung, kala melalui sekumpulan sekumpulan jamur yang beraroma busuk.
"Kita sudah sampai," ujar orang yang berada paling depan, yang tidak lain adalah Dim.
Camel, dan Mirel mengedarkan pandangan. Di hadapan mereka, berdiri dinding-dinding tanaman berduri yang diselimuti asap hitam. Sementara di sekeliling mereka, pohon-pohon rindang dan tinggi, menutupi cahaya matahari—sehingga keadaan di sana tak ubahnya seperti malam hari. Belum lagi suara derik, dan desis hewan-hewan di balik dinding, membuat bulu kuduk merayap. Suasana mencekam tersebut, mencengkeram keberanian Camel, dan Mirel, hingga nyaris tak bersisa.
"Ingat, jangan sampai kalian berpencar. Ayo kita mulai!" Dim mengingatkan.
Keempatnya berjalan memasuki garis mula labirin. Lebar jalan labirin hanya satu meter, sehingga duri-duri pada kedua sisi dinding hampir menggores mereka. Ditambah lagi kabut yang tebal, kian menyulitkan perjalanan keempatnya. Dalam keadaan seperti itu, mereka bersiaga penuh. Leon memandang Camel beberapa saat. Kemudian mengalihkan pandangannya lagi. Setelah melintasi jalanan cukup jauh, mereka tiba di persimpangan jalan.
"Jalan mana yang akan kita ambil?" tanya Klum.
"Bagaimana kalau kita berpisah? Aku dan Klum mengambil jalan di sebelah kiri, kalian ke sebelah kanan," usul Mirel.
"Jangan. Ingatlah lita tidak boleh berpencar." Camel mengingatkan, "Klum, Salju, apakah kalian dapat mengidentifikasi labirin ini?"
"Tidak. Jalanan di hutan labirin selalu berubah," tukas Leon. "Menurutku kita harus mengambil jalan di sebelah kanan."
"Kamu bisa saja salah. Tetapi lebih baik memutuskan, daripada terus berdiam di sini."
Keempatnya sepakat, kemudian menyusuri jalanan berbelok.
Baru beberapa langkah mereka berjalan. Sepasang mata ungu menyorot di dalam kegelapan. Suara napasnya yang berat pun terdengar.
"Hati-hati," tukas Leon.
Mata itu bergerak kian dekat, sampai akhirnya sosok si pemilik mata terlihat.
Ia adalah seekor komodo berbulu ungu. Dari kepala hingga ekor, terdapat duri-duri yang besar dan runcing. Kuku-kukunya keras dan runcing—seperti belati.
Komodo itu menatap tajam, seraya menjulurkan lidah. "Sudah lama sekali, santapan nikmat tidak datang ke sini."
"Ah, simulasi ini terasa sangat nyata!" Tubuh Klum membesar, lalu menggelinding ke arah komodo.
Camel, Leon, dan Mirel tak tinggal diam. Mereka menerjang lawan dengan energi andalan.
"Hah! Kalian tamu yang lancang!" Duri-duri di punggung komodo, melesat bagaikan kilat.
Kecepatan serangan komodo, tak berhasil diantisipasi dengan baik, sehingga keempatnya tergores cukup dalam—sekaligus membuyarkan energi mereka.
"Serangannya cepat sekali. Apalagi kabut menghalangi pandangan kita," geram Leon.
"Jadi bagaimana kita menyerangnya?" Mirel cemas.
Belum saja mereka menemukan cara untuk mengalahkan lawan, serangan kembali datang. Serangan demi serangan yang datang bertubi-tubi, menambah luka mereka. Keadaan tersebut, mengakibatkan mereka kehabisan akal.
Dalam keadaan terdesak, tanpa pikir panjang Camel menungkatkan energinya. Ia segera mengalirkan energi untuk membuka simpul di tangan dan kakinya. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa hangat. Ia merasakan ada hawa energi yang merayap di dalam.
"Camel ...." Leon terhenyak, melihat Camel diselimuti asap hitam. Semula ia mau mencegah agar Camel tak menghabiskan energi, tetapi sudah terlambat. Kedua temannya yang lain pun tak kalah terkejut menyaksikan energi Camel.
Merasakan energi berkekuatan besar mengalir di tubuhnya, Camel menyeringai. "Kalian diam, dan tontonlah aku. Biar aku yang menghabisinya!"
Camel melompat ke atas, lantas terjun menukik ke arah komodo berbulu.
"Dicoba berulang kali, hasilnya akan tetap sama!" Komodo berusaha menghindar, dan menyerang balik, akan tetapi usahanya sia-sia.
Kekuatan, dan kecepatan Camel meningkat puluhan kali lipat. Tinjunya menghunjam deras, dan membakar tubuh komodo magis.
"Yeaaa!" seru Klum.
"Wuhuuu! Kamu hebat, Camel!" Mirel berteriak girang.
Berbeda dengan mereka, Leon merasa ada yang janggal dengan Camel.
"Hmm ..., ayo!" Camel berjalan di depan, memimpin teman-temannya menyusuri labirin.
Pada saat menemui tiga persimpangan, mereka mengambil jalan di tengah, yang akhirnya membawa mereka ke sebuah jalan buntu. Di ujung jalan tersebut, terdapat sebuah danau hitam.
"Sepertinya kita harus kembali ke tempat tadi, untuk mengambil jalan lain." Mirel berkata, seraya membalik badan.
Sayang, jalan untuk kembali sudah tertutup oleh dinding berduri.
"Tidak. Bagaimana caranya kita kembali?"
"Tenang, Mirel. Biar aku hancurkan dinding ini!" Klum menggelinding dan menabrak dinding berduri, tetapi dinding tersebut sama sekali tak bergeming.
"Percuma, Klum," ucap Leon, menghentikan Klum, yang ingin mencobanya lagi.
"Teman-teman, lihat!"
Air danau meluap, lantas merayap di tanah, dinding, bahkan menyelubungi bagian atas yang terbuka. Tak lama kemudian, selubung cairan tersebut mengeras, dan membentuk dinding yang di setiap sisinya terdapat sebuah pintu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Mirel merasa heran.
Melihat ruangan itu, sebuah cerita terulas di pikiran Leon. "Menurut dataku. Hutan asli memiliki Ruang Ilusi, mungkin dalam simulasi ini kita sedang berada di ruangan itu."
"Ruang Ilusi?"
Klum mengangguk. "Iya. Aku juga melacak data itu. Di sini terdapat pintu yang akan membawa kita ke tempat yang dijaga makhluk penghuni hutan. Menurut yang aku dengar, kita harus masuk dan menyelesaikan misi di dalamnya. Sayangnya, hanya itu yang aku ketahui."
Camel tersungging mendengar penjelasan Klum, lalu berjalan menghampiri sebuah pintu yang bertuliskan namanya. "Ah, jadi ini pintu itu," ucapnya, sembari membuka pintu. "Apakah kalian hanya diam saja di sini?"
Tanpa menunggu jawaban, Camel langsung melangkah masuk.
"Camel ...," gumam Leon, "Ayo, kita masuk."
Mirel, Leon, dan Klum pun berjalan menuju pintu. Entah apa yang akan menghadang, tetapi mereka telah siap menghadapinya.
Ketika sudah berada di dalam keempatnya melihat asap memenuhi ruangan. Leon bersiaga, tatkala kepulan asap menyatu, kemudian perlahan-lahan membentuk seekor hewan penghuni hutan.
"Hampir ...." Kukang raksasa berwarna hitam menggeram, seraya menatap lurus pada Camel dan kawan-kawan.
Leon mengerling ke belakang. "Kalian siap?"
Camel mengangguk, yakin. "Tentu saja. Aku selalu siap kapan saja."
"Aku pun telah siap." Klum melemparkan pandangan pada kukang raksasa.
"Sebaiknya kita serang sekarang," timpal Mirel.
"Hah! Aku sudah tidak sabar!" Kobaran api menyelubungi tinju Camel.
Melihat lawan-lawannya telah siaga, kukang raksasa sama sekali tidak surut. "Akulah yang akan menghabisi kalian!"
Kukang raksasa mengentakkan kaki, lalu keluar asap hitam dari ekornya. Asap itu beraroma busuk, dan beracun.
"Hati-hati! Asapnya beracun!" Leon mengingatkan.
"Tapi bagaimana kita bisa mengenyahkan asap racun itu? Jika tidak, ia akan masuk ke pernapasan kita," tanya Mirel, khawatir.
"Aku tahu caranya." Camel berseru, seraya berjalan ke depan. "Tapi kalian harus mengikuti instruksiku."
"Apapun, Camel. Asal bisa mengalahkan hewan busuk itu," tukas Klum, dan disetujui oleh kedua temannya yang lain.
Camel sudah memiliki cara untuk mengatasi asap beracun. Walau cara itu berhasil, belum tentu bisa menaklukkan kukang raksasa. Sebab kukang raksasa adalah salah satu hewan magis liar yang kekuatannya sebanding dengan Chime. Ia memiliki kekuatan yang unik dan sulit ditaklukkan. Asap beracun menyebar luas. Beruntung, Camel dan kawan-kawan berada di luar jangkauan asap. Akan tetapi di sisi lain, mereka juga tidak bisa menyentuh kukang raksasa jika asap belum berhasil dienyahkan.
"Asapku memang tidak bisa menjangkau kalian, tetapi sebentar lagi radiusnya akan meluas!" Kukang raksasa memutar ekor—seperti kincir—menyebarkan asap kian meluas.
"Kita harus menemukan cara mengenyahkan asap itu, sebelum menjangkau kita." Klum berkata, khawatir.
"Bagaimana kalau menyerangnya dari jauh dengan bola energi?" tanya Mirel.
"Tidak mungkin. Radius asap terlalu luas, melebihi jangkauan bola energi," terang Leon.
"Apakah Carnell Shield bisa melindungi kita dari asap?"
"Carnell Shield hanya sanggup melindungi tiga orang. Jadi—"
"Salah satu dari kita tidak terlindungi," sergah Mirel.
"Aku akan melindungi kalian, dengan Carnell Shield." Leon berkata.
"Jangan bodoh, Leon. Itu artinya kamu tidak terlindungi. Roda-roda gigimu dan mesinmu akan diloputi asap hingga membuatnya tidak berfungsi," ucap Klum, lantas menoleh pada Camel. "Tadi kamu mengatakan memiliki siasat untuk mengenyahkan asap beracun, Camel."
Camel mengangguk. "Caranya dengan membuat pusaran untuk menyedot asap. Pusaran dihasilkan dari gerakan berputar, dan di antara kita, hanya Klum yang memiliki kekuatan itu. Apalagi dengan bantuan Mirel, kecepatan berputar Klum akan bertambah, sehingga dapat membuat pusara yang lebih besar. Sementara itu, aku dan Salju akan menyerangnya."
"Ide bagus. Berarti Carnell Shield-ku hanya melindungi kita bertiga?"
"Iya. Kurasa Mirel dapat tetap berada di luar radius asap, sambil membantu Klum. Bukan begitu, Mirel?"
Mirel mengangguk. "Benar."
"Ayo kita mulai!" Klum memutar tubuhnya.
Mirel memindahkan bobot tubuh Klum, sehingga dengan tubuh yang ringan, kecepatan berputar Klum kian bertambah.
"Cepat keluarkan Carnell Shield!" Camel berseru dari atas punggung Leon.
"Carnell Shield!" Leon melancarkan magisnya, sembari melesat ke arah kukang raksasa.
Putaran Klum berhasil memunculkan pusara yang lama-kelamaan semakin membesar. Asap beracun pun tersedot ke dalam pusaran.
Kukang raksasa terkejut. "A-apa!"
Belum habis keterkejutannya, Camel dan Leon sudah berada di hadapannya. "Kukang busuk! Rasakan Ballistic Carnell!"
Boom!
Impak energi integrasi tersebut mengguncang sekeliling, menyebabkan debu memenuhi udara. Kukang raksasa pun tak terhindar dari kedahsyatan Ballistic Carnell. Seluruh tubuhnya diselimuti api, hingga perlahan-lahan menyublim menjadi uap.
Camel dan kawan-kawan saling bertukar pandang.
"Selesai?" tanya Klum, masih terengah-engah.
"Sepertinya begitu." Mirel menjawab.
Tak lama kemudian, muncul pusaran di tengah-tengah ruangan.
"Pusara apa itu?" tanya Camel.
"Itu adalah jalan keluar labirin." Klum menjawab.
"Ayo, teman-teman." Mirel melangkah masuk ke dalam pusaran.
Camel menghela napas, lega. "Mirel benar. Labirin benar-benar menguras energiku. Rasanya aku ingin segera beristirahat."
"Kalau begitu, mari kita tinggalkan tempat ini."
Ketiganya pun menyusul Mirel, masuk ke dalam pusaran yang membawa mereka ke garis mula labirin. Setibanya di sana, Dim menyambut kedatangan mereka. Senyum mengembang di wajahnya yang oval.
"Bagus, kalian sudah melewati Labirin dengan baik. Perlu kalian ketahui, aku baru dihubungi Kolonel Beef," tukas Dim.
"Kolonel Beef?" Mirel dan Camel bertukar pandang.
Dim mengangguk. "Ia meminta aku untuk menyampaikan perintahnya."
"Ah, aku selalu senang kalau mendapat tugas dari Kolonel Beef," celetuk Camel.
Mirel mengangguk setuju. "Ia selalu memberi tugas-tugas yang menarik dan memacu adrenalin. Tapi tugas apa yang ia berikan sekarang?"
Dim tersenyum. "Kebetulan kalian berlatih simulasi di dalam hutan. Karena untuk ke tempat tujuan kalian, Kolonel Beef meminta agar kalian melewati hutan labirin yang sebenarnya."
"Belgia?" tanya Camel, antusias.
Dim mengangguk, membenarkan. "Iya."
"Kapan kami harus berangkat? Dan apa tugas kami?" tanya Mirel, tampak tidak sabar.
"Tugas kalian akan dijelaskan setelah sampai di Kota Ath. Dan kalian harus berangkat saat ini juga," ujar Dim.
Camel dan Mirel tersenyum lebar. Mereka sudah tidak sabar untuk bertarung. Ya, kedua orang itu memang maniak bertarung. Waktu senggang pun diiisi dalam pertarungan simulasi seperti tadi.
***